Tuesday, August 28, 2012

Sekedar Ingin Nulis Saja



Saya sedikit memikirkan hal-hal yang tidak penting akhir-akhir ini. Dengan banyaknya waktu yang saya punya sekarang, sungguh menyenangkan masih bisa memiliki pemikiran sendiri. Bayangkan jika saya kemudian sudah bekerja dan memiliki penghasilan, fokus saya akan berada pada jalur tersebut, dan terkadang itu mematikan pemikiran kita.

                Oke, bukan apa-apa. Hari ini saya mau bercerita mengenai sebuah hal yang tidak terlepas dari akibat terlalu banyak membaca buku-bukunya Ajahn Brahm. Biksu senior di Perth, Australia, itu telah meracuni pemikiran saya dalam memandang kehidupan, khususnya pada titik-titik yang mungkin sedikit vital bagi kebanyakan orang. Ajahn Brahm mengajari bagaimana orang seharusnya melepaskan apa yang ada, memberikan perhatian kepada masa kini alih-alih terus-menerus terjebak dalam pusaran masa lalu dan ketidakpastian masa depan. Ajaran Buddha yang menjadi titik persemaian pemikiran Ajahm Brahm itu sungguh luar biasa, dan terkadang menentang gagasan yang telah ada dalam masyarakat kita ini. Seperti contoh mengenai pengorbanan diri untuk orang lain, Brahm menentang gagasan tersebut. “Kenapa kita selalu berpendapat bahwa mengorbankan diri sendiri untuk orang lain di masyarakat itu adalah perbuatan yang mulia? Berarti Anda tidak mencintai diri sendiri, dong.” (dikutip dengan perubahan dari Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, nomer 2 kalau gak salah, males buka referensi). Atau bagaimana dia menentang gagasan bahwa orang yang bunuh diri akan langsung masuk neraka. Bukankah bunuh diri hanyalah salah satu dosa saja? Apakah dengan satu perbuatan, semua perbuatan baik yang telah dilakukan semasa hidup hilang begitu saja? Brahm jelas tidak mendukung bunuh diri, tetapi dia tidak menyetujui bagaimana masyarakat seakan-akan menghakimi seseorang dari satu tindakan saja.

                Terkadang bila Anda terjun dan melihat kepada persepsi yang dibangun oleh masyarakat mengenai kehidupannya, baik itu lewat budaya, bahasa, agama, dan sebagainya, kita akan melihat sebuah pola yang mungkin sama di belahan dunia manapun. Saya rasa lebih dari tiga perempat orang di dunia ini menggunakan pola yang sama dalam hidupnya: lahir, bersekolah, kerja, menikah, memiliki anak, tua, mati (urutannya bisa dirubah sesuai keadaan yang bersangkutan, termasuk dengan menghilangkan beberapa bagian dari situ). Kebanyakan orang beranggapan bahwa itulah hidup. Kitab-kitab suci dari beberapa agama pun memberikan syarat seperti itu, tentunya dengan batasan dan aturan yang sedikit berbeda satu sama lain, tetapi polanya tetap sama. Begitu jarangnya ada pola yang berbeda dari hal tersebut di atas, apalagi jika mengingat betapa kapitalisnya dunia dewasa ini.

                Itu artinya, hidup telah berada dalam tataran yang boleh dibilang pada saat ini, ngetopnya adalah mainstream. Pola itu diulang terus dari generasi ke generasi sampai kepada kita pada saat ini. Orang harus berpendidikan tinggi, orang harus sukses, orang harus memiliki banyak uang dan harta, sehingga status seseorang kemudian dibedakan atas hal-hal tersebut. Mau bilang bahwa setiap manusia itu sama kedudukannya di hadapan Tuhan? Iya, tetapi kedudukan manusia di hadapan manusia yang lain didasarkan atas hal-hal yang tersebut di atas, dan boleh percaya atau tidak, kita semua memang tidak akan pernah menjadi makhluk sosialis seperti cita-cita Marx.

                Pola mainstream itu jelas tidak berlaku bagi orang-orang seperti Ajahn Brahm itu. Para biksu bahkan tidak diperbolehkan untuk memiliki uang. Sekedar menyetir mobil pun mereka tidak boleh. Alhasil, jika nantinya terjadi zombie appocalipse, saya takut biksu adalah golongan yang paling cepat menjadi zombie. Para biksu ini benar-benar seperti sirna ilang kertaning bumi, hilang ditelan bumi. Mereka tidak memiliki tabungan, penghasilan, dan sebagainya. Ketidak-mainstream­-an mereka ini mungkin bagi banyak orang sama sekali tidak masuk akal. Secara jenaka pun Ajahn Brahm berkata, jika ingin mendapatkan konsultasi gratis, datanglah kepada para biksu, karena mereka hanya makan satu kali sehari, dan gratis.

                Hal yang sama mungkin juga terjadi di kalangan pemuka agama yang lain. Seperti contohnya, misalnya, saya kenal dengan seorang romo, namanya Romo Harto. Romo Harto ini benar-benar romo yang sudah kepayahan. Dia mengalami yang namanya syaraf kejepit, dan pada akhirnya membuat tubuhnya bergerak sendiri tanpa terkontrol. Makin lama keadaannya makin parah, namun umatnya (termasuk saya) tetap saja merepotkan dirinya dengan masalah-masalah yang diderita oleh mereka, termasuk masalah perkawinan. Saya pernah membayangkan romo-romo ini yang dicurhati oleh umatnya mengenai perkawinan, pasti sekali dua kali pernah ingin bilang “Oh God Why. Gua kan belum pernah kawin, dan elu datang ke sini pingin curhat soal pernikahanmu yang ambyar.” Sebenarnya kasihan juga melihat para biksu atau romo yang seperti ini nasibnya, tetapi mau bagaimana lagi.

                Begitu tidak-mainstream-nya para pemuka agama ini dalam menjalani kehidupannya, mereka malah memberikan alternatif bagi kehidupan itu sendiri. Bahkan banyak orang yang bukan pemuka agama sekalipun, tidak jarang menjalani hidup begitu berbeda dengan orang kebanyakan. Mereka akhirnya memandang dunia ini dengan sangat berbeda dari kebanyakan orang, terkadang memang tidak masuk akal mungkin, tetapi mereka tampak fine-fine saja dengan semua itu.

                Hidup akhirnya menghasilkan masyarakat yang tidak hidup mengikuti pola yang “telah diatur” tersebut di atas, tetapi memberikan sebuah alternatif dalam menjalani kehidupan itu sendiri. Memang berat untuk menjadi orang yang berjalan tidak di jalur yang banyak dilalui orang, tetapi kebanyakan akan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah dilihat oleh orang banyak.

                Ada begitu banyak jalan yang ada di dalam kehidupan seorang manusia, dan jelas dia bebas untuk memilih. Hanya saja tuntutan dari banyak orang di lingkungannya, bagaimana orang-orang memandang perbuatan kita, itulah yang kemudian menyurutkan langkah kita untuk berjalan menuju arah yang berbeda. Ada orang yang berpendapat: kerja dulu, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, kemudian baru kamu bisa keliling Indonesia dengan uang tabunganmu. Beda jika ada yang berpendapat: persetan dengan semuanya, aku akan keliling Indonesia dulu, baru setelah itu aku akan kerja, kumpulin uang, menikah, punya anak, mobil, rumah, dan kalau besok ada uang lagi, aku akan keliling Indonesia lagi, tentunya dengan modal yang sedikit lebih banyak. Saya yakin, di antara kedua orang ini, paling tidak orang yang pernah berkeliling Indonesia adalah orang kedua, karena siapa tahu kan orang pertama ketika dia belum lama menikah, kemudian meninggal tanpa pernah sempat mewujudkan cita-citanya?

                Anda boleh mengikuti kehidupan dan pemikiran-pemikiran umum yang dikecap oleh kebanyakan masyarakat, tetapi terkadang perlu juga untuk keluar dari hal-hal mainstream seperti itu. Tidak ada salahnya untuk keluar dari jalur, karena hidup hanya sekali, dan kita tidak pernah tahu kapan kita mati.

Saturday, April 7, 2012

Youngster XI

Tahun 2011-2012 ini mungkin merupakan musim yang mengharu-biru dalam dunia pesepakbolaan. Mulai dari pesta-pesta gol di Liga Premier Inggris, persaingan tiada habisnya antara Madrid-Barcelona, dan terdepaknya banyak tim-tim unggulan dari kancah Liga Champions, ada sebuah fenomena menarik mengenai para pemain senior di tubuh sebuah klub. Kita seringkali melihat bahwa pemain-pemain besar kadangkala menjadi terlalu vital untuk digantikan. Lihat saja bagaimana vitalnya Xavi di Barcelona, sehingga bahkan Fabregas pun kadangkala harus mengalah dipinggirkan. Atau bagaimana tergantungnya Internazionale terhadap Sneijder sehingga cederanya sang pemain selama beberapa waktu membuat Inter kelimpungan berada di papan tengah klasemen Serie A. Tetapi yang paling membuat shock para penggemar sepakbola adalah kembalinya sang maestro lapangan tengah United, Scholes, dari pensiunnya. Ini mungkin menandakan bahwa pemain senior (bahkan veteran) belum mampu untuk digantikan oleh juniornya, atau memang pelatih memiliki kekhawatiran bahwa keseimbangan dan kekuatan tim akan mengalami penurunan akibat terlalu dininya pelatih mengganti sang pemain senior dan membebankan tugasnya yang berat kepada juniornya.

Namun, pelatih juga harus sadar bahwa mereka harus memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk unjuk gigi dan membuktikan kemampuan mereka. Semakin tua seorang pemain, kondisi fisik jelas berpengaruh. Terkadang pemain tua tidak mampu berduel dengan kondisi fisiknya dalam menghadapi, misalnya, menu latihan pra-musim yang berat, maupun kondisi-kondisi lainnya dan juga perubahan bentuk permainan di lapangan yang selalu berubah dari masa ke masa (lihat saja rekaman-rekaman Liga Inggris dari tahun 90an dan sekarang, dan bandingkanlah). Pelatih harus mempunyai pemain muda yang mumpuni, sehingga ketika waktunya tiba untuk mengganti pemain veteran, pelatih memiliki pilihan yang cukup untuk membangun kembali timnya.

Oleh karena itu, beberapa waktu yang lalu saya mencoba untuk searching mengenai para pemain muda berbakat yang sekiranya mampu menjadi pemain-pemain hebat di kemudian hari, yang pada akhirnya akan membawa penyegaran dalam dunia sepakbola ini. Saya menyusun starting eleven untuk para youngster ini, dan inilah Youngster XI versi saya:

Keeper: David De Gea
De Gea mungkin menjadi kiper muda yang belum berpengalaman dan sering membuat blunder pada musim ini. Kemampuannya untuk mengantisipasi bola-bola lambung masih merupakan kelemahannya selama dia bermain di United. Tetapi cara dia membaca permainan dan cara dia menepis bola dan mengantisipasi shooting para pemain depan lawan merupakan sebuah kredit poin tersendiri dari kiper yang diplot untuk menjadi suksesor Edwin van der Saar ini.

Right Back: Gregory van der Wiel
Van der Wiel mungkin sudah tidak terlalu muda lagi ketika tulisan ini dibuat, tetapi bek kanan Ajax ini akan menjadi pemain besar setidaknya jika dia pindah ke tim yang lebih besar lagi karena potensinya sungguh sangat besar bagi pemain timnas Belanda yang pernah mendapatkan penghargaan Dutch Young Player of the Years di musim 2009-2010 ini.

Center Back 1: Mats Julian Hummels
Hummels juga mungkin sudah tidak lagi muda untuk ukuran seorang pemain, tetapi stopper Borussia Dortmund dan juga pemain timnas Jerman ini sungguh merupakan pemain yang sangat cocok untuk menjadi suksesor Arne Friedrich dan Per Mertesacker di timnas. Tipikal orang Jerman yang besar, penuh power serta tidak mudah dijatuhkan.

Center Back 2: Philip Anthony Jones
Bek Inggris ini masih mencari performa terbaiknya musim ini. Setelah bermain bagus di awal musim bersama United, Jones melembek di paruh musim. Tetapi secara khusus dia adalah calon pemain besar di kemudian hari jika dia mampu setidaknya konsisten tiap musimnya.

Left Back: Davide Santon
Newcastle sungguh beruntung mendapatkan pemain ini. Mantan pemain Internazionale ini menunjukkan bakat alaminya untuk menjadi bek sayap. Dengan usia yang masih muda sehingga bahkan Marcelo Lippi pun terketuk untuk memainkannya di timnas senior pada usia 18 tahun, saya yakin dia akan menjadi pemain hebat di kemudian hari dan menjadi rebutan tim-tim besar.

Center Midfielder 1: Christian Eriksen
Satu lagi bakat hebat yang berasal dari Denmark. Pernah menjadi pemain paling muda dalam turnamen Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, pemain yang merumput bersama Ajax ini merupakan pemain yang pandai membaca permainan dan membangun serangan baik lewat tengah maupun dari sayap. Sebuah anugerah bagi klub manapun yang mendapatkannya.

Center Midfielder 2: Mario Gotze
Matthias Sammer sampai harus berkata "One of the best talent that we've ever had" mengenai pemain satu ini. Gotze adalah pemain yang akan membuat perbedaan di setiap pertandingan. Bisa bermain di tengah dan sebagai sayap kanan, para bek lawan harus berhati-hati dan waspada dengan pemain satu ini jika mereka tidak ingin kiper mereka memungut bola berkali-kali dari gawangnya.

Center Midfielder 3: Javi Martinez
Cobalah lewati orang ini dan rasakan takel-takelnya. Kapten timnas Spanyol U-21 di turnamen UEFA U-21 Championship di Denmark ini memiliki postur tubuh setinggi 191 cm yang membuatnya hebat dalam duel-duel udara. Untung saja Barcelona jarang memainkan bola-bola atas, karena tak mungkin bagi Lionel Messi untuk menang duel udara dengan orang satu ini.

Left Wing: Alex Oxlande-Chamberlain
Anda perlu bukti hebatnya orang ini? Lihatlah rekaman pertandingan Arsenal lawan MU tanggal 22 Januari di Emirates Stadium. Sampai-sampai Robin van Persie tampak tidak percaya ketika Oxlade-Chamberlain diganti oleh Andre Arshavin. Pergerakan dan tekniknya yang explosif membuat Oxlade-Chamberlain sangat sulit untuk dihentikan lawan kecuali dengan takel keras. Maka, berhati-hatilah anda dengan takel-takel anda, wahai para bek.

Right Wing: Eden Hazard
Anda pasti gila atau buta jika tidak mengagumi pemain Belgia dan Lille yang satu ini. Berteknik tinggi dan explosif serta kesukaannya untuk bermain di garis pinggir lapangan, bagi saya hanya Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi yang bisa menandingi teknik bermainnya saat ini. Saya tidak mau berkata banyak tentang pemain ini, search saja di Youtube, dan anda akan mengerti.

Striker: Daniel Sturridge
Jika harus memilih antara Neymar, Welbeck, dan Sturridge, bagi saya Sturridge merupakan striker muda yang terbaik untuk saat ini. Neymar belum membuktikan kemampuannya di level atas kompetisi Eropa, sedangkan permainan Welbeck masih labil. Bagi saya Sturridge mampu berbicara banyak di depan gawang bahkan jika dibandingkan dengan Drogba ataupu Torres. Berteknik tinggi, pencetak gol alami, saya yakin timnas Inggris telah menemukan the next Emile Heskey mereka.

Dan jika mereka semua bermain di satu tim? Ya, hanya Tuhan yang tahu.