Thursday, February 11, 2010

Indonesia, Menurutku...

(Tulisan ini mungkin akan ditertawakan oleh para ahli sejarah, tetapi tidak ada salahnya mencoba... Sekali lagi, ini hanya sebuah tulisan)


Saya teringat kembali bertahun-tahun lalu ketika awal-awal menjadi mahasiswa, terjadi perdebatan di kelas Ilmu Sosial Dasar B antara teman-teman mengenai dari manakah kebudayaan awal di dunia ini berasal. Ada yang bilang, dari Eropa karena kemegahan kebudayaan Yunani dan Romawinya. Ada yang bilang, dari Cina, sebab orang Cina telah mengenal mesiu sejak 3000 tahun yang lalu. Ada yang bilang, dari Arab, karena anggapan bahwa manusia pertama berasal dari nenek moyang orang Arab (hal ini dikuatkan dari ajaran agama juga). Lantas, yang mana yang benar?

Sejenak saya mengulang kembali membaca buku karya ES ITO, Negara Kelima, dan merenungkan betapa mudah lupanya kita dengan jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Saya membayangkan gelora semangat Ito dalam mencoba mengajak kita merenungi bahwa kita jangan sampai lupa siapa kita sebenarnya, terlepas dari apakah benar mitos Atlantis yang hilang memang sejatinya pernah berdiri di Indonesia.

Lantas, apakah hal itu mungkin terjadi?

Bayangan saya, kenapa tidak? Kenapa kita tidak bisa membayangkan bahwa kebudayaan tertua di dunia, kebudayaan dan peradaban paling awal dan paling megah di dunia berasal dari Indonesia, atau bisa kita sebut sebagai Nusantara, dan itu benar adanya? Lihat saja, di belahan dunia mana selain Indonesia yang memiliki keragaman suku bangsa dan kebudayaan seperti ini banyaknya? Mengapa kita tidak bisa membayangkannya, bahwa pada awalnya kita adalah keturunan-keturunan dari orang-orang pertama yang menginjakkan kakinya di bumi ini, yang kemudian mengembangkan budayanya sehingga menjadi beranekaragam seperti ini?

Terlepas dari ajaran agama mana pun mengenai manusia pertama di dunia, saya teringat sebuah cerita rakyat dari Kalimantan yang menceritakan manusia pertama adalah orang seorang titisan dewa yang turun ke bumi dan menginjakkan kakinya pertama kali di belantara Kalimantan. Kenapa kita tidak bisa membayangkan hal itu pernah terjadi? Toh Kerajaan Kutai disebut-sebut sebagai kerajaan pertama di Nusantara. Mungkin akan ada perdebatan: bukankah Kutai baru muncul abad 4 Masehi? Sedangkan kebudayaan di Yunani sudah muncul sejak ribuan tahun sebelum Masehi, kebudayaan Asyiria, Babilonia, Akkadia pun sudah berkembang sejak 3000 tahun sebelum Masehi, begitu pula dengan kebudayaan Mesir, Persia, dan sebagainya. Apa yang dipunyai oleh Kerajaan Kutai sehingga kita bisa sombong bahwa pada awalnya segala kebudayaan dunia berawal dari Indonesia? Dalam pandangan saya, mungkin saja Kerajaan Kutai bukanlah kerajaan pertama di Nusantara, tetapi ia merupakan sebuah kebudayaan baru yang muncul akibat dari kebudayaan sebelumnya, yang mungkin telah hancur, yang berasal dari daerah lain di Nusantara.

Kenapa demikian? Indonesia merupakan daerah ring of fire, banyak bencana alam yang bisa terjadi di negeri ini sama banyaknya dengan jumlah denyut jantung manusia dalam sehari. Sama seperti Kerajaan Mataram Kuno yang sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya karena bencana letusan gunung Merapi tahun 900an Masehi, bisa jadi ada kerajaan sebelum Kutai yang juga hancur karena bencana tersebut. Kutai dianggap sebagai kerajaan pertama karena bukti-bukti keberadaannya masih ada. Hal ini didukung oleh fakta bahwa kerajaan itu berada di Pulau Kalimantan, yang merupakan daerah yang sedikit dilalui oleh ring of fire, sehingga keberadaannya aman-aman saja. Berbeda dengan apabila ada sebuah kerajaan dibangun di daerah Sumatera atau Jawa, apalagi jika kerajaan itu dibangun di dekat gunung berapi.

Mengapa ada kemungkinan bahwa kerajaan ini dibangun di dekat gunung berapi?

Awalnya saya jadi teringat dengan pelajaran sejarah mengenai migrasi manusia purba ke Nusantara. Saya teringat dengan pitecanthropus erectus yang bermigrasi dari belahan Bumi utara ke daerah hangat di Nusantara. Makhluk bungkuk yang belajar berjalan dengan kedua kaki belakangnya itu sekitar 2 juta tahun yang lalu hidup di daerah Nusantara. Selanjutnya ada varian homo (habillis, javanicus, dsb) yang menguasai dataran rendah Indonesia purba. Mereka mengembangkan kebudayaannya yang primitif dengan membuat sebuah siklus hidup yaitu berburu dan meramu makanan. Akhirnya mereka berkembang menjadi bercocok tanam, dan membuat perkakas-perkakas kuno yang mendukung perkembangan tersebut, dan berkembanglah juga kepercayaan akan animisme dan dinamisme, lalu muncul pula polytheisme.

Kepercayaan semacam itu menuntut suatu simbol yang bisa digunakan untuk menggapai Tuhan. Bayangan bahwa Tuhan ada di tempat tertinggi di langit, memaksa orang-orang kuno tersebut untuk mencari tempat tertinggi yang bisa dicapai untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Tempat tertinggi yang bisa mereka pikirkan adalah gunung. Gunung merepresentasikan sebuah tempat dimana mereka bisa dengan lebih dekat terhadap Tuhan yang berada di langit. Maka orang-orang kuno Nusantara membangun punden berundak atau Candi Borobudur sebagai representasi gunung tersebut. Sama halnya ketika orang-orang Yunani membangun kebudayaan mereka dengan anggapan bahwa Zeus dan para dewa lainnya bersemayam di gunung Olympus. Orang Maya, Aztec, dan Inca kuno membangun piramida. Orang Mesir membuat piramida. Orang Jepang menganggap bahwa Gunung Fuji adalah keramat. Dan dibangunlah kebudayaan-kebudayaan itu di dekat gunung, agar mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Celakanya, manusia-manusia purba Nusantara tersebut pastilah membangun kebudayaannya di sekitar gunung. Indonesia adalah negara dengan gunung-gunung terbanyak di dunia. Dengan keadaan gunung di Indonesia yang sangat aktif, bukan tidak mungkin kebudayaan itu dihempaskan oleh letusan gunung, yang menimbulkan gempa dan tsunami besar. Bisa kita lihat seperti ketika letusan Krakatau tahun 1883, atau bahkan letusan Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu. Gunung-gunung di Indonesia memang sungguh dahsyat dalam hal letusannya.

Hal ini tentu cocok dengan anggapan bahwa Atlantis dibangun di sebuah gunung. Peradaban itu menjadi besar di sana, namun kemudian hancur karena bencana alam yang dahsyat. Kembali ke novel Negara Kelima, dengan teori bahwa Atlantis dulunya berada di Indonesia, atau tepatnya di Gunung Krakatau yang meletus, hancurnya Atlantis membuat orang-orang Atlantis kemudian berpencar ke segala penjuru dunia. Dan untuk mengenang mengenai Atlantis dengan gunung sesembahannya tersebut, mereka membangun "gunung" di tempat mereka sampai. Itulah mengapa empat peradaban terbesar di dunia, India, Mesopotamia, Mesir, dan Maya mengenal piramida padahal keempatnya tidak berada dalam wilayah yang sama, dan dalam Negara Kelima disebutkan bahwa hal itu karena segalanya berasal dari Atlantis yang hancur di Nusantara.

Artinya, jika Atlantis benar-benar pernah berdiri di Indonesia, berarti sebenarnya kita merupakan keturunan dari orang-orang luar biasa yang pernah ada di dunia, awal dari segala kebudayaan di dunia. Jika demikian, masih banggakah Anda dengan Indonesia? Terlepas benar atau tidaknya Atlantis di Indonesia, setidaknya rasa bangga bahwa "saya orang Indonesia" seharusnya masih ada di hati kita. Atau jangan-jangan, kita lebih bangga sebagai (mengutip judul novel Abdoel Moeis) generasi Salah Asuhan? Kita tentu tidak ingin seperti Hanafi yang berusaha untuk membuang identitasnya sebagai orang Melayu dan ingin menjadi orang Eropa, padahal kebudayaan bangsa kita jauh melebihi budaya-budaya di belahan bumi lain.

Kita memang bukan orang China, bukan orang Romawi, bukan Yunani, bukan pula Mesir, atau Mesopotamia, atau Maya. Kita bukan orang Eropa, bukan orang Amerika, bukan orang Perancis, dan kita tidak akan pernah menjadi mereka. Karena kita mungkin saja merupakan orang-orang yang lebih besar lagi. Seperti dari lagunya John Mayer, bigger than my body, jati diri kita lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan... karena kita ini INDONESIA!

Tapi ingat, jangan sampai kita terlena, Jangan sampai kita membenarkan anggapan bahwa "Indonesia itu punya masa lalu, tapi tidak punya masa depan". Karena Indonesia, sekali lagi, haruslah bisa lebih besar dari sekarang ini.



referensi:
wikipedia.org
wacananusantara.org
indonesiaindonesia.com
acehforum.com
ES ITO, Negara Kelima.
Bacaan terkait, bacalah buku karya Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D, "Atlantis: The Lost Continent Finally Found". Saya sedang mencarinya, dan semoga dapat.

1 comment:

drilyas said...

Bukan Indonesia yang satu-satunya hebat tetapi Nusantara (sebelum berpecah menjadi negara-negara Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina dan Singapura). Alam Malai/Malay (Nusantara) memang ada budaya dan tamadun yang hebat sebelum berlaku bencana dahsyat letusan Gunung Batara Guru (kawahnya menjadi Danau Toba dan puncaknya menjadi Pulau Samosir) bersama berlakunya super tsunami yang menenggelamkan sebahagian daratan Nusantara (kini menjadi Laut China Selatan, Laut Jawa, Laut Sulu, Teluk Siam). Bangsa Malai/Malay (sebelum berpecah menjadi suku-suku bangsa Jawa, Sunda, Melayu, Bugis, Batak, Iban, Kadazandusun, Minang, dsb) sudah mempunyai ajaran sendiri yang diberi nama "Malaiyana Mulayanam" yang diwujudkan oleh Mahasiddha Svaryana. Bangsa Malai/Malay (iaitu leluhur kita) telah mengajar bangsa-bangsa lain tentang tamadun untuk mendirikan peradaban di Mohendja-Daro dan Harappa di Lembah Indus (itu sebab nama banjaran gunung tertinggi di dunia dinamakan Himalaya, atau Gunung Malai/Malay), Sumeria di Lembah Mesopotamia, Mesir di Lembah Nil, Sparta di Laut Mediterranean (yang menerbitkan tamadun Greek), dan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Beribu-ribu tahun selepas itu, masuklah agama Hindu dan Buddha di mana raja-raja, pembesar dan rakyat memeluk agama tersebut. Selepas itu masuk pula agama Islam di mana raja-raja, pembesar dan rakyat bertukar agama dari Hindu dan Buddha kepada Islam. Kemudian masuk pula penjajah Barat dan agama Kristen. Identiti Malai/Malay dan Nusantara pun hilang oleh sebab mereka mengambil identiti India, Arab dan Barat.