Monday, February 15, 2010

John Terry... Sebuah Permenungan...

Vanessa Perroncel memang luar biasa. Orang tua tunggal mantan pacar Wayne Bridge itu berhasil meluluhlantakkan komitmen dan kesetian John Terry terhadap istrinya, Toni Poole. Walaupun kita takkan pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi, apakah Terry atau Perroncel yang pertama kali memulai, tetapi yang pasti, perbuatan sang skipper itu harus mendapatkan hukuman dengan dicopotnya ban kapten timnas Inggris dari lengannya. Rio Ferdinand pun kejatuhan durian runtuh mendapatkan ban kapten tersebut.

Terry lahir di Barking, Inggris Timur, tanggal 7 Desember 1980. Penghargaan-penghargaan sebagai seorang pemain pernah dia terima, seperti Best UEFA Champions League Defender tahun 2005 dan 2008. Dia pun kapten Inggris sejak tahun 2005 sampai 2010. Pertama kali saya tahu tentang John Terry adalah saat saya bermain Football Manager 2005. Kala itu saya mengamati bahwa dia adalah seorang pemain Chelsea, namun juga penggemar Manchester United. Dalam game, saya berhasil memboyongnya ke Old Trafford gara-gara hal tersebut. Sayang, di kenyataan, mungkin butuh keajaiban dia mau pindah dari Stamford Bridge ke Old Trafford.

Terry, sama seperti banyak pemain Inggris lainnya, mendapatkan sorotan yang lebih besar daripada pemain sepakbola dari negara lain. Apalagi sebagai seorang kapten, sorotan terhadap dirinya lebih besar lagi. Dia adalah nahkoda yang membawa permainan tim dalam pertandingan. Seorang kapten tidak boleh bermain buruk atau melakukan kesalahan sedikit pun. Dari sebelas pemain di lapangan, yang 10 lainnya boleh saja bermain seperti pemain tarkam, tapi sebagai kapten, dia harus bermain layaknya dewa. Di luar lapangan pun dia tidak boleh melakukan kesalahan. Dia harus memiliki kehidupan yang "beres". Itulah mengapa Franz Beckenbauer bisa disebut Der Kaiser karena selain kepemimpinannya di lapangan yang luar biasa, kehidupan di luar lapangan pun bagus.

Itulah yang tidak dimiliki oleh John Terry. Kepemimpinannya di lapangan tidak diragukan lagi. Dia disegani kawan maupun lawan. Banyak yang bersimpati kepadanya ketika dia gagal mengeksekusi penalti pada final Liga Champions antara Chelsea melawan MU. Tetapi kali ini, tidak banyak yang bersimpati kepadanya. Publik Inggris seakan menghakiminya, menjadikan perselingkuhannya dengan Perroncel sebagai berita utama sekaligus aib nasional karena sang kapten yang harusnya sebagai dewa, ternyata juga manusia. Tentu publik sepakbola Inggris patut kecewa dengan kelakuan sang kapten. Sebagai seorang panutan (dan seharusnya Terry tahu itu), dia tidak seharusnya melakukan hal-hal di luar norma-norma yang berlaku.

Salahkah Terry? Secara moral, mungkin dia salah. Namun jangan lupa, kadang kita memberikan standar tertentu terhadap kehidupan ini, terhadap orang lain. Jika orang lain melakukan kesalahan besar, kita akan berusaha untuk menghancurkannya. Kita akan menyalahkannya seakan-akan dia sampah. Apalagi jika dia adalah orang yang berada di atas, orang penting, atau seorang pemimpin.

Seorang pemimpin tidak boleh sama sekali melakukan kesalahan. Seorang pemimpin harus selalu melakukan hal-hal yang benar. Seorang pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi banyak orang yang dipimpinnya, harus mampu memimpin dalam kondisi apapun, kalau perlu dia harus mau berkorban, bersedia menanggung dan dihukum karena kesalahan anak buahnya. Begitulah nasib seorang pemimpin, karena untuk itulah dia disebut pemimpin.

Namun kita seakan-akan lupa bahwa kita juga adalah orang-orang dengan segala kesalahan. Bukan tidak mungkin kita juga melakukan kesalahan-kesalahan yang jauh lebih besar daripada yang John Terry lakukan.

Kita juga lupa, bahwa kita hampir selalu menarik kesimpulan tanpa melihat ke dalam diri kita sendiri. Seperti kata pepatah: Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak. Kita selalu bisa melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi melupakan realita bahwa kita juga bisa saja melakukan kesalahan yang sama, sebab mungkin kita tidak lebih baik daripadanya. Kita bisa saja berada dalam posisi John Terry sekarang, bisa saja dipersalahkan sama seperti dirinya.

Kita juga sering melupakan keberhasilan orang lain, prestasinya, atau pencapaiannya. Kita selalu membanggakan milik kita, tapi mencemooh atau mencari-cari kesalahan orang lain jika pencapaian mereka lebih daripada kita. Saat yang lalu mungkin John Terry berada di atas, dan musuh-musuhnya selalu mencari kesalahan-kesalahannya. Kini, musuh-musuhnya (termasuk pers dan media massa) melihat celah itu, dan menggunakannya sebagai jalan untuk menghancurkan Terry. Dan bisa jadi, besok ketika mungkin Inggris menjadi juara Piala Dunia 2010, orang-orang inilah yang akan pertama kali mendekatinya, memberi selamat kepadanya, seakan-akan merekalah yang paling berjasa karena kesuksesan Inggris.

Saya tidak membela John Terry, pun juga tidak membenarkan apa yang dia lakukan. Saya hanya berkata, hal yang sama mungkin saja bisa terjadi kepada kita, hal yang sama bisa saja kita lakukan. Kesalahan yang Terry perbuat bisa saja kita lakukan, bisa saja kita jatuh pada lubang yang sama dengannya, dan masih pantaskah kita menghakimi seseorang John Terry jika kita mungkin sama busuknya dengan dia?

Atau jangan-jangan, kita ini memang makhluk yang munafik...

Sinta Obong... Sebuah Pemikiran...

Ketika Rahwana telah dikalahkan, akhirnya Rama berhasil menemui istrinya, Sinta, yang ditandu kemudian menghampiri sang suami. Namun tiba-tiba Rama menepis sang istri, dan memalingkan mukanya dari wanita itu. Tak ayal, bingunglah Sinta dengan sikap sang suami.

"Perang yang getir ini tidak kujalani hanya demimu, tetapi juga karena merupakan tugasku sebagai seorang ksatria. Namun mendapatkanmu kembali tidak membuatku bahagia. Keraguan meliputi diriku," kata Rama.

Ia lantas melanjutkan,"Mana mungkin aku bisa menerimamu kembali ketika dirimu telah tidur dan tinggal di tempat orang asing?"

Kemarahan Sinta meledak. "Kau benar-benar picik, Rama! Aku diculik, tidak ada pilihan lain buatku. Suamiku ternyata lupa dengan asal usulku, dengan jati diriku, dengan diriku!"

Lantas dengan kemarahan, Sinta meminta Lesmana menyediakan api unggun baginya. Rama tidak melunak. Dia membiarkannya. Sinta, yang kemudian memantapkan langkahnya, berdoa kepada Dewata, kepada Batara Agni, "Engkau tahu kemurnian hatiku, o Dewata! Terimalah aku ke dalam pangkuanMu!"

Sinta melompat ke dalam kobaran api. Ajaib, dia selamat! Batara Agni melindunginya dari kobaran api, bahkan dewa-dewa kahyangan turut serta menolongnya. Batara Brahma pun menegur Rama,"Rama, bukankah dia Laksmimu? Mengapa engkau tidak mempercayainya?"

Akhirnya, Rama tersadar dari gelap matanya, dan kemudian dengan penuh sukacita menerima kembali Sinta di sisinya.

(disadur dengan perubahan2 dari novel Ramayana karangan C. Rajagopalachari, berdasarkan epos Ramayana karya Walmiki)

---
Jika kita melihat kepada peristiwa-peristiwa di dalam Sendratari Ramayana, mungkin kita akan melihat jalinan-jalinan adegan-adegan peperangan antara bala tentara Rama melawan bala tentara Rahwana. Perang di dalam Sendratari Ramayana tersebut tampak singkat, namun tentu saja tidak seperti itu. Perang tersebut melibatkan dua kekuatan besar, dan pastinya berdurasi panjang. Perang Troya yang terjadi antara Troya dan Yunani pun berlangsung kira-kira 10 tahun sampai dengan kejadian panglima-panglima Troya tertipu oleh tipu muslihat kuda kayu yang dibuat oleh pasukan Yunani. Bukan tidak mungkin pertempuran antara Rama dan Rahwana pun berlangsung bertahun-tahun pula. (kita memakai asumsi itu karena dalam Ramayana, terdapat ambiguisitas mengenai angka tahun. Rajagopalachari sendiri mengatakan bahwa 32.000 tahun bisa saja dimaknai sebagai hanya 32 tahun).

Itu artinya, Sinta sendiri dari saat pertama dia diculik di hutan sampai Rahwana dikalahkan di Alengka dan kemudian dia bertemu dengan Rama, pastilah telah memakan waktu bertahun-tahun. Dalam sekapan sang raja raksasa yang sakti dan tangguh selama waktu itu, apalah artinya Sinta yang kecil, lemah, yang selama hidupnya hanya diajari dengan keutamaan seorang wanita, tetapi tanpa mendapatkan bimbingan mengenai bela diri atau pertarungan? Jika begitu, masih mungkinkah Sinta tidak pernah mengalami hubungan badan dengan sang raja raksasa? Masih mungkinkah Sinta yang tidak memiliki kuasa apapun di Alengka, sanggup menahan "perkosaan" atas dirinya yang dilakukan oleh Rahwana? Bisakah Anda membayangkan selama bertahun-tahun itu Sinta selamat dari paksaan sang raja yang tentu saja tidak akan tahan melihat ada seorang wanita ayu di kerajaannya?

Hal ini pernah menjadi diskusi yang menarik beberapa waktu yang lalu. Tidak mungkin Sinta belum pernah dijamah oleh Rahwana, kata teman saya. Dia pasti mengalami perundungan seksual dari sang raja raksasa selama dia ditawan di Alengka. Dengan segala "power" yang dimiliki oleh Rahwana, tidak mungkin Sinta bisa mengelak dari nafsu sang raja. There's no hope.

Tetapi Ramayana memberikan tempat yang tinggi kepada Dewi Sinta. Para dewa melindunginya. Bahkan Batara Brahma turun dari kahyangan hanya untuk memperingatkan Rama atas kelalaiannya. Sinta berhasil membuktikan dirinya masih suci. Api yang panas itu tidak berani menyentuh sehelai rambutnya pun. Padahal secara rasional tidak mungkin Sinta masih suci. Kenapa hal ini terjadi?

Ada kata-kata menarik yang saya dapatkan dari teman saya yang pernah membaca novel Rara Mendut karangan YB Mangunwijaya. Intinya adalah dalam novel itu, seorang wanita masih suci jika dia tidak menghendaki hubungan badan atas dirinya. Walaupun mungkin sang wanita sudah tidak perawan, tetapi jika selama itu dia tidak pernah menyetujui hubungan badan yang terjadi atas dirinya, dia masih bisa dianggap perawan. Seorang wanita walaupun sudah menikah bertahun-tahun sekali pun, dia masih perawan jika dia hanya mencurahkan keinginannya itu terhadap suaminya. Walaupun mungkin saja dia melakukan dengan laki-laki lain, tapi jika hatinya tidak menghendakinya, dia masih suci.

Jika demikian, jelaslah jika kita memakai analogi tersebut untuk menjelaskan mengapa Sinta diselamatkan oleh Dewata. Sinta, walaupun mungkin dia sudah berkali-kali dilecehkan dan diperkosa oleh Rahwana, jika dia tetap fokus setia kepada Rama, jika dia tidak mengizinkan hal itu terjadi, jika dia melawan dan tidak menikmatinya, jika dia selalu mengharapkan sang suami, jika dia tidak pernah berhenti memikirkan sang suami, dia tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Dia masih suci ketika hatinya tidak membiarkan hal itu.

Namun jika dia menginginkannya, atau menikmatinya, dia pun dipersalahkan, jatuhlah dia ke dalam dosa.

Kesucian seorang wanita tidak terletak apakah dia masih perawan atau tidak, tetapi dilihat dari usahanya untuk mempertahankannya. Kesucian seorang wanita itu berada di hati dan jiwanya. Jika hatinya suci dan murni, dia akan tetap perawan, seumur hidupnya, apapun yang terjadi. Dan Sinta telah membuktikan, bagaimanapun, kesucian hatinya tetap dia jaga hanya untuk suaminya. Itulah mengapa dia diselamatkan. Dan itulah mengapa Rama meminta maaf kepada istrinya sebagai salah satu keutamaannya sebagai seorang ksatria, dan menerima Sinta kembali di sisinya.

(12 Februari 2010)

Thursday, February 11, 2010

Mari Kita Berandai-andai...

1 Andai Noordin M Top tidak membom Ritz Chalton dan JW Marriotts, rakyat Indonesia pasti akan menyaksikan timnas Indonesia dibantai 10-0 tanpa balas oleh para punggawa-punggawa Manchester United. Mungkin asumsi yang berlebihan, tetapi lawan Laos saja kalah 0-2, bisa apa Indonesia lawan MU?

2 Andai World Trade Center tidak dikamikaze oleh teroris, mungkin saja jutaan warga Afghanistan, Irak, dan tentara Amerika yang tewas, saat ini masih menghembuskan nafasnya di dunia ini, dan gelombang kekerasan di kedua negara tersebut tidak akan terjadi seperti sekarang ini.

3 Andai Uni Soviet tidak runtuh, dan Tembok Berlin masih tegak sampai sekarang, mungkin kita akan menyaksikan Michael Ballack dan Oliver Kahn saling berjibaku satu sama lain dengan panji Jerman Timur dan Jerman Barat. Selain itu pula, mungkin saja kita akan menyaksikan perang nuklir yang benar-benar terjadi antara Soviet dan AS semenjak bertahun-tahun yang lalu, dan Marxisme masih relevan untuk menjelaskan hal ini.

4 Andai Peristiwa 30 September 1965 (PKI) tidak terjadi, beberapa korban mungkin masih hidup hingga saat ini, Ade Irma Suryani pasti sudah berkeluarga dan mungkin sudah punya cucu, mungkin Soekarno menjadi Presiden Seumur Hidup, Presiden Kedua Indonesia bukanlah Soeharto, namun bisa jadi malah Megawati Soekarnoputri, dan Indonesia mungkin akan memiliki senjata nuklir yang dipinjamkan dari Uni Soviet dan memiliki program antariksanya sendiri, dan Timor Timur tidak pernah masuk ke dalam wilayah Indonesia, serta tidak akan pernah ada yang namanya Freeport Mining Corp di Papua.

5 Andai insiden Krisis Misil Kuba benar-benar membuahkan perang terbuka antara Soviet dan AS, boleh jadi Indonesia yang akan tampil menjadi kekuatan adidaya, ketika kehancuran total terjadi antara kedua adidaya tersebut.

6 Andai Perang Dunia II tidak pernah terjadi, mungkin kita akan menyaksikan Hitler dan Trumann sedang duduk ngopi bareng, dengan Stalin dan Hirohito berdiri di belakangnya mengagumi lukisan Picasso sambil tertawa-tawa mengejek gambar abstrak tersebut.

7 Andai Jepang tidak pernah dibom atom, Hiroshima dan Nagasaki tidak akan pernah hancur lebur, dan mungkin Indonesia masih akan dijajah oleh Jepang hingga beberapa tahun kemudian.

8 Andai Hitler tidak berbuat bodoh dengan mendeklarasikan perang melawan AS dan Soviet pada saat yang bersamaan, mungkin saja Jerman akan mampu mengatasi perlawanan Soviet di Stalingrad, dan kemudian memenangkan pertempuran lawan AS dalam D-Day.

9 Andai Jerman memenangkan semua pertempuran di front Eropa dan Afrika, mengalahkan Soviet di front Timur, bisa jadi kemudian Amerika Serikat akan mendapatkan serangan, dan pertempuran akan terjadi di dekat Patung Liberty, di Philadelphia, dan mungkin Harvard University mengalami kehancuran akibat bom napalm angkatan perang Jerman.

10 Andai Jerman memenangkan Perang Dunia II, bukan cuma Yahudi yang akan hilang dari muka bumi ini, namun juga ras-ras bangsa lainnya. dan 300 tahun kemudian, mengutip sedikit novel The Zahir karya Paulo Coelho, Tokyo dan Jakarta mungkin sudah didiami oleh manusia-manusia dengan perawakan putih dan pirang dengan mata birunya, dan segala hal mengenai sejarah umat manusia akan digantikan dengan kebohongan publik bahwa Adam dan Hawa adalah orang Jerman, dan hanya ada satu ras yang ada di bumi ini, ras Arya, dan tidak ada ras lain selain itu.

11 Andai Belanda/VOC tidak pernah menjajah Nusantara, tidak akan pernah berdiri negara Indonesia, yang ada akan muncul negara-negara seperti Negara Jawa, Republik Pasundan, Federasi Sumatera, Federasi Borneo, Monarki Tidore, dan Konfederasi Papua.

12 Andai Diponegoro tidak pernah tertangkap Belanda, mungkin Indonesia (atau Jawa) sudah merdeka dari dulu.

13 Andai Hassanuddin tidak pernah menyerah kalah dalam perang, tidak akan ada perjanjian Bongaya, dan mungkin Makassar tidak akan pernah dijajah Belanda.

14 Andai tidak lahir orang-orang seperti Newton, Einstein, Riemman, Gauss, von Braunn, Goddart, dan imajinasi Jules Verne, manusia mungkin masih akan berangan-angan untuk berjalan-jalan di bulan sampai sekarang.

15 Andai Edison tidak pernah menemukan lampu, mungkin sekarang kita sedang membaca buku World Politics dengan lilin dan sentir.

16 Andai Emma Watson tidak pernah menjadi Hermione Granger, mungkin saya malah akan naksir sama Luna Maya.

17 Andai saya tidak pernah dilahirkan di dunia ini, mungkin Anda tidak akan pernah membaca tulisan saya ini.


Andai...

Indonesia, Menurutku...

(Tulisan ini mungkin akan ditertawakan oleh para ahli sejarah, tetapi tidak ada salahnya mencoba... Sekali lagi, ini hanya sebuah tulisan)


Saya teringat kembali bertahun-tahun lalu ketika awal-awal menjadi mahasiswa, terjadi perdebatan di kelas Ilmu Sosial Dasar B antara teman-teman mengenai dari manakah kebudayaan awal di dunia ini berasal. Ada yang bilang, dari Eropa karena kemegahan kebudayaan Yunani dan Romawinya. Ada yang bilang, dari Cina, sebab orang Cina telah mengenal mesiu sejak 3000 tahun yang lalu. Ada yang bilang, dari Arab, karena anggapan bahwa manusia pertama berasal dari nenek moyang orang Arab (hal ini dikuatkan dari ajaran agama juga). Lantas, yang mana yang benar?

Sejenak saya mengulang kembali membaca buku karya ES ITO, Negara Kelima, dan merenungkan betapa mudah lupanya kita dengan jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Saya membayangkan gelora semangat Ito dalam mencoba mengajak kita merenungi bahwa kita jangan sampai lupa siapa kita sebenarnya, terlepas dari apakah benar mitos Atlantis yang hilang memang sejatinya pernah berdiri di Indonesia.

Lantas, apakah hal itu mungkin terjadi?

Bayangan saya, kenapa tidak? Kenapa kita tidak bisa membayangkan bahwa kebudayaan tertua di dunia, kebudayaan dan peradaban paling awal dan paling megah di dunia berasal dari Indonesia, atau bisa kita sebut sebagai Nusantara, dan itu benar adanya? Lihat saja, di belahan dunia mana selain Indonesia yang memiliki keragaman suku bangsa dan kebudayaan seperti ini banyaknya? Mengapa kita tidak bisa membayangkannya, bahwa pada awalnya kita adalah keturunan-keturunan dari orang-orang pertama yang menginjakkan kakinya di bumi ini, yang kemudian mengembangkan budayanya sehingga menjadi beranekaragam seperti ini?

Terlepas dari ajaran agama mana pun mengenai manusia pertama di dunia, saya teringat sebuah cerita rakyat dari Kalimantan yang menceritakan manusia pertama adalah orang seorang titisan dewa yang turun ke bumi dan menginjakkan kakinya pertama kali di belantara Kalimantan. Kenapa kita tidak bisa membayangkan hal itu pernah terjadi? Toh Kerajaan Kutai disebut-sebut sebagai kerajaan pertama di Nusantara. Mungkin akan ada perdebatan: bukankah Kutai baru muncul abad 4 Masehi? Sedangkan kebudayaan di Yunani sudah muncul sejak ribuan tahun sebelum Masehi, kebudayaan Asyiria, Babilonia, Akkadia pun sudah berkembang sejak 3000 tahun sebelum Masehi, begitu pula dengan kebudayaan Mesir, Persia, dan sebagainya. Apa yang dipunyai oleh Kerajaan Kutai sehingga kita bisa sombong bahwa pada awalnya segala kebudayaan dunia berawal dari Indonesia? Dalam pandangan saya, mungkin saja Kerajaan Kutai bukanlah kerajaan pertama di Nusantara, tetapi ia merupakan sebuah kebudayaan baru yang muncul akibat dari kebudayaan sebelumnya, yang mungkin telah hancur, yang berasal dari daerah lain di Nusantara.

Kenapa demikian? Indonesia merupakan daerah ring of fire, banyak bencana alam yang bisa terjadi di negeri ini sama banyaknya dengan jumlah denyut jantung manusia dalam sehari. Sama seperti Kerajaan Mataram Kuno yang sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya karena bencana letusan gunung Merapi tahun 900an Masehi, bisa jadi ada kerajaan sebelum Kutai yang juga hancur karena bencana tersebut. Kutai dianggap sebagai kerajaan pertama karena bukti-bukti keberadaannya masih ada. Hal ini didukung oleh fakta bahwa kerajaan itu berada di Pulau Kalimantan, yang merupakan daerah yang sedikit dilalui oleh ring of fire, sehingga keberadaannya aman-aman saja. Berbeda dengan apabila ada sebuah kerajaan dibangun di daerah Sumatera atau Jawa, apalagi jika kerajaan itu dibangun di dekat gunung berapi.

Mengapa ada kemungkinan bahwa kerajaan ini dibangun di dekat gunung berapi?

Awalnya saya jadi teringat dengan pelajaran sejarah mengenai migrasi manusia purba ke Nusantara. Saya teringat dengan pitecanthropus erectus yang bermigrasi dari belahan Bumi utara ke daerah hangat di Nusantara. Makhluk bungkuk yang belajar berjalan dengan kedua kaki belakangnya itu sekitar 2 juta tahun yang lalu hidup di daerah Nusantara. Selanjutnya ada varian homo (habillis, javanicus, dsb) yang menguasai dataran rendah Indonesia purba. Mereka mengembangkan kebudayaannya yang primitif dengan membuat sebuah siklus hidup yaitu berburu dan meramu makanan. Akhirnya mereka berkembang menjadi bercocok tanam, dan membuat perkakas-perkakas kuno yang mendukung perkembangan tersebut, dan berkembanglah juga kepercayaan akan animisme dan dinamisme, lalu muncul pula polytheisme.

Kepercayaan semacam itu menuntut suatu simbol yang bisa digunakan untuk menggapai Tuhan. Bayangan bahwa Tuhan ada di tempat tertinggi di langit, memaksa orang-orang kuno tersebut untuk mencari tempat tertinggi yang bisa dicapai untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Tempat tertinggi yang bisa mereka pikirkan adalah gunung. Gunung merepresentasikan sebuah tempat dimana mereka bisa dengan lebih dekat terhadap Tuhan yang berada di langit. Maka orang-orang kuno Nusantara membangun punden berundak atau Candi Borobudur sebagai representasi gunung tersebut. Sama halnya ketika orang-orang Yunani membangun kebudayaan mereka dengan anggapan bahwa Zeus dan para dewa lainnya bersemayam di gunung Olympus. Orang Maya, Aztec, dan Inca kuno membangun piramida. Orang Mesir membuat piramida. Orang Jepang menganggap bahwa Gunung Fuji adalah keramat. Dan dibangunlah kebudayaan-kebudayaan itu di dekat gunung, agar mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Celakanya, manusia-manusia purba Nusantara tersebut pastilah membangun kebudayaannya di sekitar gunung. Indonesia adalah negara dengan gunung-gunung terbanyak di dunia. Dengan keadaan gunung di Indonesia yang sangat aktif, bukan tidak mungkin kebudayaan itu dihempaskan oleh letusan gunung, yang menimbulkan gempa dan tsunami besar. Bisa kita lihat seperti ketika letusan Krakatau tahun 1883, atau bahkan letusan Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu. Gunung-gunung di Indonesia memang sungguh dahsyat dalam hal letusannya.

Hal ini tentu cocok dengan anggapan bahwa Atlantis dibangun di sebuah gunung. Peradaban itu menjadi besar di sana, namun kemudian hancur karena bencana alam yang dahsyat. Kembali ke novel Negara Kelima, dengan teori bahwa Atlantis dulunya berada di Indonesia, atau tepatnya di Gunung Krakatau yang meletus, hancurnya Atlantis membuat orang-orang Atlantis kemudian berpencar ke segala penjuru dunia. Dan untuk mengenang mengenai Atlantis dengan gunung sesembahannya tersebut, mereka membangun "gunung" di tempat mereka sampai. Itulah mengapa empat peradaban terbesar di dunia, India, Mesopotamia, Mesir, dan Maya mengenal piramida padahal keempatnya tidak berada dalam wilayah yang sama, dan dalam Negara Kelima disebutkan bahwa hal itu karena segalanya berasal dari Atlantis yang hancur di Nusantara.

Artinya, jika Atlantis benar-benar pernah berdiri di Indonesia, berarti sebenarnya kita merupakan keturunan dari orang-orang luar biasa yang pernah ada di dunia, awal dari segala kebudayaan di dunia. Jika demikian, masih banggakah Anda dengan Indonesia? Terlepas benar atau tidaknya Atlantis di Indonesia, setidaknya rasa bangga bahwa "saya orang Indonesia" seharusnya masih ada di hati kita. Atau jangan-jangan, kita lebih bangga sebagai (mengutip judul novel Abdoel Moeis) generasi Salah Asuhan? Kita tentu tidak ingin seperti Hanafi yang berusaha untuk membuang identitasnya sebagai orang Melayu dan ingin menjadi orang Eropa, padahal kebudayaan bangsa kita jauh melebihi budaya-budaya di belahan bumi lain.

Kita memang bukan orang China, bukan orang Romawi, bukan Yunani, bukan pula Mesir, atau Mesopotamia, atau Maya. Kita bukan orang Eropa, bukan orang Amerika, bukan orang Perancis, dan kita tidak akan pernah menjadi mereka. Karena kita mungkin saja merupakan orang-orang yang lebih besar lagi. Seperti dari lagunya John Mayer, bigger than my body, jati diri kita lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan... karena kita ini INDONESIA!

Tapi ingat, jangan sampai kita terlena, Jangan sampai kita membenarkan anggapan bahwa "Indonesia itu punya masa lalu, tapi tidak punya masa depan". Karena Indonesia, sekali lagi, haruslah bisa lebih besar dari sekarang ini.



referensi:
wikipedia.org
wacananusantara.org
indonesiaindonesia.com
acehforum.com
ES ITO, Negara Kelima.
Bacaan terkait, bacalah buku karya Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D, "Atlantis: The Lost Continent Finally Found". Saya sedang mencarinya, dan semoga dapat.