Showing posts with label PEMIKIRAN. Show all posts
Showing posts with label PEMIKIRAN. Show all posts

Monday, December 30, 2024

Mengenang Cinta...

Tidak ada sesuatu yang pas untuk mendefinisikan apa itu cinta. Banyak definisi, tetapi menurut saya, tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskannya. Mungkin cinta bisa saya didefinisikan secara sederhana sebagai perasaan yang muncul karena reaksi kimiawi tubuh menyebabkan perbedaan hormonal yang berujung kepada perasaan yang semakin lama semakin menguat yang membuat perilaku seseorang menjadi berbeda dari biasanya. kondisi paling parah adalah ketika orang itu mengalami kondisi kegilaan yang didahului dengan obsesi, dan membuat orang tersebut melakukan tindakan yang tidak rasional.

Hebatnya lagi, keajaiban cinta dirayakan secara khusus. Sejak tahun 496 Masehi, ketika Paus Gelasius I menetapkan bahwa tanggal 14 Februari adalah pesta Santo Valentine, sejak saat itulah muncul tradisi untuk saling bertukar bingkisan, bunga, atau kartu ucapan untuk menunjukkan ekspresi cinta antar kekasih, atau antara anak dan orang tuanya, dan sebagainya. Hanya saja, dalam perkembangannya, momen yang sebenarnya digunakan untuk merayakan cinta kasih ini, tidak mendapatkan dukungan dari segala pihak. Di India misalnya, kelompok Hindu fundamentalis Shiv Sena akan melakukan sweeping terhadap pasangan yang kedapatan berduaan atau sekedar bergandengan tangan, dan kemudian menikahkan mereka di tempat. Di Arab Saudi, dengan anggapan bahwa hal itu adalah perayaan Kristiani, pemerintah Saudi melarang penjualan benda-benda yang melambangkan perayaan Valentine. Di Pakistan juga sama, dengan anggapan Valentine adalah "a shameful day. The people in the West are just fulfilling and satisfying their sex thirst". (en.wikipedia.org/wiki/Valentine's_Day) Valentine's Day pun dikotori oleh peristiwa pembantaian oleh anggota geng Al Capone terhadap 5 orang anggota geng Bugs Moran dan 2 non-anggota di 2122 North Clark Street, Lincoln Park, Chicago (en.wikipedia.org/wiki/Saint_Valentine's_Day_massacre). Peristiwa yang lebih dikenal sebagai Black Valentine itu merupakan peristiwa berdarah paling diingat sepanjang masa, karena bukan saja kekejaman yang terjadi di dalamnya, namun juga karena kejadiannya bertepatan dengan hari Valentine tersebut.

Cinta memang menjadi sebuah hal yang aneh untuk dibicarakan, bahkan dinyanyikan. Kebanyakan lagu-lagu yang beredar di masyarakat, baik itu lagu Indonesia maupun lagu-lagu mancanegara, semuanya berbicara mengenai cinta. Banyak juga novel-novel, karya sastra, puisi, dan sebagainya berbicara mengenai cinta. Begitu berartinya cinta dalam hidup manusia?

Mungkin saja. Mungkin tidak ada hal sekuat cinta yang bisa dialami oleh manusia. Cinta mungkin mengatasi kejahatan dan kebatilan. Lord Voldemort takluk karena cinta ibu Harry Potter melindunginya dari Kutukan Maut. Sailor Moon pun selalu berteriak lantang sebelum menghadapi lawan-lawannya,"Demi cinta dan keadilan, Sailor Moon!" Bahkan Ti Pat Kai pun selalu mengulang kata-kata yang sama,"Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir." menunjukkan bagaimana berartinya (atau dalam kasus Pat Kai, "beratnya") cinta itu jika dirasakan oleh manusia.

Kisah-kisah cinta klasik pun sebenarnya menunjukkan bahwa cinta bisa merubah jalur hidup seseorang. Taruhlah seperti yang dilakukan oleh Romeo dan Juliet. Demi cintanya, mereka rela untuk melakukan apa saja untuk bersatu. Sayang, tragedi memisahkan mereka. Jika saja Romeo tidak menenggak racun yang membuat Juliet mengakhiri hidupnya dengan menusuk dadanya dengan pisau, bisa jadi persatuan cinta keduanya akan membuat perseteruan antara Montague dan Capulet berakhir. Cinta yang terburu-buru, tidak rasional, dan penuh emosi malah akan berbalik dan menyengsarakan orang yang mengalaminya.

Banyak kejadian yang sama dengan Romeo dan Juliet. Karena perbedaan-perbedaan tertentu, cinta yang seharusnya bisa menjadi persatuan antara dua orang, malah menjadi masalah. Entah itu perbedaan kelompok, atau perbedaan agama, atau suku, atau apapun itu. Dan terkadang penyelesaiannya tidak rasional. Saya jadi teringat kisah nyata yang saya baca di Majalah Femina bertahun-tahun lalu mengenai dua orang pasangan yang menenggak racun karena tidak direstui orang tuanya. Tentu kita tidak pernah menginginkan hal yang sama terjadi, tetapi tidak ada yang pernah tahu, karena sekali lagi, cinta itu ajaib. Dia mampu memaksa manusia bertindak tidak rasional, karena manusia yang sedang dimabuk asmara, bahkan hal yang tidak rasional sekalipun mereka anggap rasional. For love, we'll do anything...

Masih banyak yang bisa dilakukan untuk mengenang cinta, termasuk dengan merayakan hari Valentine. Namun jangan lupa juga, dibalik kegembiraan cinta, mengintai dari sudut gelap, kesakitan dan ketakutan, kegalauan dan kegundahan. Seperti kata pepatah: Cinta adalah perangkap, ketika ia datang kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya....

Selamat Valentine bagi Anda yang merayakannya.

Tuesday, August 28, 2012

Sekedar Ingin Nulis Saja



Saya sedikit memikirkan hal-hal yang tidak penting akhir-akhir ini. Dengan banyaknya waktu yang saya punya sekarang, sungguh menyenangkan masih bisa memiliki pemikiran sendiri. Bayangkan jika saya kemudian sudah bekerja dan memiliki penghasilan, fokus saya akan berada pada jalur tersebut, dan terkadang itu mematikan pemikiran kita.

                Oke, bukan apa-apa. Hari ini saya mau bercerita mengenai sebuah hal yang tidak terlepas dari akibat terlalu banyak membaca buku-bukunya Ajahn Brahm. Biksu senior di Perth, Australia, itu telah meracuni pemikiran saya dalam memandang kehidupan, khususnya pada titik-titik yang mungkin sedikit vital bagi kebanyakan orang. Ajahn Brahm mengajari bagaimana orang seharusnya melepaskan apa yang ada, memberikan perhatian kepada masa kini alih-alih terus-menerus terjebak dalam pusaran masa lalu dan ketidakpastian masa depan. Ajaran Buddha yang menjadi titik persemaian pemikiran Ajahm Brahm itu sungguh luar biasa, dan terkadang menentang gagasan yang telah ada dalam masyarakat kita ini. Seperti contoh mengenai pengorbanan diri untuk orang lain, Brahm menentang gagasan tersebut. “Kenapa kita selalu berpendapat bahwa mengorbankan diri sendiri untuk orang lain di masyarakat itu adalah perbuatan yang mulia? Berarti Anda tidak mencintai diri sendiri, dong.” (dikutip dengan perubahan dari Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, nomer 2 kalau gak salah, males buka referensi). Atau bagaimana dia menentang gagasan bahwa orang yang bunuh diri akan langsung masuk neraka. Bukankah bunuh diri hanyalah salah satu dosa saja? Apakah dengan satu perbuatan, semua perbuatan baik yang telah dilakukan semasa hidup hilang begitu saja? Brahm jelas tidak mendukung bunuh diri, tetapi dia tidak menyetujui bagaimana masyarakat seakan-akan menghakimi seseorang dari satu tindakan saja.

                Terkadang bila Anda terjun dan melihat kepada persepsi yang dibangun oleh masyarakat mengenai kehidupannya, baik itu lewat budaya, bahasa, agama, dan sebagainya, kita akan melihat sebuah pola yang mungkin sama di belahan dunia manapun. Saya rasa lebih dari tiga perempat orang di dunia ini menggunakan pola yang sama dalam hidupnya: lahir, bersekolah, kerja, menikah, memiliki anak, tua, mati (urutannya bisa dirubah sesuai keadaan yang bersangkutan, termasuk dengan menghilangkan beberapa bagian dari situ). Kebanyakan orang beranggapan bahwa itulah hidup. Kitab-kitab suci dari beberapa agama pun memberikan syarat seperti itu, tentunya dengan batasan dan aturan yang sedikit berbeda satu sama lain, tetapi polanya tetap sama. Begitu jarangnya ada pola yang berbeda dari hal tersebut di atas, apalagi jika mengingat betapa kapitalisnya dunia dewasa ini.

                Itu artinya, hidup telah berada dalam tataran yang boleh dibilang pada saat ini, ngetopnya adalah mainstream. Pola itu diulang terus dari generasi ke generasi sampai kepada kita pada saat ini. Orang harus berpendidikan tinggi, orang harus sukses, orang harus memiliki banyak uang dan harta, sehingga status seseorang kemudian dibedakan atas hal-hal tersebut. Mau bilang bahwa setiap manusia itu sama kedudukannya di hadapan Tuhan? Iya, tetapi kedudukan manusia di hadapan manusia yang lain didasarkan atas hal-hal yang tersebut di atas, dan boleh percaya atau tidak, kita semua memang tidak akan pernah menjadi makhluk sosialis seperti cita-cita Marx.

                Pola mainstream itu jelas tidak berlaku bagi orang-orang seperti Ajahn Brahm itu. Para biksu bahkan tidak diperbolehkan untuk memiliki uang. Sekedar menyetir mobil pun mereka tidak boleh. Alhasil, jika nantinya terjadi zombie appocalipse, saya takut biksu adalah golongan yang paling cepat menjadi zombie. Para biksu ini benar-benar seperti sirna ilang kertaning bumi, hilang ditelan bumi. Mereka tidak memiliki tabungan, penghasilan, dan sebagainya. Ketidak-mainstream­-an mereka ini mungkin bagi banyak orang sama sekali tidak masuk akal. Secara jenaka pun Ajahn Brahm berkata, jika ingin mendapatkan konsultasi gratis, datanglah kepada para biksu, karena mereka hanya makan satu kali sehari, dan gratis.

                Hal yang sama mungkin juga terjadi di kalangan pemuka agama yang lain. Seperti contohnya, misalnya, saya kenal dengan seorang romo, namanya Romo Harto. Romo Harto ini benar-benar romo yang sudah kepayahan. Dia mengalami yang namanya syaraf kejepit, dan pada akhirnya membuat tubuhnya bergerak sendiri tanpa terkontrol. Makin lama keadaannya makin parah, namun umatnya (termasuk saya) tetap saja merepotkan dirinya dengan masalah-masalah yang diderita oleh mereka, termasuk masalah perkawinan. Saya pernah membayangkan romo-romo ini yang dicurhati oleh umatnya mengenai perkawinan, pasti sekali dua kali pernah ingin bilang “Oh God Why. Gua kan belum pernah kawin, dan elu datang ke sini pingin curhat soal pernikahanmu yang ambyar.” Sebenarnya kasihan juga melihat para biksu atau romo yang seperti ini nasibnya, tetapi mau bagaimana lagi.

                Begitu tidak-mainstream-nya para pemuka agama ini dalam menjalani kehidupannya, mereka malah memberikan alternatif bagi kehidupan itu sendiri. Bahkan banyak orang yang bukan pemuka agama sekalipun, tidak jarang menjalani hidup begitu berbeda dengan orang kebanyakan. Mereka akhirnya memandang dunia ini dengan sangat berbeda dari kebanyakan orang, terkadang memang tidak masuk akal mungkin, tetapi mereka tampak fine-fine saja dengan semua itu.

                Hidup akhirnya menghasilkan masyarakat yang tidak hidup mengikuti pola yang “telah diatur” tersebut di atas, tetapi memberikan sebuah alternatif dalam menjalani kehidupan itu sendiri. Memang berat untuk menjadi orang yang berjalan tidak di jalur yang banyak dilalui orang, tetapi kebanyakan akan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah dilihat oleh orang banyak.

                Ada begitu banyak jalan yang ada di dalam kehidupan seorang manusia, dan jelas dia bebas untuk memilih. Hanya saja tuntutan dari banyak orang di lingkungannya, bagaimana orang-orang memandang perbuatan kita, itulah yang kemudian menyurutkan langkah kita untuk berjalan menuju arah yang berbeda. Ada orang yang berpendapat: kerja dulu, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, kemudian baru kamu bisa keliling Indonesia dengan uang tabunganmu. Beda jika ada yang berpendapat: persetan dengan semuanya, aku akan keliling Indonesia dulu, baru setelah itu aku akan kerja, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, dan kalau besok ada uang lagi, aku akan keliling Indonesia lagi, tentunya dengan modal yang sedikit lebih banyak. Saya yakin, di antara kedua orang ini, paling tidak orang yang pernah berkeliling Indonesia adalah orang kedua, karena siapa tahu kan orang pertama ketika dia belum lama menikah, kemudian meninggal tanpa pernah sempat mewujudkan cita-citanya?

                Anda boleh mengikuti kehidupan dan pemikiran-pemikiran umum yang dikecap oleh kebanyakan masyarakat, tetapi terkadang perlu juga untuk keluar dari hal-hal mainstream seperti itu. Tidak ada salahnya untuk keluar dari jalur, karena hidup hanya sekali, dan kita tidak pernah tahu kapan kita mati.

Saturday, April 7, 2012

Youngster XI

Tahun 2011-2012 ini mungkin merupakan musim yang mengharu-biru dalam dunia pesepakbolaan. Mulai dari pesta-pesta gol di Liga Premier Inggris, persaingan tiada habisnya antara Madrid-Barcelona, dan terdepaknya banyak tim-tim unggulan dari kancah Liga Champions, ada sebuah fenomena menarik mengenai para pemain senior di tubuh sebuah klub. Kita seringkali melihat bahwa pemain-pemain besar kadangkala menjadi terlalu vital untuk digantikan. Lihat saja bagaimana vitalnya Xavi di Barcelona, sehingga bahkan Fabregas pun kadangkala harus mengalah dipinggirkan. Atau bagaimana tergantungnya Internazionale terhadap Sneijder sehingga cederanya sang pemain selama beberapa waktu membuat Inter kelimpungan berada di papan tengah klasemen Serie A. Tetapi yang paling membuat shock para penggemar sepakbola adalah kembalinya sang maestro lapangan tengah United, Scholes, dari pensiunnya. Ini mungkin menandakan bahwa pemain senior (bahkan veteran) belum mampu untuk digantikan oleh juniornya, atau memang pelatih memiliki kekhawatiran bahwa keseimbangan dan kekuatan tim akan mengalami penurunan akibat terlalu dininya pelatih mengganti sang pemain senior dan membebankan tugasnya yang berat kepada juniornya.

Namun, pelatih juga harus sadar bahwa mereka harus memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk unjuk gigi dan membuktikan kemampuan mereka. Semakin tua seorang pemain, kondisi fisik jelas berpengaruh. Terkadang pemain tua tidak mampu berduel dengan kondisi fisiknya dalam menghadapi, misalnya, menu latihan pra-musim yang berat, maupun kondisi-kondisi lainnya dan juga perubahan bentuk permainan di lapangan yang selalu berubah dari masa ke masa (lihat saja rekaman-rekaman Liga Inggris dari tahun 90an dan sekarang, dan bandingkanlah). Pelatih harus mempunyai pemain muda yang mumpuni, sehingga ketika waktunya tiba untuk mengganti pemain veteran, pelatih memiliki pilihan yang cukup untuk membangun kembali timnya.

Oleh karena itu, beberapa waktu yang lalu saya mencoba untuk searching mengenai para pemain muda berbakat yang sekiranya mampu menjadi pemain-pemain hebat di kemudian hari, yang pada akhirnya akan membawa penyegaran dalam dunia sepakbola ini. Saya menyusun starting eleven untuk para youngster ini, dan inilah Youngster XI versi saya:

Keeper: David De Gea
De Gea mungkin menjadi kiper muda yang belum berpengalaman dan sering membuat blunder pada musim ini. Kemampuannya untuk mengantisipasi bola-bola lambung masih merupakan kelemahannya selama dia bermain di United. Tetapi cara dia membaca permainan dan cara dia menepis bola dan mengantisipasi shooting para pemain depan lawan merupakan sebuah kredit poin tersendiri dari kiper yang diplot untuk menjadi suksesor Edwin van der Saar ini.

Right Back: Gregory van der Wiel
Van der Wiel mungkin sudah tidak terlalu muda lagi ketika tulisan ini dibuat, tetapi bek kanan Ajax ini akan menjadi pemain besar setidaknya jika dia pindah ke tim yang lebih besar lagi karena potensinya sungguh sangat besar bagi pemain timnas Belanda yang pernah mendapatkan penghargaan Dutch Young Player of the Years di musim 2009-2010 ini.

Center Back 1: Mats Julian Hummels
Hummels juga mungkin sudah tidak lagi muda untuk ukuran seorang pemain, tetapi stopper Borussia Dortmund dan juga pemain timnas Jerman ini sungguh merupakan pemain yang sangat cocok untuk menjadi suksesor Arne Friedrich dan Per Mertesacker di timnas. Tipikal orang Jerman yang besar, penuh power serta tidak mudah dijatuhkan.

Center Back 2: Philip Anthony Jones
Bek Inggris ini masih mencari performa terbaiknya musim ini. Setelah bermain bagus di awal musim bersama United, Jones melembek di paruh musim. Tetapi secara khusus dia adalah calon pemain besar di kemudian hari jika dia mampu setidaknya konsisten tiap musimnya.

Left Back: Davide Santon
Newcastle sungguh beruntung mendapatkan pemain ini. Mantan pemain Internazionale ini menunjukkan bakat alaminya untuk menjadi bek sayap. Dengan usia yang masih muda sehingga bahkan Marcelo Lippi pun terketuk untuk memainkannya di timnas senior pada usia 18 tahun, saya yakin dia akan menjadi pemain hebat di kemudian hari dan menjadi rebutan tim-tim besar.

Center Midfielder 1: Christian Eriksen
Satu lagi bakat hebat yang berasal dari Denmark. Pernah menjadi pemain paling muda dalam turnamen Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, pemain yang merumput bersama Ajax ini merupakan pemain yang pandai membaca permainan dan membangun serangan baik lewat tengah maupun dari sayap. Sebuah anugerah bagi klub manapun yang mendapatkannya.

Center Midfielder 2: Mario Gotze
Matthias Sammer sampai harus berkata "One of the best talent that we've ever had" mengenai pemain satu ini. Gotze adalah pemain yang akan membuat perbedaan di setiap pertandingan. Bisa bermain di tengah dan sebagai sayap kanan, para bek lawan harus berhati-hati dan waspada dengan pemain satu ini jika mereka tidak ingin kiper mereka memungut bola berkali-kali dari gawangnya.

Center Midfielder 3: Javi Martinez
Cobalah lewati orang ini dan rasakan takel-takelnya. Kapten timnas Spanyol U-21 di turnamen UEFA U-21 Championship di Denmark ini memiliki postur tubuh setinggi 191 cm yang membuatnya hebat dalam duel-duel udara. Untung saja Barcelona jarang memainkan bola-bola atas, karena tak mungkin bagi Lionel Messi untuk menang duel udara dengan orang satu ini.

Left Wing: Alex Oxlande-Chamberlain
Anda perlu bukti hebatnya orang ini? Lihatlah rekaman pertandingan Arsenal lawan MU tanggal 22 Januari di Emirates Stadium. Sampai-sampai Robin van Persie tampak tidak percaya ketika Oxlade-Chamberlain diganti oleh Andre Arshavin. Pergerakan dan tekniknya yang explosif membuat Oxlade-Chamberlain sangat sulit untuk dihentikan lawan kecuali dengan takel keras. Maka, berhati-hatilah anda dengan takel-takel anda, wahai para bek.

Right Wing: Eden Hazard
Anda pasti gila atau buta jika tidak mengagumi pemain Belgia dan Lille yang satu ini. Berteknik tinggi dan explosif serta kesukaannya untuk bermain di garis pinggir lapangan, bagi saya hanya Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi yang bisa menandingi teknik bermainnya saat ini. Saya tidak mau berkata banyak tentang pemain ini, search saja di Youtube, dan anda akan mengerti.

Striker: Daniel Sturridge
Jika harus memilih antara Neymar, Welbeck, dan Sturridge, bagi saya Sturridge merupakan striker muda yang terbaik untuk saat ini. Neymar belum membuktikan kemampuannya di level atas kompetisi Eropa, sedangkan permainan Welbeck masih labil. Bagi saya Sturridge mampu berbicara banyak di depan gawang bahkan jika dibandingkan dengan Drogba ataupu Torres. Berteknik tinggi, pencetak gol alami, saya yakin timnas Inggris telah menemukan the next Emile Heskey mereka.

Dan jika mereka semua bermain di satu tim? Ya, hanya Tuhan yang tahu.

Saturday, May 29, 2010

Saatnya Hentikan Kekerasan!

Bagi kelompok Kaus Merah dan militer, perseteruan antar mereka bisa diibaratkan sebagai buah simalakama. Bisa jadi memang akan ada pemenang dalam perseteruan ini, tetapi bagi sebuah bangsa, mereka sebenarnya sedang menuju kepada kekalahan.

Konflik yang terjadi di Thailand sendiri bisa dibilang sebagai lingkaran kekerasan yang tiada ujungnya. Aksi saling balas tidak terelakkan, apalagi ketika kedua pihak sama-sama tidak mau mengalah. Militer dan pemerintah Thailand sendiri beranggapan bahwa pengunjuk rasa telah melakukan hal-hal yang membahayakan keamanan nasional. Karena salah satu tugas militer adalah untuk menjaga keamanan dan karena mereka (militer) memiliki sumber daya dan peralatan untuk melakukannya, wajar bila kemudian mereka bisa menggunakan kekerasan untuk menghadapi demonstran demi mencapai stabilitas nasional.

Sedangkan bagi pengunjuk rasa, mereka harus melawan aparat akibat kesewenang-wenangan militer terhadap mereka sebagai salah satu cara untuk mempertahankan diri dan tujuan yang ingin mereka capai. Kekerasan bagi mereka adalah langkah terakhir yang terpikirkan untuk dilakukan sebagai bentuk pencapaian tujuan ini. Semakin mereka ditekan oleh militer, maka mereka pun akan membalas dengan tidak kalah ganas.

Aksi massa ini sebenarnya ingin memupus kembali munculnya kekerasan yang terjadi dalam politik Thailand. Ada tiga bentuk kekerasan yang ingin dilawan oleh rakyat, yaitu kekerasan secara langsung yang dilakukan oleh aparat terhadap demonstran yang pada akhirnya menimbulkan tindakan balasan, kekerasan struktural yang memandang pemerintahan Thailand semenjak tahun 2006 dipandang kurang demokratis karena berdiri dari peristiwa kudeta militer dan gagal dalam memenuhi tuntutan rakyat, dan juga kekerasan kultural dimana semenjak pemerintahan monarki absolut diakhiri pada tahun 1932 sampai pada tahun 2006, telah terjadi 23 kali kudeta. Rakyat, dalam hal ini kelompok Kaus Merah, sangat tidak ingin hal yang sama terjadi lagi, dan ini membuat mereka berjuang bahkan dengan cara-cara kekerasan sekalipun untuk mencapai tujuannya.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk menghentikan kekerasan ini? Tentu saja kedua pihak harus sadar bahwa kekerasan tidak akan menimbulkan apa-apa selain kemalangan dan penderitaan. Sudah saatnya para demonstran menggunakan metode nirkekerasan dalam unjuk rasanya. Gene Sharp menyebutkan ada sekitar 198 metode nirkekerasan yang bisa dipakai demonstran dalam unjuk rasa, seperti misalnya melakukan boikot, singing, sit-in, menggalang dukungan internasional, dan hal-hal lainnya tanpa terpancing untuk melakukan kekerasan. Sikap seperti ini lebih efektif untuk mencari dukungan. Jika para demonstran menampilkan wajah simpatik seperti ini, bukan tidak mungkin dukungan terhadap mereka semakin besar. Selain itu, demonstran sendiri harus tegas terhadap orang-orang yang menyusupi aksi damai mereka. Para provokator ini hanya akan merugikan tujuan perjuangan mereka dan akan membuat demonstran hanya seperti kumpulan orang-orang pembuat onar.

Militer Thailand sendiri pun harus segera menghentikan aksi kekerasan yang mereka lakukan. Wajah ganas militer yang menindas rakyat, walaupun mereka berkata bahwa mereka hanya menyerang teroris di dalam para pengunjuk rasa, akan membuat rakyat tidak lagi respek terhadap militer dan akan menyalahkan militer sebagai pihak yang harus disalahkan dalam konflik ini karena dianggap menyalahgunakan wewenangnya dengan menyerang rakyat memakai senjata yang justru notabene dibeli dari pajak rakyat.

Pada akhirnya, hanya kebesaran masing-masing pihak untuk menghentikan sengketa tersebut agar tidak semakin membesar, karena jika tidak demikian, siklus kekerasan akan tetap terjadi dan tidak akan diketahui kapan hal ini akan berakhir.

Membentengi Diri dari Penculikan

Penculikan merupakan tindakan kriminal yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Perbuatan tersebut mencederai kebebasan yang dimiliki oleh manusia, sebab dengan penculikan, korban tidak memiliki kewenangan atas dirinya dan dengan demikian hak-haknya terampas.

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab atau alasan seseorang untuk melakukan penculikan. Dari yang memang karena berencana berbuat kriminal, untuk bersenang-senang saja, atau bahkan tidak memiliki alasan khusus tertentu yang menjadi tujuannya melakukan penculikan tersebut. Penculik sendiri tidak selalu orang waras yang berbuat karena dorongan mendapatkan uang tebusan atau memang bahkan berencana melakukan human trafficking, tetapi banyak juga yang bertindak karena tidak memiliki kesadaran diri dalam perbuatannya karena didorong oleh naluri semata. Pendek kata, banyak sekali alasan yang melegitimasi seseorang melakukan penculikan tanpa harus menggeneralisasi apa alasan perbuatannya.

Tetapi mari kita lihat sisi positifnya dalam kasus-kasus penculikan yang marak terjadi di Indonesia belakangan ini, atau bahkan tahun-tahun yang lalu. Kasus penculikan menjadi semacam cambuk yang bagus untuk menyadarkan dan membuat masyarakat berpikir akan pentingnya keamanan diri sendiri. Sebuah masyarakat dan civil society yang baik akan merespon peristiwa ini dengan sebaik-baiknya agar hal yang sama tidak lagi terjadi. Pertahanan diri yang dibangun dari tingkat yang paling rendah, yaitu keluarga, akan menjadi sebuah benteng bagi setiap serangan terhadap hak asasi manusia tersebut.

Dalam keluarga, benteng harus dibangun sedemikian rupa untuk menjaga sebuah hubungan antara anak dan orang tua. Kunci yang paling penting dalam hal ini adalah komunikasi. Orang tua tidak perlu mengawasi anak-anaknya dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, tetapi cukup membangun sebuah komunikasi yang bagus dengan anak-anaknya, maka hal ini bisa meminimalisir terjadinya kejahatan tersebut. Pengawasan terhadap anak merupakan sebuah kewajiban bagi setiap orang tua, tetapi tentu saja tanpa harus mengekang anak dalam berkreasi dan belajar menghadapi kehidupan itu sendiri.

Sisi positif yang lain adalah kasus-kasus tersebut “memaksa” masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam merespon setiap perubahan zaman. Zaman yang bergerak cepat membuat masyarakat, dari desa pelosok sampai ke kota besar, membuat masyarakat menjadi lebih waspada dalam menghadapi ancaman-ancaman tertentu yang mengganggu eksistensinya. Sebuah masyarakat yang sangat komunal sangat lebih baik daripada masyarakat yang individualis karena orang-orang yang menjadi bagian dalam masyarakat tersebut akan saling menjaga satu sama lain dan menjadi benteng kedua dari tindakan-tindakan kriminalitas tersebut

Akhirnya, jika penculikan telah terjadi dan tentu saja karena memang kita tidak mampu meramalkan kapan hal tersebut terjad, peran keluarga, masyarakat, dan profesionalitas pihak yang berwenang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan kasus pelanggaran terhadap kemanusiaan ini.

Plagiarisme? Malu Ah!

Plagiarisme adalah sebuah pencurian, sebuah noda, atau mungkin dosa yang kalau bisa diibaratkan bagaikan sebuah nila yang hanya setitik, namun bisa merusak susu sebelanga dalam dunia pendidikan.

Latar belakang terjadinya plagiarisme bermacam-macam. Ada yang memang disengaja demi tujuan-tujuan atau untuk keuntungan-keuntungan tertentu, ada yang mungkin karena lupa mencantumkan sumber, mungkin ketidaktahuan mengenai cara mengutip yang baik dan benar merupakan beberapa hal yang bisa menimbulkan plagiarisme, atau malah karena kurang percaya diri terhadap kemampuannya sendiri. Tetapi jika hal seserius ini tidak segera diatasi, maka dengan segera bisa jadi mungkin plagiarisme akan membudaya seperti membudayanya korupsi.

Kita tentu tidak ingin mendengar atau membaca lagi berita mengenai pihak-pihak yang seharusnya menjunjung tinggi dan mengajarkan kejujuran terhadap anak didiknya terjadi lagi. Kasus plagiarisme yang dilakukan oleh seorang dosen berinisial AABP dari salah satu universitas di Indonesia baru-baru ini, atau beberapa kasus lainnya yang ditemukan kemudian memang mencoreng dunia pendidikan. Bukan hanya dosen, banyak juga mahasiswa yang melakukan hal ini, membuat miris banyak orang mengenai institusi pendidikan yang seharusnya menekankan kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Apa jadinya bangsa dan negara ini jika kemudian aktor-aktor pendidikannya melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji semacam itu?

            Tidak cukup rasanya jika kemudian sanksi yang diberikan kepada para pelaku plagiarisme hanya sebatas pencopotan jabatan bagi pengajar atau pemberian sanksi drop out bagi mahasiswa atau anak didik. Sanksi sosial dan sanksi hukum harus tegas menyelesaikan masalah ini, sebagai peringatan terhadap pihak-pihak lain untuk lebih berhati-hati dalam membuat karya.

Namun masalah utama yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu adalah masalah kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Plagiarisme identik dengan mencontek dan meniru sesuatu yang bukan hasil karya atau pemikirannya sendiri. Ini artinya, terdapat sebuah budaya ketidakjujuran dalam dunia pendidikan kita. Kita belum mampu untuk mengatasi masalah tersebut. Sanksi yang ada cenderung omong kosong, bahkan terkadang malah masalah ini dibiarkan terjadi. Hal ini tentu bisa berdampak di kemudian hari ketika hal tersebut dianggap sebagai hal yang biasa dilakukan dan paradigma tersebut tidak dirubah dari pola pikir kita, maka jangan kaget apabila kasus-kasus plagiarisme akan tetap muncul kembali di kemudian hari.

Pendidikan kita seharusnya menanamkan rasa malu apabila seseorang melakukan perbuatan mencontek atau plagiat karya orang lain sejak di usia dini. Hal ini bisa dimulai dengan penanaman moral bahwa mencontek itu adalah perbuatan yang tercela. Selain itu juga, harus ada produk hukum yang tegas untuk mengatur masalah plagiarisme agar minimal bisa dihindari, terutama karena mudahnya orang untuk melakukan copy paste dari tulisan orang lain. Tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan, selama kita mau berusaha melakukannya. Semoga para pelaku dunia pendidikan Indonesia kelak mampu berkata terhadap dirinya sendiri, “Plagiarisme? Malu ah!”

Skor 7-2

7-2. Angka yang seperti skor pertandingan sepakbola itu seakan-akan menunjukkan, Pansus Century adalah sebuah persaingan politik dan kepentingan, bukan sebuah kebersamaan profesional dalam mengusut kasus tersebut. Apakah demikian adanya?

Pansus dibentuk berdasarkan respon terhadap tuntutan untuk mengusut dugaan penyelewengan yang terjadi di dalam kebijakan bail out Bank Century. Tentu saja apabila Pansus Century berisikan orang-orang independen yang tidak terkait dengan partai politik tertentu, mungkin akan muncul pandangan obyektif terhadap kasus tersebut tanpa ada tendensi politis tertentu. Namun karena Pansus Century berisikan orang-orang yang berasal dari partai politik berbeda yang juga punya kepentingan berbeda pula, independensinya memang patut dipertanyakan.

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa kemudian tujuh fraksi Pansus menyatakan ada penyimpangan dalam kebijakan bail out, namun hanya dua partai, Partai Demokrat dan PKB yang berkata tidak. Demokrasi memang menghormati adanya perbedaan pendapat, namun jangan lupakan bahwa politik adalah arena yang penuh dengan kepentingan. Isu bahwa masuknya Golkar dalam golongan fraksi yang menyatakan adanya penyimpangan, bukan tidak mungkin ada hubungannya dengan permusuhan antara Aburizal Bakrie dan Sri Mulyani. PDIP, di lain pihak bertindak sebagai partai yang memilih jalan oposisi, bukan tidak mungkin juga ingin “balas dendam” karena kekalahan Megawati Soekarnoputri dalam Pemilu Presiden 2009. Partai Demokrat sebagai partai pemerintah tentu memiliki kepentingan mengamankan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebab terlepas dari benar tidaknya ada aliran dana ke tim kampanye SBY-Boediono, jika kebijakan bail out ini merupakan kebijakan yang salah dan merugikan negara, kasus ini bisa saja menyeret Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke dalam proses pemakzulan terhadap dirinya. Pendek kata, sikap fraksi-fraksi di dalam Pansus bisa jadi hanyalah tarik ulur kepentingan saja untuk mendapatkan keuntungan dan posisi dari permasalahan Bank Century ini.

Jika semua isu itu ternyata benar, kredibilitas Pansus Century memang patut dipertanyakan. Namun hal ini tentu harus menjadi dorongan bagi Pansus untuk menunjukkan bahwa dirinya bekerja untuk rakyat secara obyektif tanpa ditunggangi kepentingan-kepentingan politik sesaat yang jelas-jelas akan merugikan rakyat pada umumnya. Pansus Century harus berani mengatakan hal yang benar jika memang ada kesalahan dalam kebijakan bail out tersebut, apapun konsekuensinya.

Yang penting di sini adalah mau dibawa kemana arah Pansus Century ini selanjutnya. Pertaruhan politiknya sangat besar bagi partai-partai anggota Pansus. Jika mereka salah melangkah atau membuat keputusan, pada akhirnya masyarakatlah yang akan menilainya. Masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar politik, dan jika keputusan Pansus ataupun fraksi-fraksi di dalamnya tidak berdasarkan obyektivitas terhadap kasus ini dan hanya mementingkan golongannya saja, bukan tidak mungkin parlemen jalananlah yang nantinya akan bergerak menyelesaikan permasalahan ini.

Eksotisme Batik

Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai hasil budaya Indonesia masih harus terus diperjuangkan dan dilindungi agar tidak kembali menimbulkan permasalahan di kemudian hari, apalagi ketika negara jiran Malaysia mempersoalkan keputusan tersebut. Dengan dalih bahwa bukan hanya Indonesia saja yang memiliki batik, pihak Malaysia akan mempelajari keputusan UNESCO itu lebih lanjut.

            Hal ini menimbulkan spekulasi, akankah pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan keputusan UNESCO tersebut akan menempuh jalur atau memanfaatkan celah lain untuk mengakali pengakuan internasional tersebut demi kepentingan mereka sendiri? Hal ini harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah Indonesia di masa depan mengenai betapa pentingnya membarikade kebudayaan Indonesia dari klaim-klaim negara lain, melanjutkan usaha untuk melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia termasuk dengan mencari pengakuan dari dunia internasional terhadap khazanah budaya Indonesia, dan memetik manfaat dari budaya bangsa itu sendiri demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

            Di sisi lain, pengakuan internasional itu berdampak positif terhadap hubungan Indonesia dengan negara lain. Dengan adanya pengakuan tersebut, dunia internasional mengetahui dengan pasti bahwa produk batik merupakan milik Indonesia. Hal ini harus dimanfaatkan dengan efektif, baik dari segi ekonomi maupun dalam segi politik internasional.

            Dari segi ekonomi, pengakuan terhadap batik ini harus dibarengi dengan usaha nyata dalam industri batik yang lebih luas. Peningkatan ekspor batik ke luar negeri merupakan sebuah awal yang bagus mengingat masyarakat internasional sangat antusias dengan batik sebagai produk busana yang memiliki filosofi sangat mendalam. Industri batik harus terus didorong dan diupayakan untuk mendapatkan modal usaha yang relatif mudah agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan mendapat tempat yang lebih luas di pasaran internasional.

            Dari segi politik internasional, eksotisme batik bisa menjadi propaganda yang sangat menguntungkan bagi Indonesia, terutama dalam diplomasinya terhadap negara lain. Keberadaan batik bisa digunakan untuk menunjukkan betapa tingginya nilai budaya Indonesia, sehingga citra Indonesia di mata internasional akan dipandang sangat tinggi sehingga dengan demikian akan menguntungkan bagi pencapaian national interest atau kepentingan nasional di berbagai bidang yang lain. Soft power berbentuk kebudayaan inilah yang seharusnya lebih dikembangkan lagi untuk menandakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan berbudaya mengingat dewasa ini citra Indonesia tercoreng sebagai negara yang rawan dengan aksi kekerasan etnis, radikalisme, dan terorisme.

            Pada akhirnya, bukan hanya batik, tetapi khazanah kebudayaan Indonesia lain seperti keris, angklung, ulos, tari pendet, dan lain sebagainya harus juga diupayakan untuk mendapatkan pengakuan internasional sehingga bukan negara lain seperti Malaysia yang memetik manfaat dari keberadaan hasil budaya kita, tetapi kita sendirilah yang akan menikmati hasilnya.

Nasionalisme dan Pendidikan

Nasionalisme dan Pendidikan

oleh: Geraldus Danistya Kaloka Putra

Hari itu tanggal 17 Agustus 2009. Saat itu saya sedang bersama teman-teman saya melakukan touring menuju Puncak Ketep, Magelang, Jawa Tengah. Di dalam perjalanan tersebut, beberapa kali kami melewati lapangan-lapangan yang penuh berisi orang-orang yang mengikuti upacara bendera. Antusiasme masyarakat sangat tinggi dalam mengikuti acara tersebut. Tua muda, bahkan legiun veteran yang mengalami sendiri perang merebut kemerdekaan ikut menyemarakkan acara tersebut. Namun walaupun begitu, terbesit rasa aneh di dada ketika memandang dari kejauhan peristiwa tersebut, seakan-akan ada yang kurang dari hal tersebut, tampak ada yang hilang dari momen tersebut.

            Dulu ketika masih kecil, kebanggaan melaksanakan upacara bendera masih sangat besar. Menjadi petugas upacara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengucapkan Pancasila dengan lantang, dan menghormat kepada Merah Putih, merupakan kebanggaan tersendiri menjadi seorang Indonesia. Rasa senang dan bangga menyelimuti dada ketika mendengar bahwa Indonesia berprestasi di suatu bidang, seperti olahraga atau pendidikan, atau mampu berkiprah di dunia internasional sebagai bagian dari kewajiban kita melaksanakan politik bebas aktif. Membaca mengenai perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah saja bisa membuat bulu kuduk meremang. Inilah kebanggaan menjadi orang Indonesia!

            Lain dulu lain sekarang. Beranjak dewasa, entah mengapa apatisme mulai tumbuh dalam pikiran ini, bukan hanya saya, tetapi banyak yang merasakan tersebut. Tiap hari di koran-koran, di internet, dalam setiap tayangan-tayangan berita televisi, maupun dalam setiap diskusi di kampus, selalu memuat ragam keborokan negeri ini. Ada cerita mengenai korupsi, ada cerita mengenai tindakan melawan hukum, ada cerita tentang ketidakberanian kita membela harga diri sebagai bangsa dan negara terhadap perlakuan negeri tetangga, ada cerita mengenai mental orang Indonesia yang mau enaknya sendiri, mau ambil keuntungan sendiri, dan cerita-cerita lain mengenai kondisi Indonesia dewasa ini yang semuanya benar-benar sangat memprihatinkan. Hampir tidak ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Segala prestasi yang telah diraih dikerdilkan oleh nirprestasi yang dihasilkan. Walhasil, jangan salahkan bila rakyat menjadi semakin apatis terhadap republik ini.

            Masih adakah masa depan bagi negara ini? Tentu menjawab pertanyaan ini membutuhkan perenungan lebih dalam. Sejak kita merdeka sebagai bangsa dan negara, kita belum juga belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu untuk memperbaiki diri kita sendiri. Kita mungkin menjadi bangsa yang selalu jatuh dalam lubang yang sama. Kita bahkan terkadang malu menjadi orang Indonesia. Banyak teman saya yang berpikiran akan pindah dari negara ini dan tinggal serta bekerja di luar negeri. Kata mereka, orang Indonesia tidak pernah dihargai di negeri mereka sendiri. Tinggal di luar negeri lebih terjamin, lebih enak, lebih teratur. Berbeda dengan jika masih tinggal di Indonesia. Semuanya ribet. Korupsi telah mengakar kuat, mafia peradilan membayangi, bahkan sampai hal kecil mengenai kepatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas saja tidak ada. Lingkungan yang semakin tidak sehat untuk ditinggali karena banyaknya polusi, masalah terorisme, radikalitas, dan seabrek permasalahan lain masih saja terjadi, membuat orang menjadi malas untuk tetap tinggal di negara ini.

            Lantas apa sebenarnya akar dari semua permasalahan di Indonesia, yang mengakibatkan banyaknya penyelewengan tersebut? Apakah itulah sebenarnya mental orang Indonesia? Apakah mindset orang Indonesia memang berpikiran dangkal, mau menang sendiri, tidak ingin rugi? Apakah kita sebagai bangsa telah melupakan arti perjuangan, gotong-royong, senasib sepenanggungan, dan menggantikannya dengan individualisme dan keserakahan? Jika itu benar, lantas apa yang bisa ditawarkan sebagai solusi bagi segala permasalahan tersebut? Jawabannya adalah melalui pendidikan.

            Mengapa pendidikan menjadi penting untuk dibahas kali ini? Tentu saja harus dibuka satu persatu mengenai hal ini. Pendidikan adalah suatu proses mendidik, dalam hal ini, artian sempitnya adalah membuat orang menjadi pintar. Tetapi bukan hanya kepintaran seperti pintar Matematika, Fisika, atau sebangsanya saja yang harus diperhatikan. Oke, memang benar bahwa hal tersebut perlu untuk diperhatikan, tetapi ada proses lain yang patut diperhatikan lebih, yaitu menyangkut pertimbangan moral.

Mengapa orang Indonesia itu suka korupsi? Mengapa orang Indonesia tidak patuh pada peraturan? Atau mengapa tidak disiplin dan suka seenaknya sendiri? Jawabannya karena orang Indonesia lemah pada aspek kejujuran, empati, dan tanggung jawab! Ketiga hal inilah yang gagal diajarkan kepada rakyat Indonesia dalam sistem pendidikannya sehingga mindset orang Indonesia menjadi seperti ini sekarang, serba ingin instan dan cepat, dan terkadang curang. Pendidikan di Indonesia memang kurang sekali dalam pengembangan pola pikir yang jujur dan bertanggung jawab. Semuanya berorientasi terhadap hasil. Sistem itu kebanyakan besar hanya bertumpu kepada pengembangan otak kiri. Anak-anak hanya diajari mengenai bagaimana cara berhitung maupun menghapal, namun aspek emosional dan moral sangat kurang untuk diolah. Sangat jarang sekali ada guru yang mampu mendampingi anak didiknya sampai-sampai bisa dijadikan teman curhat atau menjadi panutan yang disayangi murid-muridnya. Bahkan terkadang guru di sekolah maupun orang tua di rumah sama sekali lupa untuk mengajarkan perkembangan pola pikir anak. Keingintahuan anak yang tinggi tidak dibarengi dengan pendampingan yang memadai, sehingga terkadang anak akan mencari tahu sendiri bahkan dari sumber yang mungkin tidak kompeten atau sembrono. Jadi jangan salahkan bila anak-anak Indonesia sudah mengenal pornografi maupun obat-obatan terlarang sejak dini gara-gara kurangnya pendampingan tersebut.

Kalau dipikir-pikir, orang itu kalau korupsi, pasti dia tidak jujur. Apalagi kalau korupsi sampai berkali-kali, berarti dia tidak terbiasa mengembangkan kejujuran dalam hidupnya, dan semuanya pasti diawali dengan pendidikan yang memang tidak mengajarkan aspek kejujuran. Sebagai contoh, anak sekolah yang terbiasa mencontek, pasti lama-lama akan mengembangkan paradigma bahwa menyontek itu menyenangkan. Menyontek bisa dibilang adalah jalan pintas, tanpa mengalami proses pembelajaran diri, anak tersebut bisa mendapatkan nilai yang bagus. Ketidakjujuran tersebut memberikan keuntungan sesaat bagi dirinya. Nah, lama-lama dia akan terbiasa untuk tidak jujur, dan hal ini akan terbawa sampai dewasa ketika dia sudah bekerja. Dalam mindset-nya, mengapa harus bekerja keras kalau bisa menggunakan jalan pintas (korupsi) untuk memperkaya diri?

Begitu pula dengan empati. Pendidikan kita kurang mengajarkan mengenai empati terhadap sesama. Pendidikan moral dan budi pekerti hanya diajarkan dalam teks-teks pelajaran di sekolah saja, namun penerapannya sama sekali hampir nol atau jika tidak bisa dibilang seperti itu, tetap saja sangat rendah. Siswa hanya bertujuan mencari nilai, bukan berusaha mengembangkan empatinya terhadap sesama. Hal ini menyebabkan degradasi moral. Bisa dibayangkan apabila anak yang sejak dini tidak memiliki rasa empati kelak menjadi pembesar atau orang yang berada di pemerintahan, bagaimana mungkin mereka mau memperhatikan nasib rakyat? Punya posisi dan jabatan, ya digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi, bukan untuk menyejahterakan rakyat. Buat apa memikirkan rakyat? Rakyat hanya dipandang sebagai angka pemilih dalam pemilu, bukan merupakan sesamanya manusia yang patut dibantu ketika mengalami kesulitan.

Tanggung jawab pun menjadi hal yang langka pula dalam kehidupan manusia Indonesia dewasa ini. Menilik kata mutiara great power have a great responsibillity, manusia Indonesia terkadang tidak memiliki great responsibillity, padahal dia memiliki great power. Bisa dibayangkan betapa berbahayanya orang seperti ini bagi bangsa kita? Tanggung jawab harus diajarkan sedini mungkin, bagaimanapun kecilnya hal tersebut.

Lantas apa yang bisa ditawarkan sebagai solusi dari permasalahan pendidikan ini? Dasar yang harus dirubah tentu saja mengenai pendidikan itu sendiri. Sejak dini anak Indonesia harus diberikan sebuah paradigma, bahwa pendidikan Indonesia haruslah mementingkan proses daripada memperoleh hasil, sehingga anak-anak usia sekolah terpacu untuk mencapai proses yang sebaik-baiknya, apapun hasilnya. Hal ini akan membiasakan anak untuk terbiasa bekerja keras untuk mencapai tujuannya, sehingga anak-anak tidak akan tergoda mencari pembenaran untuk menggunakan jalan pintas, seperti mencontek atau cara-cara curang lainnya, yang biasanya muncul akibat terlalu fokus kepada hasil dan menjadi pribadi yang tangguh dan punya rasa malu untuk melakukan hal-hal curang tersebut. Tentu ini membutuhkan pendampingan dari guru dan orang tua, sebagai orang yang berinteraksi secara langsung dengan anak.

Guru harus mengubah paradigmanya dalam membimbing anak. Guru tidak boleh menyamaratakan anak didiknya dalam satu pemikiran general, sebab antara satu anak dengan yang lain tidak sama dalam menangkap sebuah sistem yang sama. Biarkan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya tanpa harus menggurui, sehingga antara guru dan murid tercipta sebuah hubungan yang lebih bersifat seperti teman diskusi daripada hubungan antara “tuan” dan “hamba”. Bahkan lebih baik lagi jika guru bisa menjadi tempat di mana anak merasa aman. Itu artinya, anggapan bahwa guru merupakan orang tua kedua bagi anak akan menjadi kenyataan. Betapa menyenangkannya memiliki guru-guru yang perhatian dan menyenangkan, tidak malu untuk meminta maaf bila mempunyai kekurangan, dan bertindak seperti seorang teman. Ini akan menjadi sebuah revolusi bagi perkembangan anak didik dan paradigma berpikirnya, karena bukankah seorang guru dikatakan berhasil bila murid yang diasuhnya lebih pandai dan lebih hebat daripadanya?

Pendampingan moral dan ajaran mengenai kejujuran, empati, dan tanggung jawab harus terus dilakukan agar anak menjadi selalu terbiasa untuk mengembangkan hal-hal positif dalam hidupnya, perlu adanya motivasi bukan hanya dari guru saja, melainkan dari orang tua. Orang tua harus menjadi agen perubahan dalam perubahan paradigma ini. Penanaman modal kejujuran, empati, dan tanggung jawab harus dimulai dari orang tua. Sayangnya kebanyakan orang tua tidak ahli untuk melakukan hal itu, sehingga kebanyakan besar anak-anak berkembang tanpa arah dan berusaha mencari cara sendiri untuk berkembang yang terkadang tidak tepat untuknya. Ini bisa diakali dengan pengadaan pendampingan dan pelatihan untuk menjadi orang tua yang baik, bahkan saking pentingnya pelatihan ini, maka terkadang hal ini harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum para orang tua ini memiliki anak. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya salah asuhan yang nantinya bisa berakibat terhadap mental dan perkembangan anak. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendukung bakat-bakat anaknya, mendampinginya kapan pun, dan ikut belajar bersama anaknya tersebut. Bagaimana pun, dunia anak berbeda dengan dunia orang dewasa. Jangan masukkan dunia orang dewasa ke dalam pikiran anak yang sedang berkembang, tetapi pendampingan terhadap perkembangan dan kebebasan anak adalah kewajiban yang hakiki sebagai orang tua.

Langkah nyata yang mungkin bisa dilakukan, pertama-tama adalah mengubah sistem yang kejar hasil menjadi utamakan proses. Dengan demikian akan tercipta sebuah kompetisi yang sehat tanpa menjadikan hasil akhir sebagai “akhir dari segalanya”. Kedua, seperti yang sudah saya katakan di atas, harus adanya pelatihan terhadap guru dan orang tua anak. Pelatihan ini menyangkut metode dan bagaimana harusnya mendidik anak, baik di sekolah ataupun di rumah, sehingga guru dan orang tua mampu untuk bertindak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Ketiga, filterisasi terhadap hal-hal yang mengganggu tumbuh kembang anak. Terutama di sini adalah informasi yang cenderung menyesatkan. Edukasi yang benar harus dilakukan, dan janganlah anak belajar dari hal-hal yang tidak baik atau yang menjadi penghambatnya untuk maju agar tercipta sebuah pola pikir yang berparadigma baik di kemudian hari. Hal ini penting karena tidak semua informasi itu benar. Keempat, perkuat peneguhan imannya, sehingga kelak akan menjadi pribadi yang baik. Kelima, ajari anak untuk mencintai negerinya sendiri, budayanya, dan sesamanya orang Indonesia. Walaupun banyak perbedaan suku, agama, ras, tetapi kita tetap satu bangsa Indonesia, dan tidak ada yang bisa mengalahkan kita bila kita bersatu padu. Itu artinya, rasa empati dibutuhkan dalam hal ini. Perkuat empatinya, dan rasa persaudaraan akan tumbuh di antara bangsa Indonesia. Terakhir kali, biarkanlah anak untuk berkembang dengan sendirinya. Jangan mengekang anak, tetapi berikan batasan-batasan yang jelas. Tanamkan pula sedini mungkin jati dirinya sebagai orang Indonesia. Ingatkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar, dan kebesaran ini hanya bisa dipertahankan dengan pendidikan yang hebat yang diterima oleh anak tersebut.

Pendidikan merupakan kunci masa depan bangsa. Kunci bagaimana membentuk karakter bangsa yang memiliki harga diri, tangguh, tidak takut, tidak malu, dan tidak malas, berani menentukan nasibnya sendiri. Karakter yang akan menumbuhkan rasa nasionalisme dan rasa bangga sebagai orang Indonesia dengan sendirinya. Kita akan merasa malu untuk korupsi, malu untuk melanggar hukum, dan malu untuk melakukan tindakan-tindakan curang lainnya. Akhirnya akan kita temukan jawaban, apakah bangsa dan negara ini masih memiliki masa depan atau tidak. Jangan sia-siakan Merah Putih yang berkibar di setiap upacara bendera, yang selalu kita hormati di setiap kesempatan. Jangan sampai penghormatan kita hanya sia-sia karena masa depan kita sebagai bangsa suram tanpa pengharapan dan tanpa kebanggaan kepada dirinya sendiri.

(tulisan ini untuk mengikuti Lomba Tempo Institute dengan tema Nasionalisme)

Thursday, May 13, 2010

Apa yang Akan Dilakukan Tuhan?

Ini cuma fiksi, tapi ini adalah kisah favorit dari saya yang selalu saya ceritakan kepada semua orang yang menyembah Tuhan...
***

Alkisah zaman dahulu kala ketika bumi masih muda dan agama-agama besar di dunia belum muncul, tersebutlah sebuah suku di pedalaman yang jauh dari daerah manapun yang merupakan penyebaran agama, memuja dewa mereka... Dalam kehidupan mereka, mereka punya hukum yang mereka yakini berasal dari dewa mereka, dan hukum itu adalah:
1 bunuhlah musuhmu, dan kau akan mendapatkan berkah
2 habisi musuhmu dan perkosa sebanyak mungkin wanita-wanita dari musuhmu, dan kau akan masuk surga
3 jangan berikan belas kasihan kepada sesamamu
4 dsb...

Bagi mereka, apa yang dianggap jahat di masa sekarang, adalah sesuatu yang harus dilakukan demi kehormatan mereka, kehebatan, dan iman mereka. Semakin engkau melakukan segala hal tersebut, semakin engkau akan masuk surga.

Sampailah saat Tuhan menurunkan kiamat atas dunia, dan Dia menggelar pengadilan terakhir. Di depan Tuhan, di samping kanan-Nya, adalah orang-orang yang menyembah Dia, yang memujinya, yang berlaku adil dan menggenapi semua perintah-Nya, orang-orang beragama. Di samping kiri-Nya, adalah orang-orang dari suku tersebut.

Malaikat membacakan tuduhan. Kepada umat beragama, diputuskan bahwa mereka akan masuk ke dalam surga, sedangkan bagi seluruh suku tersebut, mereka akan masuk ke neraka.

Tiba-tiba terjadi kegaduhan. Semua orang suku tersebut marah. Mereka merasa diperlakukan tidak adil.

"Kenapa kami masuk neraka?" seru mereka.

"Karena kamu semua telah berbuat jahat. Kalian telah membunuh, memperkosa perempuan dan anak-anak, dan tiada belas kasih di antara kalian."

"Ini tidak adil!" kata mereka. "Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. Dewa telah menyuruh kami berbuat seperti itu untuk kehormatan kami dan kebaikan jalan hidup kami!"

"Dewa kalian tidak ada. Hanya Tuhanlah yang ada," jawab malaikat. "Tuhan dan agama-Nya serta hukum-Nyalah yang berlaku."

Salah satu dari mereka berkata, "Lantas, KENAPA TUHAN DAHULU TIDAK DATANG KEPADA KAMI?! Kenapa Dia tidak datang kepada kami, menyadarkan kami, dan mengajarkan kami agama-Nya, hukum-Nya? Kenapa Dia hanya mengajarkannya kepada orang-orang di sebelah kami itu? Kami tidak mengenal Dia sampai sekarang ini. Yang kami tahu adalah DEWA kami! Kami tidak pernah mengenal-Nya! Dan sekarang kami dipersalahkan karena tidak mematuhi hukum yang BAHKAN KAMI SENDIRI TIDAK MENGETAHUI DAN TIDAK PERNAH MENDENGARNYA!"

Para umat beragama di sisi lain berteriak lantang," Mereka harus dihukum! Jika Tuhan tidak menghukum mereka, untuk apa Tuhan ada? Tuhan tidak akan mengkhianati hukum dan perkataan-Nya sendiri, oleh karena itu mereka harus dihukum, tak peduli apa yang terjadi, mereka telah melanggar semua hukum Tuhan!"

...

Lantas, apa keputusan Tuhan?

Monday, February 15, 2010

Sinta Obong... Sebuah Pemikiran...

Ketika Rahwana telah dikalahkan, akhirnya Rama berhasil menemui istrinya, Sinta, yang ditandu kemudian menghampiri sang suami. Namun tiba-tiba Rama menepis sang istri, dan memalingkan mukanya dari wanita itu. Tak ayal, bingunglah Sinta dengan sikap sang suami.

"Perang yang getir ini tidak kujalani hanya demimu, tetapi juga karena merupakan tugasku sebagai seorang ksatria. Namun mendapatkanmu kembali tidak membuatku bahagia. Keraguan meliputi diriku," kata Rama.

Ia lantas melanjutkan,"Mana mungkin aku bisa menerimamu kembali ketika dirimu telah tidur dan tinggal di tempat orang asing?"

Kemarahan Sinta meledak. "Kau benar-benar picik, Rama! Aku diculik, tidak ada pilihan lain buatku. Suamiku ternyata lupa dengan asal usulku, dengan jati diriku, dengan diriku!"

Lantas dengan kemarahan, Sinta meminta Lesmana menyediakan api unggun baginya. Rama tidak melunak. Dia membiarkannya. Sinta, yang kemudian memantapkan langkahnya, berdoa kepada Dewata, kepada Batara Agni, "Engkau tahu kemurnian hatiku, o Dewata! Terimalah aku ke dalam pangkuanMu!"

Sinta melompat ke dalam kobaran api. Ajaib, dia selamat! Batara Agni melindunginya dari kobaran api, bahkan dewa-dewa kahyangan turut serta menolongnya. Batara Brahma pun menegur Rama,"Rama, bukankah dia Laksmimu? Mengapa engkau tidak mempercayainya?"

Akhirnya, Rama tersadar dari gelap matanya, dan kemudian dengan penuh sukacita menerima kembali Sinta di sisinya.

(disadur dengan perubahan2 dari novel Ramayana karangan C. Rajagopalachari, berdasarkan epos Ramayana karya Walmiki)

---
Jika kita melihat kepada peristiwa-peristiwa di dalam Sendratari Ramayana, mungkin kita akan melihat jalinan-jalinan adegan-adegan peperangan antara bala tentara Rama melawan bala tentara Rahwana. Perang di dalam Sendratari Ramayana tersebut tampak singkat, namun tentu saja tidak seperti itu. Perang tersebut melibatkan dua kekuatan besar, dan pastinya berdurasi panjang. Perang Troya yang terjadi antara Troya dan Yunani pun berlangsung kira-kira 10 tahun sampai dengan kejadian panglima-panglima Troya tertipu oleh tipu muslihat kuda kayu yang dibuat oleh pasukan Yunani. Bukan tidak mungkin pertempuran antara Rama dan Rahwana pun berlangsung bertahun-tahun pula. (kita memakai asumsi itu karena dalam Ramayana, terdapat ambiguisitas mengenai angka tahun. Rajagopalachari sendiri mengatakan bahwa 32.000 tahun bisa saja dimaknai sebagai hanya 32 tahun).

Itu artinya, Sinta sendiri dari saat pertama dia diculik di hutan sampai Rahwana dikalahkan di Alengka dan kemudian dia bertemu dengan Rama, pastilah telah memakan waktu bertahun-tahun. Dalam sekapan sang raja raksasa yang sakti dan tangguh selama waktu itu, apalah artinya Sinta yang kecil, lemah, yang selama hidupnya hanya diajari dengan keutamaan seorang wanita, tetapi tanpa mendapatkan bimbingan mengenai bela diri atau pertarungan? Jika begitu, masih mungkinkah Sinta tidak pernah mengalami hubungan badan dengan sang raja raksasa? Masih mungkinkah Sinta yang tidak memiliki kuasa apapun di Alengka, sanggup menahan "perkosaan" atas dirinya yang dilakukan oleh Rahwana? Bisakah Anda membayangkan selama bertahun-tahun itu Sinta selamat dari paksaan sang raja yang tentu saja tidak akan tahan melihat ada seorang wanita ayu di kerajaannya?

Hal ini pernah menjadi diskusi yang menarik beberapa waktu yang lalu. Tidak mungkin Sinta belum pernah dijamah oleh Rahwana, kata teman saya. Dia pasti mengalami perundungan seksual dari sang raja raksasa selama dia ditawan di Alengka. Dengan segala "power" yang dimiliki oleh Rahwana, tidak mungkin Sinta bisa mengelak dari nafsu sang raja. There's no hope.

Tetapi Ramayana memberikan tempat yang tinggi kepada Dewi Sinta. Para dewa melindunginya. Bahkan Batara Brahma turun dari kahyangan hanya untuk memperingatkan Rama atas kelalaiannya. Sinta berhasil membuktikan dirinya masih suci. Api yang panas itu tidak berani menyentuh sehelai rambutnya pun. Padahal secara rasional tidak mungkin Sinta masih suci. Kenapa hal ini terjadi?

Ada kata-kata menarik yang saya dapatkan dari teman saya yang pernah membaca novel Rara Mendut karangan YB Mangunwijaya. Intinya adalah dalam novel itu, seorang wanita masih suci jika dia tidak menghendaki hubungan badan atas dirinya. Walaupun mungkin sang wanita sudah tidak perawan, tetapi jika selama itu dia tidak pernah menyetujui hubungan badan yang terjadi atas dirinya, dia masih bisa dianggap perawan. Seorang wanita walaupun sudah menikah bertahun-tahun sekali pun, dia masih perawan jika dia hanya mencurahkan keinginannya itu terhadap suaminya. Walaupun mungkin saja dia melakukan dengan laki-laki lain, tapi jika hatinya tidak menghendakinya, dia masih suci.

Jika demikian, jelaslah jika kita memakai analogi tersebut untuk menjelaskan mengapa Sinta diselamatkan oleh Dewata. Sinta, walaupun mungkin dia sudah berkali-kali dilecehkan dan diperkosa oleh Rahwana, jika dia tetap fokus setia kepada Rama, jika dia tidak mengizinkan hal itu terjadi, jika dia melawan dan tidak menikmatinya, jika dia selalu mengharapkan sang suami, jika dia tidak pernah berhenti memikirkan sang suami, dia tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Dia masih suci ketika hatinya tidak membiarkan hal itu.

Namun jika dia menginginkannya, atau menikmatinya, dia pun dipersalahkan, jatuhlah dia ke dalam dosa.

Kesucian seorang wanita tidak terletak apakah dia masih perawan atau tidak, tetapi dilihat dari usahanya untuk mempertahankannya. Kesucian seorang wanita itu berada di hati dan jiwanya. Jika hatinya suci dan murni, dia akan tetap perawan, seumur hidupnya, apapun yang terjadi. Dan Sinta telah membuktikan, bagaimanapun, kesucian hatinya tetap dia jaga hanya untuk suaminya. Itulah mengapa dia diselamatkan. Dan itulah mengapa Rama meminta maaf kepada istrinya sebagai salah satu keutamaannya sebagai seorang ksatria, dan menerima Sinta kembali di sisinya.

(12 Februari 2010)

Thursday, February 11, 2010

Mari Kita Berandai-andai...

1 Andai Noordin M Top tidak membom Ritz Chalton dan JW Marriotts, rakyat Indonesia pasti akan menyaksikan timnas Indonesia dibantai 10-0 tanpa balas oleh para punggawa-punggawa Manchester United. Mungkin asumsi yang berlebihan, tetapi lawan Laos saja kalah 0-2, bisa apa Indonesia lawan MU?

2 Andai World Trade Center tidak dikamikaze oleh teroris, mungkin saja jutaan warga Afghanistan, Irak, dan tentara Amerika yang tewas, saat ini masih menghembuskan nafasnya di dunia ini, dan gelombang kekerasan di kedua negara tersebut tidak akan terjadi seperti sekarang ini.

3 Andai Uni Soviet tidak runtuh, dan Tembok Berlin masih tegak sampai sekarang, mungkin kita akan menyaksikan Michael Ballack dan Oliver Kahn saling berjibaku satu sama lain dengan panji Jerman Timur dan Jerman Barat. Selain itu pula, mungkin saja kita akan menyaksikan perang nuklir yang benar-benar terjadi antara Soviet dan AS semenjak bertahun-tahun yang lalu, dan Marxisme masih relevan untuk menjelaskan hal ini.

4 Andai Peristiwa 30 September 1965 (PKI) tidak terjadi, beberapa korban mungkin masih hidup hingga saat ini, Ade Irma Suryani pasti sudah berkeluarga dan mungkin sudah punya cucu, mungkin Soekarno menjadi Presiden Seumur Hidup, Presiden Kedua Indonesia bukanlah Soeharto, namun bisa jadi malah Megawati Soekarnoputri, dan Indonesia mungkin akan memiliki senjata nuklir yang dipinjamkan dari Uni Soviet dan memiliki program antariksanya sendiri, dan Timor Timur tidak pernah masuk ke dalam wilayah Indonesia, serta tidak akan pernah ada yang namanya Freeport Mining Corp di Papua.

5 Andai insiden Krisis Misil Kuba benar-benar membuahkan perang terbuka antara Soviet dan AS, boleh jadi Indonesia yang akan tampil menjadi kekuatan adidaya, ketika kehancuran total terjadi antara kedua adidaya tersebut.

6 Andai Perang Dunia II tidak pernah terjadi, mungkin kita akan menyaksikan Hitler dan Trumann sedang duduk ngopi bareng, dengan Stalin dan Hirohito berdiri di belakangnya mengagumi lukisan Picasso sambil tertawa-tawa mengejek gambar abstrak tersebut.

7 Andai Jepang tidak pernah dibom atom, Hiroshima dan Nagasaki tidak akan pernah hancur lebur, dan mungkin Indonesia masih akan dijajah oleh Jepang hingga beberapa tahun kemudian.

8 Andai Hitler tidak berbuat bodoh dengan mendeklarasikan perang melawan AS dan Soviet pada saat yang bersamaan, mungkin saja Jerman akan mampu mengatasi perlawanan Soviet di Stalingrad, dan kemudian memenangkan pertempuran lawan AS dalam D-Day.

9 Andai Jerman memenangkan semua pertempuran di front Eropa dan Afrika, mengalahkan Soviet di front Timur, bisa jadi kemudian Amerika Serikat akan mendapatkan serangan, dan pertempuran akan terjadi di dekat Patung Liberty, di Philadelphia, dan mungkin Harvard University mengalami kehancuran akibat bom napalm angkatan perang Jerman.

10 Andai Jerman memenangkan Perang Dunia II, bukan cuma Yahudi yang akan hilang dari muka bumi ini, namun juga ras-ras bangsa lainnya. dan 300 tahun kemudian, mengutip sedikit novel The Zahir karya Paulo Coelho, Tokyo dan Jakarta mungkin sudah didiami oleh manusia-manusia dengan perawakan putih dan pirang dengan mata birunya, dan segala hal mengenai sejarah umat manusia akan digantikan dengan kebohongan publik bahwa Adam dan Hawa adalah orang Jerman, dan hanya ada satu ras yang ada di bumi ini, ras Arya, dan tidak ada ras lain selain itu.

11 Andai Belanda/VOC tidak pernah menjajah Nusantara, tidak akan pernah berdiri negara Indonesia, yang ada akan muncul negara-negara seperti Negara Jawa, Republik Pasundan, Federasi Sumatera, Federasi Borneo, Monarki Tidore, dan Konfederasi Papua.

12 Andai Diponegoro tidak pernah tertangkap Belanda, mungkin Indonesia (atau Jawa) sudah merdeka dari dulu.

13 Andai Hassanuddin tidak pernah menyerah kalah dalam perang, tidak akan ada perjanjian Bongaya, dan mungkin Makassar tidak akan pernah dijajah Belanda.

14 Andai tidak lahir orang-orang seperti Newton, Einstein, Riemman, Gauss, von Braunn, Goddart, dan imajinasi Jules Verne, manusia mungkin masih akan berangan-angan untuk berjalan-jalan di bulan sampai sekarang.

15 Andai Edison tidak pernah menemukan lampu, mungkin sekarang kita sedang membaca buku World Politics dengan lilin dan sentir.

16 Andai Emma Watson tidak pernah menjadi Hermione Granger, mungkin saya malah akan naksir sama Luna Maya.

17 Andai saya tidak pernah dilahirkan di dunia ini, mungkin Anda tidak akan pernah membaca tulisan saya ini.


Andai...

Indonesia, Menurutku...

(Tulisan ini mungkin akan ditertawakan oleh para ahli sejarah, tetapi tidak ada salahnya mencoba... Sekali lagi, ini hanya sebuah tulisan)


Saya teringat kembali bertahun-tahun lalu ketika awal-awal menjadi mahasiswa, terjadi perdebatan di kelas Ilmu Sosial Dasar B antara teman-teman mengenai dari manakah kebudayaan awal di dunia ini berasal. Ada yang bilang, dari Eropa karena kemegahan kebudayaan Yunani dan Romawinya. Ada yang bilang, dari Cina, sebab orang Cina telah mengenal mesiu sejak 3000 tahun yang lalu. Ada yang bilang, dari Arab, karena anggapan bahwa manusia pertama berasal dari nenek moyang orang Arab (hal ini dikuatkan dari ajaran agama juga). Lantas, yang mana yang benar?

Sejenak saya mengulang kembali membaca buku karya ES ITO, Negara Kelima, dan merenungkan betapa mudah lupanya kita dengan jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Saya membayangkan gelora semangat Ito dalam mencoba mengajak kita merenungi bahwa kita jangan sampai lupa siapa kita sebenarnya, terlepas dari apakah benar mitos Atlantis yang hilang memang sejatinya pernah berdiri di Indonesia.

Lantas, apakah hal itu mungkin terjadi?

Bayangan saya, kenapa tidak? Kenapa kita tidak bisa membayangkan bahwa kebudayaan tertua di dunia, kebudayaan dan peradaban paling awal dan paling megah di dunia berasal dari Indonesia, atau bisa kita sebut sebagai Nusantara, dan itu benar adanya? Lihat saja, di belahan dunia mana selain Indonesia yang memiliki keragaman suku bangsa dan kebudayaan seperti ini banyaknya? Mengapa kita tidak bisa membayangkannya, bahwa pada awalnya kita adalah keturunan-keturunan dari orang-orang pertama yang menginjakkan kakinya di bumi ini, yang kemudian mengembangkan budayanya sehingga menjadi beranekaragam seperti ini?

Terlepas dari ajaran agama mana pun mengenai manusia pertama di dunia, saya teringat sebuah cerita rakyat dari Kalimantan yang menceritakan manusia pertama adalah orang seorang titisan dewa yang turun ke bumi dan menginjakkan kakinya pertama kali di belantara Kalimantan. Kenapa kita tidak bisa membayangkan hal itu pernah terjadi? Toh Kerajaan Kutai disebut-sebut sebagai kerajaan pertama di Nusantara. Mungkin akan ada perdebatan: bukankah Kutai baru muncul abad 4 Masehi? Sedangkan kebudayaan di Yunani sudah muncul sejak ribuan tahun sebelum Masehi, kebudayaan Asyiria, Babilonia, Akkadia pun sudah berkembang sejak 3000 tahun sebelum Masehi, begitu pula dengan kebudayaan Mesir, Persia, dan sebagainya. Apa yang dipunyai oleh Kerajaan Kutai sehingga kita bisa sombong bahwa pada awalnya segala kebudayaan dunia berawal dari Indonesia? Dalam pandangan saya, mungkin saja Kerajaan Kutai bukanlah kerajaan pertama di Nusantara, tetapi ia merupakan sebuah kebudayaan baru yang muncul akibat dari kebudayaan sebelumnya, yang mungkin telah hancur, yang berasal dari daerah lain di Nusantara.

Kenapa demikian? Indonesia merupakan daerah ring of fire, banyak bencana alam yang bisa terjadi di negeri ini sama banyaknya dengan jumlah denyut jantung manusia dalam sehari. Sama seperti Kerajaan Mataram Kuno yang sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya karena bencana letusan gunung Merapi tahun 900an Masehi, bisa jadi ada kerajaan sebelum Kutai yang juga hancur karena bencana tersebut. Kutai dianggap sebagai kerajaan pertama karena bukti-bukti keberadaannya masih ada. Hal ini didukung oleh fakta bahwa kerajaan itu berada di Pulau Kalimantan, yang merupakan daerah yang sedikit dilalui oleh ring of fire, sehingga keberadaannya aman-aman saja. Berbeda dengan apabila ada sebuah kerajaan dibangun di daerah Sumatera atau Jawa, apalagi jika kerajaan itu dibangun di dekat gunung berapi.

Mengapa ada kemungkinan bahwa kerajaan ini dibangun di dekat gunung berapi?

Awalnya saya jadi teringat dengan pelajaran sejarah mengenai migrasi manusia purba ke Nusantara. Saya teringat dengan pitecanthropus erectus yang bermigrasi dari belahan Bumi utara ke daerah hangat di Nusantara. Makhluk bungkuk yang belajar berjalan dengan kedua kaki belakangnya itu sekitar 2 juta tahun yang lalu hidup di daerah Nusantara. Selanjutnya ada varian homo (habillis, javanicus, dsb) yang menguasai dataran rendah Indonesia purba. Mereka mengembangkan kebudayaannya yang primitif dengan membuat sebuah siklus hidup yaitu berburu dan meramu makanan. Akhirnya mereka berkembang menjadi bercocok tanam, dan membuat perkakas-perkakas kuno yang mendukung perkembangan tersebut, dan berkembanglah juga kepercayaan akan animisme dan dinamisme, lalu muncul pula polytheisme.

Kepercayaan semacam itu menuntut suatu simbol yang bisa digunakan untuk menggapai Tuhan. Bayangan bahwa Tuhan ada di tempat tertinggi di langit, memaksa orang-orang kuno tersebut untuk mencari tempat tertinggi yang bisa dicapai untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Tempat tertinggi yang bisa mereka pikirkan adalah gunung. Gunung merepresentasikan sebuah tempat dimana mereka bisa dengan lebih dekat terhadap Tuhan yang berada di langit. Maka orang-orang kuno Nusantara membangun punden berundak atau Candi Borobudur sebagai representasi gunung tersebut. Sama halnya ketika orang-orang Yunani membangun kebudayaan mereka dengan anggapan bahwa Zeus dan para dewa lainnya bersemayam di gunung Olympus. Orang Maya, Aztec, dan Inca kuno membangun piramida. Orang Mesir membuat piramida. Orang Jepang menganggap bahwa Gunung Fuji adalah keramat. Dan dibangunlah kebudayaan-kebudayaan itu di dekat gunung, agar mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Celakanya, manusia-manusia purba Nusantara tersebut pastilah membangun kebudayaannya di sekitar gunung. Indonesia adalah negara dengan gunung-gunung terbanyak di dunia. Dengan keadaan gunung di Indonesia yang sangat aktif, bukan tidak mungkin kebudayaan itu dihempaskan oleh letusan gunung, yang menimbulkan gempa dan tsunami besar. Bisa kita lihat seperti ketika letusan Krakatau tahun 1883, atau bahkan letusan Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu. Gunung-gunung di Indonesia memang sungguh dahsyat dalam hal letusannya.

Hal ini tentu cocok dengan anggapan bahwa Atlantis dibangun di sebuah gunung. Peradaban itu menjadi besar di sana, namun kemudian hancur karena bencana alam yang dahsyat. Kembali ke novel Negara Kelima, dengan teori bahwa Atlantis dulunya berada di Indonesia, atau tepatnya di Gunung Krakatau yang meletus, hancurnya Atlantis membuat orang-orang Atlantis kemudian berpencar ke segala penjuru dunia. Dan untuk mengenang mengenai Atlantis dengan gunung sesembahannya tersebut, mereka membangun "gunung" di tempat mereka sampai. Itulah mengapa empat peradaban terbesar di dunia, India, Mesopotamia, Mesir, dan Maya mengenal piramida padahal keempatnya tidak berada dalam wilayah yang sama, dan dalam Negara Kelima disebutkan bahwa hal itu karena segalanya berasal dari Atlantis yang hancur di Nusantara.

Artinya, jika Atlantis benar-benar pernah berdiri di Indonesia, berarti sebenarnya kita merupakan keturunan dari orang-orang luar biasa yang pernah ada di dunia, awal dari segala kebudayaan di dunia. Jika demikian, masih banggakah Anda dengan Indonesia? Terlepas benar atau tidaknya Atlantis di Indonesia, setidaknya rasa bangga bahwa "saya orang Indonesia" seharusnya masih ada di hati kita. Atau jangan-jangan, kita lebih bangga sebagai (mengutip judul novel Abdoel Moeis) generasi Salah Asuhan? Kita tentu tidak ingin seperti Hanafi yang berusaha untuk membuang identitasnya sebagai orang Melayu dan ingin menjadi orang Eropa, padahal kebudayaan bangsa kita jauh melebihi budaya-budaya di belahan bumi lain.

Kita memang bukan orang China, bukan orang Romawi, bukan Yunani, bukan pula Mesir, atau Mesopotamia, atau Maya. Kita bukan orang Eropa, bukan orang Amerika, bukan orang Perancis, dan kita tidak akan pernah menjadi mereka. Karena kita mungkin saja merupakan orang-orang yang lebih besar lagi. Seperti dari lagunya John Mayer, bigger than my body, jati diri kita lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan... karena kita ini INDONESIA!

Tapi ingat, jangan sampai kita terlena, Jangan sampai kita membenarkan anggapan bahwa "Indonesia itu punya masa lalu, tapi tidak punya masa depan". Karena Indonesia, sekali lagi, haruslah bisa lebih besar dari sekarang ini.



referensi:
wikipedia.org
wacananusantara.org
indonesiaindonesia.com
acehforum.com
ES ITO, Negara Kelima.
Bacaan terkait, bacalah buku karya Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D, "Atlantis: The Lost Continent Finally Found". Saya sedang mencarinya, dan semoga dapat.

Saturday, July 25, 2009

Forum Akademia Kompas 19 Juni 2009


Jumat, 19 Juni 2009

MALAYSIA BERULAH LAGI...
Oleh G Danistya Kaloka Putra
Belum tuntas rasanya melihat kasus Manohara yang disiksa Pangeran Kelantan menghiasi layar kaca, disusul Siti Hajar, pekerja Indonesia yang disiksa majikannya, Malaysia dengan berani memprovokasi TNI Angkatan Laut di Ambalat dan menggeser patok perbatasan.
Sikap yang ditunjukkan oleh Malaysia terhadap "saudara serumpun" tidak menunjukkan mereka sebagai bangsa yang besar. Sikapnya yang merendahkan bangsa Indonesia, bukan tidak mungkin malah menunjukkan ketakutan mereka terhadap eksistensi Indonesia yang merupakan negara besar di kawasan Asia Tenggara. Karena takut tersaingi, negara Melayu itu menggertak kita.
Selain itu pula, sikap tersebut menunjukkan betapa kecilnya pemahaman Malaysia terhadap keberagaman, sesuatu yang menjadi dasar kekuatan dan kelebihan yang dimiliki bangsa Indonesia. Tanda-tanda ini juga muncul pada kehidupan berbangsa dan bernegara Malaysia itu sendiri, yakni tidak adanya pemenuhan hak-hak terhadap etnis China dan India di Malaysia, yang selalu mengalami diskriminasi dari etnis Melayu. Dalam pandangan Malaysia pun, bangsa Indonesia adalah bangsa kuli yang rendah martabatnya sehingga rasa penghormatan terhadap bangsa ini sama sekali tidak ada.
Dalam hubungan internasional, kekuatan suatu negara dapat dilihat dari power atau kekuatannya. Dikenal pula konsep hard power, sebuah konsep yang menyatukan kepentingan militer dan kepentingan ekonomi sebagai cara untuk menunjukkan power atau kekuatan sebuah negara. Malaysia pun dengan enteng memprovokasi, sebab mengetahui bahwa secara militer kita kalah jauh.
Alutsista kita ketinggalan zaman dan ada pendapat umum, tanpa perang pun pesawat-pesawat kita pasti jatuh sendiri. Sedangkan dalam hal ekonomi, kita masih kalah dengan mereka. GDP Malaysia adalah 15,300 dollar Amerika Serikat (AS) per kapita pada tahun 2008, sedangkan Indonesia hanya 3,900 dollar AS per kapita pada tahun yang sama.
Sampai di sini kita harus berpikir bagaimana sikap yang terbaik yang bisa dilakukan untuk membalas perlakuan Malaysia tersebut. Tentu tidak dilakukan dengan perang.
Dengan kondisi kekuatan TNI kita yang masih belum maksimal, terutama dalam masalah peralatan tempur, tentu diplomasi adalah salah satu cara yang bisa dipikirkan. Indonesia juga bisa menggunakan metode-metode nirkekerasan, seperti boikot produk-produk Malaysia, melakukan embargo terhadap produk-produk Malaysia, mengajak mogok kerja TKI yang ada di Malaysia, atau bahkan mungkin menarik duta besar Indonesia dari Malaysia sebagai bentuk protes.
Indonesia juga harus menguatkan kerja sama, posisi, dan peran dalam kawasan Asia Tenggara, termasuk memperkuat hubungan dengan Australia. Meningkatkan anggaran pertahanan pun merupakan salah satu solusi sebagai perbaikan kekuatan TNI sehingga Malaysia semakin lama menyadari bahwa tanpa hubungan baik dengan Indonesia, sebenarnya mereka tidak bisa apa-apa, dan mulai menganggap strategis bagaimana arti penting Indonesia bagi mereka.
G DANISTYA KALOKA PUTRA Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta