Saturday, May 29, 2010

Membentengi Diri dari Penculikan

Penculikan merupakan tindakan kriminal yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Perbuatan tersebut mencederai kebebasan yang dimiliki oleh manusia, sebab dengan penculikan, korban tidak memiliki kewenangan atas dirinya dan dengan demikian hak-haknya terampas.

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab atau alasan seseorang untuk melakukan penculikan. Dari yang memang karena berencana berbuat kriminal, untuk bersenang-senang saja, atau bahkan tidak memiliki alasan khusus tertentu yang menjadi tujuannya melakukan penculikan tersebut. Penculik sendiri tidak selalu orang waras yang berbuat karena dorongan mendapatkan uang tebusan atau memang bahkan berencana melakukan human trafficking, tetapi banyak juga yang bertindak karena tidak memiliki kesadaran diri dalam perbuatannya karena didorong oleh naluri semata. Pendek kata, banyak sekali alasan yang melegitimasi seseorang melakukan penculikan tanpa harus menggeneralisasi apa alasan perbuatannya.

Tetapi mari kita lihat sisi positifnya dalam kasus-kasus penculikan yang marak terjadi di Indonesia belakangan ini, atau bahkan tahun-tahun yang lalu. Kasus penculikan menjadi semacam cambuk yang bagus untuk menyadarkan dan membuat masyarakat berpikir akan pentingnya keamanan diri sendiri. Sebuah masyarakat dan civil society yang baik akan merespon peristiwa ini dengan sebaik-baiknya agar hal yang sama tidak lagi terjadi. Pertahanan diri yang dibangun dari tingkat yang paling rendah, yaitu keluarga, akan menjadi sebuah benteng bagi setiap serangan terhadap hak asasi manusia tersebut.

Dalam keluarga, benteng harus dibangun sedemikian rupa untuk menjaga sebuah hubungan antara anak dan orang tua. Kunci yang paling penting dalam hal ini adalah komunikasi. Orang tua tidak perlu mengawasi anak-anaknya dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, tetapi cukup membangun sebuah komunikasi yang bagus dengan anak-anaknya, maka hal ini bisa meminimalisir terjadinya kejahatan tersebut. Pengawasan terhadap anak merupakan sebuah kewajiban bagi setiap orang tua, tetapi tentu saja tanpa harus mengekang anak dalam berkreasi dan belajar menghadapi kehidupan itu sendiri.

Sisi positif yang lain adalah kasus-kasus tersebut “memaksa” masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam merespon setiap perubahan zaman. Zaman yang bergerak cepat membuat masyarakat, dari desa pelosok sampai ke kota besar, membuat masyarakat menjadi lebih waspada dalam menghadapi ancaman-ancaman tertentu yang mengganggu eksistensinya. Sebuah masyarakat yang sangat komunal sangat lebih baik daripada masyarakat yang individualis karena orang-orang yang menjadi bagian dalam masyarakat tersebut akan saling menjaga satu sama lain dan menjadi benteng kedua dari tindakan-tindakan kriminalitas tersebut

Akhirnya, jika penculikan telah terjadi dan tentu saja karena memang kita tidak mampu meramalkan kapan hal tersebut terjad, peran keluarga, masyarakat, dan profesionalitas pihak yang berwenang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan kasus pelanggaran terhadap kemanusiaan ini.

No comments: