Saturday, May 29, 2010

Eksotisme Batik

Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai hasil budaya Indonesia masih harus terus diperjuangkan dan dilindungi agar tidak kembali menimbulkan permasalahan di kemudian hari, apalagi ketika negara jiran Malaysia mempersoalkan keputusan tersebut. Dengan dalih bahwa bukan hanya Indonesia saja yang memiliki batik, pihak Malaysia akan mempelajari keputusan UNESCO itu lebih lanjut.

            Hal ini menimbulkan spekulasi, akankah pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan keputusan UNESCO tersebut akan menempuh jalur atau memanfaatkan celah lain untuk mengakali pengakuan internasional tersebut demi kepentingan mereka sendiri? Hal ini harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah Indonesia di masa depan mengenai betapa pentingnya membarikade kebudayaan Indonesia dari klaim-klaim negara lain, melanjutkan usaha untuk melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia termasuk dengan mencari pengakuan dari dunia internasional terhadap khazanah budaya Indonesia, dan memetik manfaat dari budaya bangsa itu sendiri demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

            Di sisi lain, pengakuan internasional itu berdampak positif terhadap hubungan Indonesia dengan negara lain. Dengan adanya pengakuan tersebut, dunia internasional mengetahui dengan pasti bahwa produk batik merupakan milik Indonesia. Hal ini harus dimanfaatkan dengan efektif, baik dari segi ekonomi maupun dalam segi politik internasional.

            Dari segi ekonomi, pengakuan terhadap batik ini harus dibarengi dengan usaha nyata dalam industri batik yang lebih luas. Peningkatan ekspor batik ke luar negeri merupakan sebuah awal yang bagus mengingat masyarakat internasional sangat antusias dengan batik sebagai produk busana yang memiliki filosofi sangat mendalam. Industri batik harus terus didorong dan diupayakan untuk mendapatkan modal usaha yang relatif mudah agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan mendapat tempat yang lebih luas di pasaran internasional.

            Dari segi politik internasional, eksotisme batik bisa menjadi propaganda yang sangat menguntungkan bagi Indonesia, terutama dalam diplomasinya terhadap negara lain. Keberadaan batik bisa digunakan untuk menunjukkan betapa tingginya nilai budaya Indonesia, sehingga citra Indonesia di mata internasional akan dipandang sangat tinggi sehingga dengan demikian akan menguntungkan bagi pencapaian national interest atau kepentingan nasional di berbagai bidang yang lain. Soft power berbentuk kebudayaan inilah yang seharusnya lebih dikembangkan lagi untuk menandakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan berbudaya mengingat dewasa ini citra Indonesia tercoreng sebagai negara yang rawan dengan aksi kekerasan etnis, radikalisme, dan terorisme.

            Pada akhirnya, bukan hanya batik, tetapi khazanah kebudayaan Indonesia lain seperti keris, angklung, ulos, tari pendet, dan lain sebagainya harus juga diupayakan untuk mendapatkan pengakuan internasional sehingga bukan negara lain seperti Malaysia yang memetik manfaat dari keberadaan hasil budaya kita, tetapi kita sendirilah yang akan menikmati hasilnya.

No comments: