Wednesday, December 12, 2007

Pengantar Ilmu Politik: Apa Itu Politik?

Man is by nature a political animal.
(Aristoteles)

Menurut pengertiannya, politik sendiri dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk membuat, mempertahankan, dan memperbaiki aturan yang berada dalam lingkup kehidupannya. Dalam hal ini terjadilah sebuah hubungan yang terkait dengan konflik dan kerjasama antar manusia. Makna politik sendiri sangat luas, mencakup baik yang bersifat positif atau negatif. Bahkan Hannah Arendt memberikan definisi bahwa kekuatan politik adalah ‘akting dalam konser’. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa politik merupakan penggunaan kekuasaan, pembuatan keputusan secara kolektif’, dan hasil dari bentuk manipulasi. Dalam hal ini terdapat beberapa perbedaan pandangan tentang politik, yang mencakup: Politik sebagai seni pemerintahan, politik sebagai masalah publik, politik sebagai keadaan kompromi dan konsensus, politik sebagai kekuasaan dan distribusinya.

1. Politik sebagai seni pemerintahan 
            Mengambil istilah Yunani, politik secara etimologis katanya berasal dari kata polis, yaitu negara-kota atau pemerintahan kota. Athena sebagai sebuah polis terbesar telah mengembangkan demokrasi pada masa itu. David Easton memberikan pengertian bahwa politik itu sendiri merupakan sebuah keadaan dimana terjadi pengalokasian nilai-nilai yang bersifat memaksa atau mengatur, yang diakibatkan karena adanya kecenderungan pemerintahan untuk melakukan tekanan kepada rakyatnya sendiri karena mereka juga ditekan oleh rakyat mereka sendiri. Hal ini kemudian menimbulkan hal yang dinamakan dengan polity. 
          Munculnya hubungan antara politik dan masalah negara membuat politik diartikan sebagai hal yang jelek atau kotor. Politik sering dianggap sebagai kegiatan para politikus (orang yang berkecimpung dalam dunia politik). Kemudian muncul pula pandangan bahwa para politikus lebih sering dikenal sebagai para pencari kekuasaan yang menyembunyikan ambisi pribadi dalam retorika publik dan pandangan ideologisnya. Hal ini kemudian membenarkan perkataan Lord Acton bahwa, power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely.

2. Politik sebagai masalah publik 
                        Sebagai sebuah masalah publik, terdapat sebuah perbedaan antara orang politik dan orang non politik, dimana ada dua hal berbeda yang membedakan kepentingannya, yaitu menurut publik dan pribadi. Berkaca dari perkataan Aristoteles bahwa manusia adalah binatang politik, maka manusia harus berpolitik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dalam hal ini kemudian dapat dimengerti mengapa ada dua hal tersebut yang kemudian dapat dimanfaatkan aktor-aktor yang berperan di dalamnya karena politik diperbolehkan masuk ke dalam wilayah pribadi seseorang mengingat kodratnya yang tidak terlepas dari kegiatan politik.
Kemudian ada pula penggolongan menurut praktek politik dan personal. Dalam penggolongan ini, politik dilarang masuk ke dalam wilayah personal seseorang. Hanya saja, aktivitas publik ini dapat digunakan oleh semua golongan.
Pandangan-pandangan itu kemudian menyebabkan citra positif dan negatif bagi kegiatan politik. Politik dapat menjadi positif jika mengakomodasi semua orang secara setara dalam pemikiran dan tindakan untuk memperlihatkan kelebihan masing-masing. Menjadi negatif ketika ikut campur dalam personal seseorang yang mengakibatkan seseorang kehilangan jati dirinya karena tidak bertindak sesuai dengan hati nurani atau keinginannya.

3. Politik sebagai keadaan kompromi dan konsensus
Pandangan ini disebut sebagai solusi politik dengan kesadaran bahwa semuanya itu mungkin. Keadaan ini bisa menimbulkan pencegahan atau penyelesaian konflik secara damai tanpa kekerasan karena menggunakan kompromi, konsiliasi, maupun negosiasi. Konflik bisa diselesaikan dengan musyawarah, tidak dengan kekerasan. Memang, dengan kompromi tidak ada yang secara mutlak mendapatkan segalanya yang diinginkan, dan mungkin pula akan ada ketidakpuasan terhadap apa yang dia dapatkan, namun implementasi ini lebih baik daripada kemudian muncul pertikaian berkepanjangan yang memicu konflik yang lebih parah atau bahkan perang antara aktor-aktor yang berperan. Rakyat sendiri kemudianlah yang harus berusaha menghormati politik sebagai sebuah aktivitas dan salah satu faktor dalam komunitasnya yang tidak dapat dihindari.

4. Politik sebagai kekuasaan
Pandangan ini mengetengahkan bahwa politik tersebut merupakan suatu hal yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Politik masuk ke dalam kegiatan produksi, distribusi dan pemanfaatan sumber daya. Karena sejak dahulu, menurut prinsip ekonomi, kebutuhan manusia tidak terbatas, sementara alat pemenuhan kebutuhan sangat terbatas, maka politiklah yang kemudian dilihat sebagai salah satu cara untuk mengatasi hal ini.
Citra yang buruk dari pandangan ini adalah karena di sini politik merupakan sarana untuk menindas rakyat oleh penguasa. Penguasa merasa mempunyai kekuasaan untuk berlaku sewenang-wenang kepada rakyat dengan dalih bahwa hal itu untuk rakyat juga. Ada pula yang kaum feminis yang berpendapat bahwa politik bersangkutan dengan dominasi pria kepada wanita. Jadi, ketika marxisme memberikan solusi bahwa semua orang itu setara, hal ini kemudian didukung oleh para pendukung aliran feminis ini.

G. DANISTYA KALOKA PUTRA
HUBUNGAN INTERNASIONAL UGM
MATA KULIAH: PENGANTAR ILMU POLITIK

No comments: