Saturday, July 25, 2009

Forum Akademia Kompas 19 Juni 2009


Jumat, 19 Juni 2009

MALAYSIA BERULAH LAGI...
Oleh G Danistya Kaloka Putra
Belum tuntas rasanya melihat kasus Manohara yang disiksa Pangeran Kelantan menghiasi layar kaca, disusul Siti Hajar, pekerja Indonesia yang disiksa majikannya, Malaysia dengan berani memprovokasi TNI Angkatan Laut di Ambalat dan menggeser patok perbatasan.
Sikap yang ditunjukkan oleh Malaysia terhadap "saudara serumpun" tidak menunjukkan mereka sebagai bangsa yang besar. Sikapnya yang merendahkan bangsa Indonesia, bukan tidak mungkin malah menunjukkan ketakutan mereka terhadap eksistensi Indonesia yang merupakan negara besar di kawasan Asia Tenggara. Karena takut tersaingi, negara Melayu itu menggertak kita.
Selain itu pula, sikap tersebut menunjukkan betapa kecilnya pemahaman Malaysia terhadap keberagaman, sesuatu yang menjadi dasar kekuatan dan kelebihan yang dimiliki bangsa Indonesia. Tanda-tanda ini juga muncul pada kehidupan berbangsa dan bernegara Malaysia itu sendiri, yakni tidak adanya pemenuhan hak-hak terhadap etnis China dan India di Malaysia, yang selalu mengalami diskriminasi dari etnis Melayu. Dalam pandangan Malaysia pun, bangsa Indonesia adalah bangsa kuli yang rendah martabatnya sehingga rasa penghormatan terhadap bangsa ini sama sekali tidak ada.
Dalam hubungan internasional, kekuatan suatu negara dapat dilihat dari power atau kekuatannya. Dikenal pula konsep hard power, sebuah konsep yang menyatukan kepentingan militer dan kepentingan ekonomi sebagai cara untuk menunjukkan power atau kekuatan sebuah negara. Malaysia pun dengan enteng memprovokasi, sebab mengetahui bahwa secara militer kita kalah jauh.
Alutsista kita ketinggalan zaman dan ada pendapat umum, tanpa perang pun pesawat-pesawat kita pasti jatuh sendiri. Sedangkan dalam hal ekonomi, kita masih kalah dengan mereka. GDP Malaysia adalah 15,300 dollar Amerika Serikat (AS) per kapita pada tahun 2008, sedangkan Indonesia hanya 3,900 dollar AS per kapita pada tahun yang sama.
Sampai di sini kita harus berpikir bagaimana sikap yang terbaik yang bisa dilakukan untuk membalas perlakuan Malaysia tersebut. Tentu tidak dilakukan dengan perang.
Dengan kondisi kekuatan TNI kita yang masih belum maksimal, terutama dalam masalah peralatan tempur, tentu diplomasi adalah salah satu cara yang bisa dipikirkan. Indonesia juga bisa menggunakan metode-metode nirkekerasan, seperti boikot produk-produk Malaysia, melakukan embargo terhadap produk-produk Malaysia, mengajak mogok kerja TKI yang ada di Malaysia, atau bahkan mungkin menarik duta besar Indonesia dari Malaysia sebagai bentuk protes.
Indonesia juga harus menguatkan kerja sama, posisi, dan peran dalam kawasan Asia Tenggara, termasuk memperkuat hubungan dengan Australia. Meningkatkan anggaran pertahanan pun merupakan salah satu solusi sebagai perbaikan kekuatan TNI sehingga Malaysia semakin lama menyadari bahwa tanpa hubungan baik dengan Indonesia, sebenarnya mereka tidak bisa apa-apa, dan mulai menganggap strategis bagaimana arti penting Indonesia bagi mereka.
G DANISTYA KALOKA PUTRA Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

No comments: