Monday, February 15, 2010

Sinta Obong... Sebuah Pemikiran...

Ketika Rahwana telah dikalahkan, akhirnya Rama berhasil menemui istrinya, Sinta, yang ditandu kemudian menghampiri sang suami. Namun tiba-tiba Rama menepis sang istri, dan memalingkan mukanya dari wanita itu. Tak ayal, bingunglah Sinta dengan sikap sang suami.

"Perang yang getir ini tidak kujalani hanya demimu, tetapi juga karena merupakan tugasku sebagai seorang ksatria. Namun mendapatkanmu kembali tidak membuatku bahagia. Keraguan meliputi diriku," kata Rama.

Ia lantas melanjutkan,"Mana mungkin aku bisa menerimamu kembali ketika dirimu telah tidur dan tinggal di tempat orang asing?"

Kemarahan Sinta meledak. "Kau benar-benar picik, Rama! Aku diculik, tidak ada pilihan lain buatku. Suamiku ternyata lupa dengan asal usulku, dengan jati diriku, dengan diriku!"

Lantas dengan kemarahan, Sinta meminta Lesmana menyediakan api unggun baginya. Rama tidak melunak. Dia membiarkannya. Sinta, yang kemudian memantapkan langkahnya, berdoa kepada Dewata, kepada Batara Agni, "Engkau tahu kemurnian hatiku, o Dewata! Terimalah aku ke dalam pangkuanMu!"

Sinta melompat ke dalam kobaran api. Ajaib, dia selamat! Batara Agni melindunginya dari kobaran api, bahkan dewa-dewa kahyangan turut serta menolongnya. Batara Brahma pun menegur Rama,"Rama, bukankah dia Laksmimu? Mengapa engkau tidak mempercayainya?"

Akhirnya, Rama tersadar dari gelap matanya, dan kemudian dengan penuh sukacita menerima kembali Sinta di sisinya.

(disadur dengan perubahan2 dari novel Ramayana karangan C. Rajagopalachari, berdasarkan epos Ramayana karya Walmiki)

---
Jika kita melihat kepada peristiwa-peristiwa di dalam Sendratari Ramayana, mungkin kita akan melihat jalinan-jalinan adegan-adegan peperangan antara bala tentara Rama melawan bala tentara Rahwana. Perang di dalam Sendratari Ramayana tersebut tampak singkat, namun tentu saja tidak seperti itu. Perang tersebut melibatkan dua kekuatan besar, dan pastinya berdurasi panjang. Perang Troya yang terjadi antara Troya dan Yunani pun berlangsung kira-kira 10 tahun sampai dengan kejadian panglima-panglima Troya tertipu oleh tipu muslihat kuda kayu yang dibuat oleh pasukan Yunani. Bukan tidak mungkin pertempuran antara Rama dan Rahwana pun berlangsung bertahun-tahun pula. (kita memakai asumsi itu karena dalam Ramayana, terdapat ambiguisitas mengenai angka tahun. Rajagopalachari sendiri mengatakan bahwa 32.000 tahun bisa saja dimaknai sebagai hanya 32 tahun).

Itu artinya, Sinta sendiri dari saat pertama dia diculik di hutan sampai Rahwana dikalahkan di Alengka dan kemudian dia bertemu dengan Rama, pastilah telah memakan waktu bertahun-tahun. Dalam sekapan sang raja raksasa yang sakti dan tangguh selama waktu itu, apalah artinya Sinta yang kecil, lemah, yang selama hidupnya hanya diajari dengan keutamaan seorang wanita, tetapi tanpa mendapatkan bimbingan mengenai bela diri atau pertarungan? Jika begitu, masih mungkinkah Sinta tidak pernah mengalami hubungan badan dengan sang raja raksasa? Masih mungkinkah Sinta yang tidak memiliki kuasa apapun di Alengka, sanggup menahan "perkosaan" atas dirinya yang dilakukan oleh Rahwana? Bisakah Anda membayangkan selama bertahun-tahun itu Sinta selamat dari paksaan sang raja yang tentu saja tidak akan tahan melihat ada seorang wanita ayu di kerajaannya?

Hal ini pernah menjadi diskusi yang menarik beberapa waktu yang lalu. Tidak mungkin Sinta belum pernah dijamah oleh Rahwana, kata teman saya. Dia pasti mengalami perundungan seksual dari sang raja raksasa selama dia ditawan di Alengka. Dengan segala "power" yang dimiliki oleh Rahwana, tidak mungkin Sinta bisa mengelak dari nafsu sang raja. There's no hope.

Tetapi Ramayana memberikan tempat yang tinggi kepada Dewi Sinta. Para dewa melindunginya. Bahkan Batara Brahma turun dari kahyangan hanya untuk memperingatkan Rama atas kelalaiannya. Sinta berhasil membuktikan dirinya masih suci. Api yang panas itu tidak berani menyentuh sehelai rambutnya pun. Padahal secara rasional tidak mungkin Sinta masih suci. Kenapa hal ini terjadi?

Ada kata-kata menarik yang saya dapatkan dari teman saya yang pernah membaca novel Rara Mendut karangan YB Mangunwijaya. Intinya adalah dalam novel itu, seorang wanita masih suci jika dia tidak menghendaki hubungan badan atas dirinya. Walaupun mungkin sang wanita sudah tidak perawan, tetapi jika selama itu dia tidak pernah menyetujui hubungan badan yang terjadi atas dirinya, dia masih bisa dianggap perawan. Seorang wanita walaupun sudah menikah bertahun-tahun sekali pun, dia masih perawan jika dia hanya mencurahkan keinginannya itu terhadap suaminya. Walaupun mungkin saja dia melakukan dengan laki-laki lain, tapi jika hatinya tidak menghendakinya, dia masih suci.

Jika demikian, jelaslah jika kita memakai analogi tersebut untuk menjelaskan mengapa Sinta diselamatkan oleh Dewata. Sinta, walaupun mungkin dia sudah berkali-kali dilecehkan dan diperkosa oleh Rahwana, jika dia tetap fokus setia kepada Rama, jika dia tidak mengizinkan hal itu terjadi, jika dia melawan dan tidak menikmatinya, jika dia selalu mengharapkan sang suami, jika dia tidak pernah berhenti memikirkan sang suami, dia tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Dia masih suci ketika hatinya tidak membiarkan hal itu.

Namun jika dia menginginkannya, atau menikmatinya, dia pun dipersalahkan, jatuhlah dia ke dalam dosa.

Kesucian seorang wanita tidak terletak apakah dia masih perawan atau tidak, tetapi dilihat dari usahanya untuk mempertahankannya. Kesucian seorang wanita itu berada di hati dan jiwanya. Jika hatinya suci dan murni, dia akan tetap perawan, seumur hidupnya, apapun yang terjadi. Dan Sinta telah membuktikan, bagaimanapun, kesucian hatinya tetap dia jaga hanya untuk suaminya. Itulah mengapa dia diselamatkan. Dan itulah mengapa Rama meminta maaf kepada istrinya sebagai salah satu keutamaannya sebagai seorang ksatria, dan menerima Sinta kembali di sisinya.

(12 Februari 2010)

No comments: