Showing posts with label UNEK-UNEK. Show all posts
Showing posts with label UNEK-UNEK. Show all posts

Tuesday, August 28, 2012

Sekedar Ingin Nulis Saja



Saya sedikit memikirkan hal-hal yang tidak penting akhir-akhir ini. Dengan banyaknya waktu yang saya punya sekarang, sungguh menyenangkan masih bisa memiliki pemikiran sendiri. Bayangkan jika saya kemudian sudah bekerja dan memiliki penghasilan, fokus saya akan berada pada jalur tersebut, dan terkadang itu mematikan pemikiran kita.

                Oke, bukan apa-apa. Hari ini saya mau bercerita mengenai sebuah hal yang tidak terlepas dari akibat terlalu banyak membaca buku-bukunya Ajahn Brahm. Biksu senior di Perth, Australia, itu telah meracuni pemikiran saya dalam memandang kehidupan, khususnya pada titik-titik yang mungkin sedikit vital bagi kebanyakan orang. Ajahn Brahm mengajari bagaimana orang seharusnya melepaskan apa yang ada, memberikan perhatian kepada masa kini alih-alih terus-menerus terjebak dalam pusaran masa lalu dan ketidakpastian masa depan. Ajaran Buddha yang menjadi titik persemaian pemikiran Ajahm Brahm itu sungguh luar biasa, dan terkadang menentang gagasan yang telah ada dalam masyarakat kita ini. Seperti contoh mengenai pengorbanan diri untuk orang lain, Brahm menentang gagasan tersebut. “Kenapa kita selalu berpendapat bahwa mengorbankan diri sendiri untuk orang lain di masyarakat itu adalah perbuatan yang mulia? Berarti Anda tidak mencintai diri sendiri, dong.” (dikutip dengan perubahan dari Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, nomer 2 kalau gak salah, males buka referensi). Atau bagaimana dia menentang gagasan bahwa orang yang bunuh diri akan langsung masuk neraka. Bukankah bunuh diri hanyalah salah satu dosa saja? Apakah dengan satu perbuatan, semua perbuatan baik yang telah dilakukan semasa hidup hilang begitu saja? Brahm jelas tidak mendukung bunuh diri, tetapi dia tidak menyetujui bagaimana masyarakat seakan-akan menghakimi seseorang dari satu tindakan saja.

                Terkadang bila Anda terjun dan melihat kepada persepsi yang dibangun oleh masyarakat mengenai kehidupannya, baik itu lewat budaya, bahasa, agama, dan sebagainya, kita akan melihat sebuah pola yang mungkin sama di belahan dunia manapun. Saya rasa lebih dari tiga perempat orang di dunia ini menggunakan pola yang sama dalam hidupnya: lahir, bersekolah, kerja, menikah, memiliki anak, tua, mati (urutannya bisa dirubah sesuai keadaan yang bersangkutan, termasuk dengan menghilangkan beberapa bagian dari situ). Kebanyakan orang beranggapan bahwa itulah hidup. Kitab-kitab suci dari beberapa agama pun memberikan syarat seperti itu, tentunya dengan batasan dan aturan yang sedikit berbeda satu sama lain, tetapi polanya tetap sama. Begitu jarangnya ada pola yang berbeda dari hal tersebut di atas, apalagi jika mengingat betapa kapitalisnya dunia dewasa ini.

                Itu artinya, hidup telah berada dalam tataran yang boleh dibilang pada saat ini, ngetopnya adalah mainstream. Pola itu diulang terus dari generasi ke generasi sampai kepada kita pada saat ini. Orang harus berpendidikan tinggi, orang harus sukses, orang harus memiliki banyak uang dan harta, sehingga status seseorang kemudian dibedakan atas hal-hal tersebut. Mau bilang bahwa setiap manusia itu sama kedudukannya di hadapan Tuhan? Iya, tetapi kedudukan manusia di hadapan manusia yang lain didasarkan atas hal-hal yang tersebut di atas, dan boleh percaya atau tidak, kita semua memang tidak akan pernah menjadi makhluk sosialis seperti cita-cita Marx.

                Pola mainstream itu jelas tidak berlaku bagi orang-orang seperti Ajahn Brahm itu. Para biksu bahkan tidak diperbolehkan untuk memiliki uang. Sekedar menyetir mobil pun mereka tidak boleh. Alhasil, jika nantinya terjadi zombie appocalipse, saya takut biksu adalah golongan yang paling cepat menjadi zombie. Para biksu ini benar-benar seperti sirna ilang kertaning bumi, hilang ditelan bumi. Mereka tidak memiliki tabungan, penghasilan, dan sebagainya. Ketidak-mainstream­-an mereka ini mungkin bagi banyak orang sama sekali tidak masuk akal. Secara jenaka pun Ajahn Brahm berkata, jika ingin mendapatkan konsultasi gratis, datanglah kepada para biksu, karena mereka hanya makan satu kali sehari, dan gratis.

                Hal yang sama mungkin juga terjadi di kalangan pemuka agama yang lain. Seperti contohnya, misalnya, saya kenal dengan seorang romo, namanya Romo Harto. Romo Harto ini benar-benar romo yang sudah kepayahan. Dia mengalami yang namanya syaraf kejepit, dan pada akhirnya membuat tubuhnya bergerak sendiri tanpa terkontrol. Makin lama keadaannya makin parah, namun umatnya (termasuk saya) tetap saja merepotkan dirinya dengan masalah-masalah yang diderita oleh mereka, termasuk masalah perkawinan. Saya pernah membayangkan romo-romo ini yang dicurhati oleh umatnya mengenai perkawinan, pasti sekali dua kali pernah ingin bilang “Oh God Why. Gua kan belum pernah kawin, dan elu datang ke sini pingin curhat soal pernikahanmu yang ambyar.” Sebenarnya kasihan juga melihat para biksu atau romo yang seperti ini nasibnya, tetapi mau bagaimana lagi.

                Begitu tidak-mainstream-nya para pemuka agama ini dalam menjalani kehidupannya, mereka malah memberikan alternatif bagi kehidupan itu sendiri. Bahkan banyak orang yang bukan pemuka agama sekalipun, tidak jarang menjalani hidup begitu berbeda dengan orang kebanyakan. Mereka akhirnya memandang dunia ini dengan sangat berbeda dari kebanyakan orang, terkadang memang tidak masuk akal mungkin, tetapi mereka tampak fine-fine saja dengan semua itu.

                Hidup akhirnya menghasilkan masyarakat yang tidak hidup mengikuti pola yang “telah diatur” tersebut di atas, tetapi memberikan sebuah alternatif dalam menjalani kehidupan itu sendiri. Memang berat untuk menjadi orang yang berjalan tidak di jalur yang banyak dilalui orang, tetapi kebanyakan akan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah dilihat oleh orang banyak.

                Ada begitu banyak jalan yang ada di dalam kehidupan seorang manusia, dan jelas dia bebas untuk memilih. Hanya saja tuntutan dari banyak orang di lingkungannya, bagaimana orang-orang memandang perbuatan kita, itulah yang kemudian menyurutkan langkah kita untuk berjalan menuju arah yang berbeda. Ada orang yang berpendapat: kerja dulu, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, kemudian baru kamu bisa keliling Indonesia dengan uang tabunganmu. Beda jika ada yang berpendapat: persetan dengan semuanya, aku akan keliling Indonesia dulu, baru setelah itu aku akan kerja, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, dan kalau besok ada uang lagi, aku akan keliling Indonesia lagi, tentunya dengan modal yang sedikit lebih banyak. Saya yakin, di antara kedua orang ini, paling tidak orang yang pernah berkeliling Indonesia adalah orang kedua, karena siapa tahu kan orang pertama ketika dia belum lama menikah, kemudian meninggal tanpa pernah sempat mewujudkan cita-citanya?

                Anda boleh mengikuti kehidupan dan pemikiran-pemikiran umum yang dikecap oleh kebanyakan masyarakat, tetapi terkadang perlu juga untuk keluar dari hal-hal mainstream seperti itu. Tidak ada salahnya untuk keluar dari jalur, karena hidup hanya sekali, dan kita tidak pernah tahu kapan kita mati.

Saturday, May 29, 2010

Saatnya Hentikan Kekerasan!

Bagi kelompok Kaus Merah dan militer, perseteruan antar mereka bisa diibaratkan sebagai buah simalakama. Bisa jadi memang akan ada pemenang dalam perseteruan ini, tetapi bagi sebuah bangsa, mereka sebenarnya sedang menuju kepada kekalahan.

Konflik yang terjadi di Thailand sendiri bisa dibilang sebagai lingkaran kekerasan yang tiada ujungnya. Aksi saling balas tidak terelakkan, apalagi ketika kedua pihak sama-sama tidak mau mengalah. Militer dan pemerintah Thailand sendiri beranggapan bahwa pengunjuk rasa telah melakukan hal-hal yang membahayakan keamanan nasional. Karena salah satu tugas militer adalah untuk menjaga keamanan dan karena mereka (militer) memiliki sumber daya dan peralatan untuk melakukannya, wajar bila kemudian mereka bisa menggunakan kekerasan untuk menghadapi demonstran demi mencapai stabilitas nasional.

Sedangkan bagi pengunjuk rasa, mereka harus melawan aparat akibat kesewenang-wenangan militer terhadap mereka sebagai salah satu cara untuk mempertahankan diri dan tujuan yang ingin mereka capai. Kekerasan bagi mereka adalah langkah terakhir yang terpikirkan untuk dilakukan sebagai bentuk pencapaian tujuan ini. Semakin mereka ditekan oleh militer, maka mereka pun akan membalas dengan tidak kalah ganas.

Aksi massa ini sebenarnya ingin memupus kembali munculnya kekerasan yang terjadi dalam politik Thailand. Ada tiga bentuk kekerasan yang ingin dilawan oleh rakyat, yaitu kekerasan secara langsung yang dilakukan oleh aparat terhadap demonstran yang pada akhirnya menimbulkan tindakan balasan, kekerasan struktural yang memandang pemerintahan Thailand semenjak tahun 2006 dipandang kurang demokratis karena berdiri dari peristiwa kudeta militer dan gagal dalam memenuhi tuntutan rakyat, dan juga kekerasan kultural dimana semenjak pemerintahan monarki absolut diakhiri pada tahun 1932 sampai pada tahun 2006, telah terjadi 23 kali kudeta. Rakyat, dalam hal ini kelompok Kaus Merah, sangat tidak ingin hal yang sama terjadi lagi, dan ini membuat mereka berjuang bahkan dengan cara-cara kekerasan sekalipun untuk mencapai tujuannya.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk menghentikan kekerasan ini? Tentu saja kedua pihak harus sadar bahwa kekerasan tidak akan menimbulkan apa-apa selain kemalangan dan penderitaan. Sudah saatnya para demonstran menggunakan metode nirkekerasan dalam unjuk rasanya. Gene Sharp menyebutkan ada sekitar 198 metode nirkekerasan yang bisa dipakai demonstran dalam unjuk rasa, seperti misalnya melakukan boikot, singing, sit-in, menggalang dukungan internasional, dan hal-hal lainnya tanpa terpancing untuk melakukan kekerasan. Sikap seperti ini lebih efektif untuk mencari dukungan. Jika para demonstran menampilkan wajah simpatik seperti ini, bukan tidak mungkin dukungan terhadap mereka semakin besar. Selain itu, demonstran sendiri harus tegas terhadap orang-orang yang menyusupi aksi damai mereka. Para provokator ini hanya akan merugikan tujuan perjuangan mereka dan akan membuat demonstran hanya seperti kumpulan orang-orang pembuat onar.

Militer Thailand sendiri pun harus segera menghentikan aksi kekerasan yang mereka lakukan. Wajah ganas militer yang menindas rakyat, walaupun mereka berkata bahwa mereka hanya menyerang teroris di dalam para pengunjuk rasa, akan membuat rakyat tidak lagi respek terhadap militer dan akan menyalahkan militer sebagai pihak yang harus disalahkan dalam konflik ini karena dianggap menyalahgunakan wewenangnya dengan menyerang rakyat memakai senjata yang justru notabene dibeli dari pajak rakyat.

Pada akhirnya, hanya kebesaran masing-masing pihak untuk menghentikan sengketa tersebut agar tidak semakin membesar, karena jika tidak demikian, siklus kekerasan akan tetap terjadi dan tidak akan diketahui kapan hal ini akan berakhir.

Plagiarisme? Malu Ah!

Plagiarisme adalah sebuah pencurian, sebuah noda, atau mungkin dosa yang kalau bisa diibaratkan bagaikan sebuah nila yang hanya setitik, namun bisa merusak susu sebelanga dalam dunia pendidikan.

Latar belakang terjadinya plagiarisme bermacam-macam. Ada yang memang disengaja demi tujuan-tujuan atau untuk keuntungan-keuntungan tertentu, ada yang mungkin karena lupa mencantumkan sumber, mungkin ketidaktahuan mengenai cara mengutip yang baik dan benar merupakan beberapa hal yang bisa menimbulkan plagiarisme, atau malah karena kurang percaya diri terhadap kemampuannya sendiri. Tetapi jika hal seserius ini tidak segera diatasi, maka dengan segera bisa jadi mungkin plagiarisme akan membudaya seperti membudayanya korupsi.

Kita tentu tidak ingin mendengar atau membaca lagi berita mengenai pihak-pihak yang seharusnya menjunjung tinggi dan mengajarkan kejujuran terhadap anak didiknya terjadi lagi. Kasus plagiarisme yang dilakukan oleh seorang dosen berinisial AABP dari salah satu universitas di Indonesia baru-baru ini, atau beberapa kasus lainnya yang ditemukan kemudian memang mencoreng dunia pendidikan. Bukan hanya dosen, banyak juga mahasiswa yang melakukan hal ini, membuat miris banyak orang mengenai institusi pendidikan yang seharusnya menekankan kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Apa jadinya bangsa dan negara ini jika kemudian aktor-aktor pendidikannya melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji semacam itu?

            Tidak cukup rasanya jika kemudian sanksi yang diberikan kepada para pelaku plagiarisme hanya sebatas pencopotan jabatan bagi pengajar atau pemberian sanksi drop out bagi mahasiswa atau anak didik. Sanksi sosial dan sanksi hukum harus tegas menyelesaikan masalah ini, sebagai peringatan terhadap pihak-pihak lain untuk lebih berhati-hati dalam membuat karya.

Namun masalah utama yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu adalah masalah kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Plagiarisme identik dengan mencontek dan meniru sesuatu yang bukan hasil karya atau pemikirannya sendiri. Ini artinya, terdapat sebuah budaya ketidakjujuran dalam dunia pendidikan kita. Kita belum mampu untuk mengatasi masalah tersebut. Sanksi yang ada cenderung omong kosong, bahkan terkadang malah masalah ini dibiarkan terjadi. Hal ini tentu bisa berdampak di kemudian hari ketika hal tersebut dianggap sebagai hal yang biasa dilakukan dan paradigma tersebut tidak dirubah dari pola pikir kita, maka jangan kaget apabila kasus-kasus plagiarisme akan tetap muncul kembali di kemudian hari.

Pendidikan kita seharusnya menanamkan rasa malu apabila seseorang melakukan perbuatan mencontek atau plagiat karya orang lain sejak di usia dini. Hal ini bisa dimulai dengan penanaman moral bahwa mencontek itu adalah perbuatan yang tercela. Selain itu juga, harus ada produk hukum yang tegas untuk mengatur masalah plagiarisme agar minimal bisa dihindari, terutama karena mudahnya orang untuk melakukan copy paste dari tulisan orang lain. Tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan, selama kita mau berusaha melakukannya. Semoga para pelaku dunia pendidikan Indonesia kelak mampu berkata terhadap dirinya sendiri, “Plagiarisme? Malu ah!”

Monday, February 15, 2010

Sinta Obong... Sebuah Pemikiran...

Ketika Rahwana telah dikalahkan, akhirnya Rama berhasil menemui istrinya, Sinta, yang ditandu kemudian menghampiri sang suami. Namun tiba-tiba Rama menepis sang istri, dan memalingkan mukanya dari wanita itu. Tak ayal, bingunglah Sinta dengan sikap sang suami.

"Perang yang getir ini tidak kujalani hanya demimu, tetapi juga karena merupakan tugasku sebagai seorang ksatria. Namun mendapatkanmu kembali tidak membuatku bahagia. Keraguan meliputi diriku," kata Rama.

Ia lantas melanjutkan,"Mana mungkin aku bisa menerimamu kembali ketika dirimu telah tidur dan tinggal di tempat orang asing?"

Kemarahan Sinta meledak. "Kau benar-benar picik, Rama! Aku diculik, tidak ada pilihan lain buatku. Suamiku ternyata lupa dengan asal usulku, dengan jati diriku, dengan diriku!"

Lantas dengan kemarahan, Sinta meminta Lesmana menyediakan api unggun baginya. Rama tidak melunak. Dia membiarkannya. Sinta, yang kemudian memantapkan langkahnya, berdoa kepada Dewata, kepada Batara Agni, "Engkau tahu kemurnian hatiku, o Dewata! Terimalah aku ke dalam pangkuanMu!"

Sinta melompat ke dalam kobaran api. Ajaib, dia selamat! Batara Agni melindunginya dari kobaran api, bahkan dewa-dewa kahyangan turut serta menolongnya. Batara Brahma pun menegur Rama,"Rama, bukankah dia Laksmimu? Mengapa engkau tidak mempercayainya?"

Akhirnya, Rama tersadar dari gelap matanya, dan kemudian dengan penuh sukacita menerima kembali Sinta di sisinya.

(disadur dengan perubahan2 dari novel Ramayana karangan C. Rajagopalachari, berdasarkan epos Ramayana karya Walmiki)

---
Jika kita melihat kepada peristiwa-peristiwa di dalam Sendratari Ramayana, mungkin kita akan melihat jalinan-jalinan adegan-adegan peperangan antara bala tentara Rama melawan bala tentara Rahwana. Perang di dalam Sendratari Ramayana tersebut tampak singkat, namun tentu saja tidak seperti itu. Perang tersebut melibatkan dua kekuatan besar, dan pastinya berdurasi panjang. Perang Troya yang terjadi antara Troya dan Yunani pun berlangsung kira-kira 10 tahun sampai dengan kejadian panglima-panglima Troya tertipu oleh tipu muslihat kuda kayu yang dibuat oleh pasukan Yunani. Bukan tidak mungkin pertempuran antara Rama dan Rahwana pun berlangsung bertahun-tahun pula. (kita memakai asumsi itu karena dalam Ramayana, terdapat ambiguisitas mengenai angka tahun. Rajagopalachari sendiri mengatakan bahwa 32.000 tahun bisa saja dimaknai sebagai hanya 32 tahun).

Itu artinya, Sinta sendiri dari saat pertama dia diculik di hutan sampai Rahwana dikalahkan di Alengka dan kemudian dia bertemu dengan Rama, pastilah telah memakan waktu bertahun-tahun. Dalam sekapan sang raja raksasa yang sakti dan tangguh selama waktu itu, apalah artinya Sinta yang kecil, lemah, yang selama hidupnya hanya diajari dengan keutamaan seorang wanita, tetapi tanpa mendapatkan bimbingan mengenai bela diri atau pertarungan? Jika begitu, masih mungkinkah Sinta tidak pernah mengalami hubungan badan dengan sang raja raksasa? Masih mungkinkah Sinta yang tidak memiliki kuasa apapun di Alengka, sanggup menahan "perkosaan" atas dirinya yang dilakukan oleh Rahwana? Bisakah Anda membayangkan selama bertahun-tahun itu Sinta selamat dari paksaan sang raja yang tentu saja tidak akan tahan melihat ada seorang wanita ayu di kerajaannya?

Hal ini pernah menjadi diskusi yang menarik beberapa waktu yang lalu. Tidak mungkin Sinta belum pernah dijamah oleh Rahwana, kata teman saya. Dia pasti mengalami perundungan seksual dari sang raja raksasa selama dia ditawan di Alengka. Dengan segala "power" yang dimiliki oleh Rahwana, tidak mungkin Sinta bisa mengelak dari nafsu sang raja. There's no hope.

Tetapi Ramayana memberikan tempat yang tinggi kepada Dewi Sinta. Para dewa melindunginya. Bahkan Batara Brahma turun dari kahyangan hanya untuk memperingatkan Rama atas kelalaiannya. Sinta berhasil membuktikan dirinya masih suci. Api yang panas itu tidak berani menyentuh sehelai rambutnya pun. Padahal secara rasional tidak mungkin Sinta masih suci. Kenapa hal ini terjadi?

Ada kata-kata menarik yang saya dapatkan dari teman saya yang pernah membaca novel Rara Mendut karangan YB Mangunwijaya. Intinya adalah dalam novel itu, seorang wanita masih suci jika dia tidak menghendaki hubungan badan atas dirinya. Walaupun mungkin sang wanita sudah tidak perawan, tetapi jika selama itu dia tidak pernah menyetujui hubungan badan yang terjadi atas dirinya, dia masih bisa dianggap perawan. Seorang wanita walaupun sudah menikah bertahun-tahun sekali pun, dia masih perawan jika dia hanya mencurahkan keinginannya itu terhadap suaminya. Walaupun mungkin saja dia melakukan dengan laki-laki lain, tapi jika hatinya tidak menghendakinya, dia masih suci.

Jika demikian, jelaslah jika kita memakai analogi tersebut untuk menjelaskan mengapa Sinta diselamatkan oleh Dewata. Sinta, walaupun mungkin dia sudah berkali-kali dilecehkan dan diperkosa oleh Rahwana, jika dia tetap fokus setia kepada Rama, jika dia tidak mengizinkan hal itu terjadi, jika dia melawan dan tidak menikmatinya, jika dia selalu mengharapkan sang suami, jika dia tidak pernah berhenti memikirkan sang suami, dia tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Dia masih suci ketika hatinya tidak membiarkan hal itu.

Namun jika dia menginginkannya, atau menikmatinya, dia pun dipersalahkan, jatuhlah dia ke dalam dosa.

Kesucian seorang wanita tidak terletak apakah dia masih perawan atau tidak, tetapi dilihat dari usahanya untuk mempertahankannya. Kesucian seorang wanita itu berada di hati dan jiwanya. Jika hatinya suci dan murni, dia akan tetap perawan, seumur hidupnya, apapun yang terjadi. Dan Sinta telah membuktikan, bagaimanapun, kesucian hatinya tetap dia jaga hanya untuk suaminya. Itulah mengapa dia diselamatkan. Dan itulah mengapa Rama meminta maaf kepada istrinya sebagai salah satu keutamaannya sebagai seorang ksatria, dan menerima Sinta kembali di sisinya.

(12 Februari 2010)

Thursday, February 11, 2010

Mari Kita Berandai-andai...

1 Andai Noordin M Top tidak membom Ritz Chalton dan JW Marriotts, rakyat Indonesia pasti akan menyaksikan timnas Indonesia dibantai 10-0 tanpa balas oleh para punggawa-punggawa Manchester United. Mungkin asumsi yang berlebihan, tetapi lawan Laos saja kalah 0-2, bisa apa Indonesia lawan MU?

2 Andai World Trade Center tidak dikamikaze oleh teroris, mungkin saja jutaan warga Afghanistan, Irak, dan tentara Amerika yang tewas, saat ini masih menghembuskan nafasnya di dunia ini, dan gelombang kekerasan di kedua negara tersebut tidak akan terjadi seperti sekarang ini.

3 Andai Uni Soviet tidak runtuh, dan Tembok Berlin masih tegak sampai sekarang, mungkin kita akan menyaksikan Michael Ballack dan Oliver Kahn saling berjibaku satu sama lain dengan panji Jerman Timur dan Jerman Barat. Selain itu pula, mungkin saja kita akan menyaksikan perang nuklir yang benar-benar terjadi antara Soviet dan AS semenjak bertahun-tahun yang lalu, dan Marxisme masih relevan untuk menjelaskan hal ini.

4 Andai Peristiwa 30 September 1965 (PKI) tidak terjadi, beberapa korban mungkin masih hidup hingga saat ini, Ade Irma Suryani pasti sudah berkeluarga dan mungkin sudah punya cucu, mungkin Soekarno menjadi Presiden Seumur Hidup, Presiden Kedua Indonesia bukanlah Soeharto, namun bisa jadi malah Megawati Soekarnoputri, dan Indonesia mungkin akan memiliki senjata nuklir yang dipinjamkan dari Uni Soviet dan memiliki program antariksanya sendiri, dan Timor Timur tidak pernah masuk ke dalam wilayah Indonesia, serta tidak akan pernah ada yang namanya Freeport Mining Corp di Papua.

5 Andai insiden Krisis Misil Kuba benar-benar membuahkan perang terbuka antara Soviet dan AS, boleh jadi Indonesia yang akan tampil menjadi kekuatan adidaya, ketika kehancuran total terjadi antara kedua adidaya tersebut.

6 Andai Perang Dunia II tidak pernah terjadi, mungkin kita akan menyaksikan Hitler dan Trumann sedang duduk ngopi bareng, dengan Stalin dan Hirohito berdiri di belakangnya mengagumi lukisan Picasso sambil tertawa-tawa mengejek gambar abstrak tersebut.

7 Andai Jepang tidak pernah dibom atom, Hiroshima dan Nagasaki tidak akan pernah hancur lebur, dan mungkin Indonesia masih akan dijajah oleh Jepang hingga beberapa tahun kemudian.

8 Andai Hitler tidak berbuat bodoh dengan mendeklarasikan perang melawan AS dan Soviet pada saat yang bersamaan, mungkin saja Jerman akan mampu mengatasi perlawanan Soviet di Stalingrad, dan kemudian memenangkan pertempuran lawan AS dalam D-Day.

9 Andai Jerman memenangkan semua pertempuran di front Eropa dan Afrika, mengalahkan Soviet di front Timur, bisa jadi kemudian Amerika Serikat akan mendapatkan serangan, dan pertempuran akan terjadi di dekat Patung Liberty, di Philadelphia, dan mungkin Harvard University mengalami kehancuran akibat bom napalm angkatan perang Jerman.

10 Andai Jerman memenangkan Perang Dunia II, bukan cuma Yahudi yang akan hilang dari muka bumi ini, namun juga ras-ras bangsa lainnya. dan 300 tahun kemudian, mengutip sedikit novel The Zahir karya Paulo Coelho, Tokyo dan Jakarta mungkin sudah didiami oleh manusia-manusia dengan perawakan putih dan pirang dengan mata birunya, dan segala hal mengenai sejarah umat manusia akan digantikan dengan kebohongan publik bahwa Adam dan Hawa adalah orang Jerman, dan hanya ada satu ras yang ada di bumi ini, ras Arya, dan tidak ada ras lain selain itu.

11 Andai Belanda/VOC tidak pernah menjajah Nusantara, tidak akan pernah berdiri negara Indonesia, yang ada akan muncul negara-negara seperti Negara Jawa, Republik Pasundan, Federasi Sumatera, Federasi Borneo, Monarki Tidore, dan Konfederasi Papua.

12 Andai Diponegoro tidak pernah tertangkap Belanda, mungkin Indonesia (atau Jawa) sudah merdeka dari dulu.

13 Andai Hassanuddin tidak pernah menyerah kalah dalam perang, tidak akan ada perjanjian Bongaya, dan mungkin Makassar tidak akan pernah dijajah Belanda.

14 Andai tidak lahir orang-orang seperti Newton, Einstein, Riemman, Gauss, von Braunn, Goddart, dan imajinasi Jules Verne, manusia mungkin masih akan berangan-angan untuk berjalan-jalan di bulan sampai sekarang.

15 Andai Edison tidak pernah menemukan lampu, mungkin sekarang kita sedang membaca buku World Politics dengan lilin dan sentir.

16 Andai Emma Watson tidak pernah menjadi Hermione Granger, mungkin saya malah akan naksir sama Luna Maya.

17 Andai saya tidak pernah dilahirkan di dunia ini, mungkin Anda tidak akan pernah membaca tulisan saya ini.


Andai...