Dulu ketika saya masih belum berada di Jakarta untuk mencari nafkah, saya sempat menjadi kolektor film-film bermutu yang saya dapatkan tidak hanya dari warnet langganan yang sudah begitu terkenalnya di Jogja, namun juga dari kawan-kawan saya yang suka dengan film-film bermutu. Kami juga sempat membuat sebuah perkumpulan pembuat film yang kami namakan Pull-The-String, dan jujur kami boleh bangga karena toh sejelek apapun film yang kami buat, kami merasa bahwa itulah hasil dari buah pemikiran dan kerja keras kami.
Salah satu dari film maupun serial yang saya koleksi adalah serial anime Neon Genesis Evangelion, yang bagi saya sendiri, bisa dikategorikan sebagai suatu agama baru, Agama Eva. Anime ini tidaklah seperti anime lainnya, yang sangat menitikberatkan kepada daerah paling rumit dalam psikologi manusia. Pada dasarnya, kita semua ini memiliki luka-luka batin yang ditempa oleh kehidupan, dan kadang luka ini tidak pernah bisa hilang dari diri kita.
Kita Jiwa yang Terluka
Evangelion menceritakan mengenai Shinji Ikari yang mengendarai robot mecha raksasa yang bertujuan untuk menghadapi serangan dari para Angels, julukan dari makhluk asing setengah dewa. Tak banyak yang bisa saya ceritakan di sini, karena untuk menghormati Hideaoki Ano, maka saya persilakan Anda untuk menontonnya sendiri.
Tetapi perjalanan hidup Shinji dan teman-temannya inilah yang kemudian menyadarkan saya akan suatu hal: jiwa kita benar-benar rapuh. Kita berusaha untuk melindungi jiwa kita ini dari berbagai pengaruh luar, namun kita tak pernah bisa melakukannya. Kepahitan hidup Shinji dan perasaan kehilangan serta kesendiriannya itulah yang membuat saya menyadari bahwa hal yang sama akan selalu berada dalam sanubari hidup manusia.
Shinji adalah cerminan diri kita, begitu pula dengan Asuka atau bahkan Rei. Ada mekanisme self defence dalam diri kita saat jiwa kita tersakiti, dan apabila sampai pada puncaknya, kita akan mengalami suatu kondisi kejiwaan parah yang bisa berujung kepada kegilaan. The world is not a playground. Life is not the same as we expected. Bahkan dari seorang paling sukses yang pernah kita dengar, dia pasti memiliki sejarah kelam yang tak akan pernah dia lupakan.
Jiwa kita itu sendiri sebenarnya merasa sendirian. Kita lahir di dunia ini sendirian, dan kita akan mati sendiri pula. Selama hidup mungkin kita memiliki banyak teman dan relasi, namun pada satu titik, kita akan pernah merasakan bagaimana sendiriannya kita. Ada wajah yang kita tampilkan di muka umum, namun ada juga wajah yang hanya kita bagi dengan diri kita sendiri. Jiwa kita mendambakan pemenuhan, namun sampai akhir hayat kita akan tetap ada kekosongan yang tak pernah terisi. Dalam Evangelion, ini dipersonifikasikan dengan keinginan jiwa-jiwa manusia untuk kembali bersatu dalam rahim Lilith, the Second Angel, sehingga pada gilirannya, kekosongan tersebut akan terisi.
Apakah personifikasi itu bisa dibenarkan? Dalam kehidupan kita, tak jadi soal apakah memang jiwa-jiwa manusia itu memiliki keinginan untuk kembali ke asalnya, namun kita benar-benar harus memahami bahwa jiwa kita takkan pernah terisi penuh. Dia akan menyisakan satu lembar yang takkan pernah diisi, dan memang takkan pernah sama sekali. Luka batin kita dalam menghadapi kehidupan ini takkan pernah sembuh, pun takkan pernah mendapatkan pemenuhan yang kita inginkan karena kenyataan hidup dan pahitnya jalan yang ditempuh dalam hidup kita semua ini memang takkan pernah bisa ditolerir oleh jiwa kita, sekuat apapun kita mencoba menghadapinya sebagai manusia.
Kita mencari tapi tak kita temukan. Kita inginkan, tapi tak diberikan. Berapa banyak dari kita yang mencari pemenuhan jiwa kita, dan kemudian tersadar bahwa itupun tidak cukup? Betapapun kita mencari dari semua gemerlap dunia, namun kita takkan pernah menemukan bagian jiwa kita yang hilang tersebut.
Apa sih yang ditawarkan oleh kehidupan untuk diri kita?
Kehidupan Adalah Waktu Untuk Menuju Saat Hukuman Mati
Saya pernah membaca ungkapan bahwa kehidupan ini adalah hukuman mati. Hidup ini adalah tempat terakhir sebelum kita dijagal. Betapa mengerikannya hidup ini. Kita hidup hanya untuk menyongsong kematian kita. Setelah kita mati, hidup takkan ada maknanya lagi. Kadang saya berpikir bahwa, kematian itu adalah pembebasan dari hukuman bernama kehidupan. Kehidupan adalah penjara bagi jiwa kita, waktu yang sempit untuk mengetahui bahwa hukuman mati sudah di depan mata. Apakah dengan kematian, jiwa kita yang kosong ini akan terisi? Saya toh tidak tahu, namun jiwa ini akan terbebas dari raga rapuh ini. Jiwa yang terpenjara seperti ini jelas mendambakan kebebasannya yang hakiki, dan mungkin itulah yang menjelaskan kekosongan dalam jiwa kita ini.
Toh, di akhir cerita, ketika hampir semua manusia mati dan jiwanya berkumpul dalam Lilith, Shinji dan Asuka memutuskan untuk kembali ke hidup mereka yang fana itu. Lilith mati dan meninggalkan dunia yang porak poranda. Namun mereka berdua memilih untuk tinggal, memilih untuk menjalani kehidupan yang kejam ini.
Itulah yang dinamakan pilihan. Betapapun kejam maupun hancurnya hidup kita, betapapun kosongnya jiwa kita, betapapun tidak enaknya hidup itu, kita selalu ada pilihan. Setidaknya, kita masih bisa berusaha untuk tersenyum di dalam neraka bernama kehidupan. Kita masih bisa tertawa walaupun batin menangis. Ataupun ketika hidup ini penuh penderitaan dan luka, jiwa kita tak perlu ikut bersedih.
Kisah Shinji, dan juga kisah-kisah kita, adalah satu bagian yang menjelaskan bahwa terkadang betapapun rapuhnya jiwa kita, masih ada alasan untuk menertawakan hidup ini ataupun mengolok-oloknya, seperti Asuka yang saat melihat Shinji menangis di dekatnya, masih sempat berkata, "Kau menjijikkan."
KEDOYA, 8 DESEMBER 2014
Monday, December 8, 2014
Sunday, November 23, 2014
Sebuah Pembicaraan Kehidupan
Suatu ketika saya bertemu dengan orang ini. Dia masih muda, sangat jenius, dan telah memikul tanggung jawab besar dalam sebuah perusahaan multinasional terbesar di Indonesia. Walaupun selalu terlihat serius, tetapi dia masih suka becanda, bahkan dia selalu menggunakan saya sebagai obyek candaannya. Mulai dari jodoh, pacar, patah hati, hingga pernikahan. Ini mungkin karena topik tersebut adalah yang paling mudah distempelkan ke saya, karena toh waktu itu saya belum memiliki pasangan dan belum menikah (walaupun sekarang juga belum).
Topik tersebut adalah topik paling panas yang saya hadapi. Bukannya membalas dengan argumen-argumen, saya kadang tak mampu menemukan celah untuk membalasnya. Ya sudah, pasrah saja. Lagipula saya juga belum berkeinginan untuk berkeluarga dalam waktu itu.
Nah, suatu ketika saya berbincang-bincang dengan beliau. Hal yang kami bahas saat itu adalah masa depan dan harapan di kemudian hari bagi saya. Jujur itu adalah salah satu momen ketika saya tidak kuasa untuk curhat tentang kehidupan saya kepadanya, dan hasilnya adalah kami sama-sama terdiam dalam obrolan kami. Tak perlu lah saya mengungkapkan detail keseluruhan obrolan kami. Mungkin hanya kami berdua dan Tuhan yang tahu akan hal itu.
Tetapi dalam suatu obrolan, dia masih saja mengangkat isu mengenai pernikahan (astaga, apakah saya setua itu dan sedesperate over 99999999 ya?). Tapi apa yang saya dengar darinya mungkin bisa disejajarkan dengan nasihat seorang yang telah tua dan memiliki segudang pengalaman hidup seperti kedua orang tua saya. Dia berkata, "Jika kamu ingin mencari seorang wanita untuk kamu nikahi, carilah wanita yang minimal bisa nyetir (bukan nyinyir).
Saya bingung, jujur apa hubungannya? Dia kemudian menjelaskannya dengan satu kata lagi, "Karena wanita yang bisa nyetir mobil sendiri adalah wanita yang mandiri."
Saya mulai paham dengan hal ini. Ya, wanita mandiri adalah orang yang tidak pernah akan merepotkan suaminya. Jika dia mau kemana-mana, baik dalam mengurusi anak maupun hal-hal lainnya, wanita seperti itu tidak membutuhkan banyak bantuan dari suaminya, sehingga suaminya bisa membangun karirnya tanpa diributkan dengan urusan-urusan kecil seperti menemani istrinya nyalon.
Dia mengatakan bahwa itu hanya salah satu faktor saja, dan mengatakan bahwa salah satu faktor itu bisa dilihat dari kesuksesan seorang pria yang menjadi manager di suatu perusahaan. "Oke, mungkin tidak semua istri seorang manager itu bisa menyetir, tapi mereka pasti adalah wanita-wanita mandiri yang bisa mendukung karir suaminya. Lihat saja karir seorang lelaki yang istrinya sangat bergantung kepada suaminya, bisa dibilang sebagian mungkin akan mandek, dan sebagian lagi yang berhasil pasti akan mengalami stres karena dia harus membagi antara kantor dan rumah. Stres seorang laki-laki jauh lebih berbahaya karena akan menimbulkan bara dalam sekam perkawinan, yang akan berakibat buruk dalam rumah tangga."
Dia juga menyoroti bagaimana seorang wanita yang mandiri dan bisa menjaga perasaan suaminya tanpa mengumbar moodnya akan mampu menjaga keutuhan keharmonisan keluarganya. "Kuncinya di wanitanya, tak baik sama sekali jika seorang wanita merecoki terus suaminya, walaupun sang istri bekerja sekalipun, dia harus tahu bahwa apapun yang terjadi, apapun masalahnya, dia harus bisa mencoba untuk mengatasinya sendiri. Setelah pernikahan, walaupun hidup bersama, kamu masih punya hidupmu sendiri, begitu juga dengan istrimu." Saat dia mengatakan hal terakhir ini, mungkin dia lupa bahwa saya belum beristri hahaha...
Tapi perenungan ini menjadi lebih besar lagi. Seorang istri yang bisa menyimpan air matanya untuk dirinya sendiri mungkin sudah saat jarang ditemukan dalam masa sekarang. Sedikit-sedikit bila ingin mengeluh, upload saja di FB, Twitter, atau Path. Atau curahkan keluhan itu pada waktu yang tidak tepat kepada suaminya. Jarang sekali, bahkan ketika saya melihat teman-teman saya yang masih berpacaran, konteks kegalauan hidup seorang wanita yang diam tak bersuara ketika dia sedang dalam permasalahan dimunculkan. Nah, yang pasangan minoritas anti galau ini yang kemudian langgeng dan kebanyakan berujung kepada pernikahan, bukan yang sering mengumbar kegalauan dan ketidakpuasan hubungannya kepada khalayak.
Permasalahannya, mencari wanita mandiri itu ibarat pusingnya setengah mati. Ada tipe wanita yang memang sifatnya mandiri dan ada juga yang terpaksa mandiri. Yang memang sifatnya mandiri inilah yang agak jarang ditemukan, karena kebanyakan dalam observasi saya, mereka dipaksa mandiri. Beberapa orang teman wanita saya yang sudah menikah maupun yang sudah ngebet untuk menikah masuk di kategori ini. Mereka pikir dengan pernikahan, beban hidup mereka tercabut. Aku kan perempuan, harus ngikut suami, begitu kata mereka. Inilah yang saya sebut wanita yang dipaksa mandiri, karena pada akhirnya pula, secara tidak sadar walaupun mereka merasa mandjri dengan hidupnya, mereka sebenarnya sangat bergantung kepada suaminya.
Kata ibu saya dulu, wanita itu walaupun lebih tua dari laki-lakinya, ingin selalu dimanja, namun proporsinya harus jelas, mereka harus mampu menakar kemanjaannya itu agar tidak memberatkan pasangannya. Itulah mengapa banyak sekali pria dewasa ini yang lebih tertarik dengan wanita usia matang daripada wanita usia nanggung untuk dinikahi karena wanita-wanita inilah yang bisa mandiri dalam pernikahannya.
Di akhir sesi diskusi dan curhat kami, dia juga menitipkan pesan kepada saya, "Berhati-hatilah dalam memilih pasangan hidup. Tak perlu buru-buru dan dalamilah segala kemungkinan sampai pada saat yang tepat, orang itu datang dalam hidup kamu."
Saya mengangguk setuju dengannya, walaupun pada satu sudut dalam otak saya ini, kebingungan melanda saya. "Buset, kalau gini caranya, bakalan lama lagi aku nikahnya."
Tapi ya sudahlah, tulisan seperti ini tidak lagi menjadi penting jika takdir Tuhan yang memutuskan. Ah, apalah arti sebuah takdir...
KEDOYA, 23 November 2014
Topik tersebut adalah topik paling panas yang saya hadapi. Bukannya membalas dengan argumen-argumen, saya kadang tak mampu menemukan celah untuk membalasnya. Ya sudah, pasrah saja. Lagipula saya juga belum berkeinginan untuk berkeluarga dalam waktu itu.
Nah, suatu ketika saya berbincang-bincang dengan beliau. Hal yang kami bahas saat itu adalah masa depan dan harapan di kemudian hari bagi saya. Jujur itu adalah salah satu momen ketika saya tidak kuasa untuk curhat tentang kehidupan saya kepadanya, dan hasilnya adalah kami sama-sama terdiam dalam obrolan kami. Tak perlu lah saya mengungkapkan detail keseluruhan obrolan kami. Mungkin hanya kami berdua dan Tuhan yang tahu akan hal itu.
Tetapi dalam suatu obrolan, dia masih saja mengangkat isu mengenai pernikahan (astaga, apakah saya setua itu dan sedesperate over 99999999 ya?). Tapi apa yang saya dengar darinya mungkin bisa disejajarkan dengan nasihat seorang yang telah tua dan memiliki segudang pengalaman hidup seperti kedua orang tua saya. Dia berkata, "Jika kamu ingin mencari seorang wanita untuk kamu nikahi, carilah wanita yang minimal bisa nyetir (bukan nyinyir).
Saya bingung, jujur apa hubungannya? Dia kemudian menjelaskannya dengan satu kata lagi, "Karena wanita yang bisa nyetir mobil sendiri adalah wanita yang mandiri."
Saya mulai paham dengan hal ini. Ya, wanita mandiri adalah orang yang tidak pernah akan merepotkan suaminya. Jika dia mau kemana-mana, baik dalam mengurusi anak maupun hal-hal lainnya, wanita seperti itu tidak membutuhkan banyak bantuan dari suaminya, sehingga suaminya bisa membangun karirnya tanpa diributkan dengan urusan-urusan kecil seperti menemani istrinya nyalon.
Dia mengatakan bahwa itu hanya salah satu faktor saja, dan mengatakan bahwa salah satu faktor itu bisa dilihat dari kesuksesan seorang pria yang menjadi manager di suatu perusahaan. "Oke, mungkin tidak semua istri seorang manager itu bisa menyetir, tapi mereka pasti adalah wanita-wanita mandiri yang bisa mendukung karir suaminya. Lihat saja karir seorang lelaki yang istrinya sangat bergantung kepada suaminya, bisa dibilang sebagian mungkin akan mandek, dan sebagian lagi yang berhasil pasti akan mengalami stres karena dia harus membagi antara kantor dan rumah. Stres seorang laki-laki jauh lebih berbahaya karena akan menimbulkan bara dalam sekam perkawinan, yang akan berakibat buruk dalam rumah tangga."
Dia juga menyoroti bagaimana seorang wanita yang mandiri dan bisa menjaga perasaan suaminya tanpa mengumbar moodnya akan mampu menjaga keutuhan keharmonisan keluarganya. "Kuncinya di wanitanya, tak baik sama sekali jika seorang wanita merecoki terus suaminya, walaupun sang istri bekerja sekalipun, dia harus tahu bahwa apapun yang terjadi, apapun masalahnya, dia harus bisa mencoba untuk mengatasinya sendiri. Setelah pernikahan, walaupun hidup bersama, kamu masih punya hidupmu sendiri, begitu juga dengan istrimu." Saat dia mengatakan hal terakhir ini, mungkin dia lupa bahwa saya belum beristri hahaha...
Tapi perenungan ini menjadi lebih besar lagi. Seorang istri yang bisa menyimpan air matanya untuk dirinya sendiri mungkin sudah saat jarang ditemukan dalam masa sekarang. Sedikit-sedikit bila ingin mengeluh, upload saja di FB, Twitter, atau Path. Atau curahkan keluhan itu pada waktu yang tidak tepat kepada suaminya. Jarang sekali, bahkan ketika saya melihat teman-teman saya yang masih berpacaran, konteks kegalauan hidup seorang wanita yang diam tak bersuara ketika dia sedang dalam permasalahan dimunculkan. Nah, yang pasangan minoritas anti galau ini yang kemudian langgeng dan kebanyakan berujung kepada pernikahan, bukan yang sering mengumbar kegalauan dan ketidakpuasan hubungannya kepada khalayak.
Permasalahannya, mencari wanita mandiri itu ibarat pusingnya setengah mati. Ada tipe wanita yang memang sifatnya mandiri dan ada juga yang terpaksa mandiri. Yang memang sifatnya mandiri inilah yang agak jarang ditemukan, karena kebanyakan dalam observasi saya, mereka dipaksa mandiri. Beberapa orang teman wanita saya yang sudah menikah maupun yang sudah ngebet untuk menikah masuk di kategori ini. Mereka pikir dengan pernikahan, beban hidup mereka tercabut. Aku kan perempuan, harus ngikut suami, begitu kata mereka. Inilah yang saya sebut wanita yang dipaksa mandiri, karena pada akhirnya pula, secara tidak sadar walaupun mereka merasa mandjri dengan hidupnya, mereka sebenarnya sangat bergantung kepada suaminya.
Kata ibu saya dulu, wanita itu walaupun lebih tua dari laki-lakinya, ingin selalu dimanja, namun proporsinya harus jelas, mereka harus mampu menakar kemanjaannya itu agar tidak memberatkan pasangannya. Itulah mengapa banyak sekali pria dewasa ini yang lebih tertarik dengan wanita usia matang daripada wanita usia nanggung untuk dinikahi karena wanita-wanita inilah yang bisa mandiri dalam pernikahannya.
Di akhir sesi diskusi dan curhat kami, dia juga menitipkan pesan kepada saya, "Berhati-hatilah dalam memilih pasangan hidup. Tak perlu buru-buru dan dalamilah segala kemungkinan sampai pada saat yang tepat, orang itu datang dalam hidup kamu."
Saya mengangguk setuju dengannya, walaupun pada satu sudut dalam otak saya ini, kebingungan melanda saya. "Buset, kalau gini caranya, bakalan lama lagi aku nikahnya."
Tapi ya sudahlah, tulisan seperti ini tidak lagi menjadi penting jika takdir Tuhan yang memutuskan. Ah, apalah arti sebuah takdir...
KEDOYA, 23 November 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)