Saya sedikit memikirkan hal-hal yang tidak penting akhir-akhir ini. Dengan
banyaknya waktu yang saya punya sekarang, sungguh menyenangkan masih bisa
memiliki pemikiran sendiri. Bayangkan jika saya kemudian sudah bekerja dan
memiliki penghasilan, fokus saya akan berada pada jalur tersebut, dan terkadang
itu mematikan pemikiran kita.
Oke, bukan apa-apa.
Hari ini saya mau bercerita mengenai sebuah hal yang tidak terlepas dari akibat
terlalu banyak membaca buku-bukunya Ajahn Brahm. Biksu senior di Perth,
Australia, itu telah meracuni pemikiran saya dalam memandang kehidupan,
khususnya pada titik-titik yang mungkin sedikit vital bagi kebanyakan orang.
Ajahn Brahm mengajari bagaimana orang seharusnya melepaskan apa yang ada,
memberikan perhatian kepada masa kini alih-alih terus-menerus terjebak dalam
pusaran masa lalu dan ketidakpastian masa depan. Ajaran Buddha yang menjadi
titik persemaian pemikiran Ajahm Brahm itu sungguh luar biasa, dan terkadang
menentang gagasan yang telah ada dalam masyarakat kita ini. Seperti contoh
mengenai pengorbanan diri untuk orang lain, Brahm menentang gagasan tersebut. “Kenapa
kita selalu berpendapat bahwa mengorbankan diri sendiri untuk orang lain di
masyarakat itu adalah perbuatan yang mulia? Berarti Anda tidak mencintai diri
sendiri, dong.” (dikutip dengan perubahan dari Si Cacing dan Kotoran
Kesayangannya, nomer 2 kalau gak salah, males buka referensi). Atau bagaimana
dia menentang gagasan bahwa orang yang bunuh diri akan langsung masuk neraka.
Bukankah bunuh diri hanyalah salah satu dosa saja? Apakah dengan satu
perbuatan, semua perbuatan baik yang telah dilakukan semasa hidup hilang begitu
saja? Brahm jelas tidak mendukung bunuh diri, tetapi dia tidak menyetujui
bagaimana masyarakat seakan-akan menghakimi seseorang dari satu tindakan saja.
Terkadang bila Anda
terjun dan melihat kepada persepsi yang dibangun oleh masyarakat mengenai
kehidupannya, baik itu lewat budaya, bahasa, agama, dan sebagainya, kita akan
melihat sebuah pola yang mungkin sama di belahan dunia manapun. Saya rasa lebih
dari tiga perempat orang di dunia ini menggunakan pola yang sama dalam
hidupnya: lahir, bersekolah, kerja, menikah, memiliki anak, tua, mati
(urutannya bisa dirubah sesuai keadaan yang bersangkutan, termasuk dengan
menghilangkan beberapa bagian dari situ). Kebanyakan orang beranggapan bahwa
itulah hidup. Kitab-kitab suci dari beberapa agama pun memberikan syarat
seperti itu, tentunya dengan batasan dan aturan yang sedikit berbeda satu sama
lain, tetapi polanya tetap sama. Begitu jarangnya ada pola yang berbeda dari
hal tersebut di atas, apalagi jika mengingat betapa kapitalisnya dunia dewasa
ini.
Itu artinya, hidup
telah berada dalam tataran yang boleh dibilang pada saat ini, ngetopnya adalah mainstream. Pola itu diulang terus dari
generasi ke generasi sampai kepada kita pada saat ini. Orang harus
berpendidikan tinggi, orang harus sukses, orang harus memiliki banyak uang dan
harta, sehingga status seseorang kemudian dibedakan atas hal-hal tersebut. Mau
bilang bahwa setiap manusia itu sama kedudukannya di hadapan Tuhan? Iya, tetapi
kedudukan manusia di hadapan manusia yang lain didasarkan atas hal-hal yang
tersebut di atas, dan boleh percaya atau tidak, kita semua memang tidak akan
pernah menjadi makhluk sosialis seperti cita-cita Marx.
Pola mainstream itu jelas tidak berlaku bagi
orang-orang seperti Ajahn Brahm itu. Para biksu bahkan tidak diperbolehkan
untuk memiliki uang. Sekedar menyetir mobil pun mereka tidak boleh. Alhasil,
jika nantinya terjadi zombie appocalipse,
saya takut biksu adalah golongan yang paling cepat menjadi zombie. Para biksu
ini benar-benar seperti sirna ilang
kertaning bumi, hilang ditelan bumi. Mereka tidak memiliki tabungan,
penghasilan, dan sebagainya. Ketidak-mainstream-an
mereka ini mungkin bagi banyak orang sama sekali tidak masuk akal. Secara
jenaka pun Ajahn Brahm berkata, jika ingin mendapatkan konsultasi gratis,
datanglah kepada para biksu, karena mereka hanya makan satu kali sehari, dan
gratis.
Hal yang sama mungkin
juga terjadi di kalangan pemuka agama yang lain. Seperti contohnya, misalnya,
saya kenal dengan seorang romo, namanya Romo Harto. Romo Harto ini benar-benar
romo yang sudah kepayahan. Dia mengalami yang namanya syaraf kejepit, dan pada
akhirnya membuat tubuhnya bergerak sendiri tanpa terkontrol. Makin lama
keadaannya makin parah, namun umatnya (termasuk saya) tetap saja merepotkan
dirinya dengan masalah-masalah yang diderita oleh mereka, termasuk masalah
perkawinan. Saya pernah membayangkan romo-romo ini yang dicurhati oleh umatnya
mengenai perkawinan, pasti sekali dua kali pernah ingin bilang “Oh God Why. Gua
kan belum pernah kawin, dan elu datang ke sini pingin curhat soal pernikahanmu
yang ambyar.” Sebenarnya kasihan juga melihat para biksu atau romo yang seperti
ini nasibnya, tetapi mau bagaimana lagi.
Begitu tidak-mainstream-nya para pemuka agama ini
dalam menjalani kehidupannya, mereka malah memberikan alternatif bagi kehidupan
itu sendiri. Bahkan banyak orang yang bukan pemuka agama sekalipun, tidak
jarang menjalani hidup begitu berbeda dengan orang kebanyakan. Mereka akhirnya
memandang dunia ini dengan sangat berbeda dari kebanyakan orang, terkadang
memang tidak masuk akal mungkin, tetapi mereka tampak fine-fine saja dengan
semua itu.
Hidup akhirnya menghasilkan masyarakat yang tidak hidup mengikuti pola yang “telah diatur” tersebut di atas, tetapi memberikan sebuah alternatif dalam menjalani kehidupan itu sendiri. Memang berat untuk menjadi orang yang berjalan tidak di jalur yang banyak dilalui orang, tetapi kebanyakan akan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah dilihat oleh orang banyak.
Ada begitu banyak jalan yang ada di dalam kehidupan seorang manusia, dan jelas dia bebas untuk memilih. Hanya saja tuntutan dari banyak orang di lingkungannya, bagaimana orang-orang memandang perbuatan kita, itulah yang kemudian menyurutkan langkah kita untuk berjalan menuju arah yang berbeda. Ada orang yang berpendapat: kerja dulu, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, kemudian baru kamu bisa keliling Indonesia dengan uang tabunganmu. Beda jika ada yang berpendapat: persetan dengan semuanya, aku akan keliling Indonesia dulu, baru setelah itu aku akan kerja, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, dan kalau besok ada uang lagi, aku akan keliling Indonesia lagi, tentunya dengan modal yang sedikit lebih banyak. Saya yakin, di antara kedua orang ini, paling tidak orang yang pernah berkeliling Indonesia adalah orang kedua, karena siapa tahu kan orang pertama ketika dia belum lama menikah, kemudian meninggal tanpa pernah sempat mewujudkan cita-citanya?
Anda boleh mengikuti kehidupan dan pemikiran-pemikiran umum yang dikecap oleh kebanyakan masyarakat, tetapi terkadang perlu juga untuk keluar dari hal-hal mainstream seperti itu. Tidak ada salahnya untuk keluar dari jalur, karena hidup hanya sekali, dan kita tidak pernah tahu kapan kita mati.