Monday, December 8, 2014

Evangelion dan Kosongnya Jiwa Manusia

Dulu ketika saya masih belum berada di Jakarta untuk mencari nafkah, saya sempat menjadi kolektor film-film bermutu yang saya dapatkan tidak hanya dari warnet langganan yang sudah begitu terkenalnya di Jogja, namun juga dari kawan-kawan saya yang suka dengan film-film bermutu. Kami juga sempat membuat sebuah perkumpulan pembuat film yang kami namakan Pull-The-String, dan jujur kami boleh bangga karena toh sejelek apapun film yang kami buat, kami merasa bahwa itulah hasil dari buah pemikiran dan kerja keras kami.

Salah satu dari film maupun serial yang saya koleksi adalah serial anime Neon Genesis Evangelion, yang bagi saya sendiri, bisa dikategorikan sebagai suatu agama baru, Agama Eva. Anime ini tidaklah seperti anime lainnya, yang sangat menitikberatkan kepada daerah paling rumit dalam psikologi manusia. Pada dasarnya, kita semua ini memiliki luka-luka batin yang ditempa oleh kehidupan, dan kadang luka ini tidak pernah bisa hilang dari diri kita.

Kita Jiwa yang Terluka

Evangelion menceritakan mengenai Shinji Ikari yang mengendarai robot mecha raksasa yang bertujuan untuk menghadapi serangan dari para Angels, julukan dari makhluk asing setengah dewa. Tak banyak yang bisa saya ceritakan di sini, karena untuk menghormati Hideaoki Ano, maka saya persilakan Anda untuk menontonnya sendiri.

Tetapi perjalanan hidup Shinji dan teman-temannya inilah yang kemudian menyadarkan saya akan suatu hal: jiwa kita benar-benar rapuh. Kita berusaha untuk melindungi jiwa kita ini dari berbagai pengaruh luar, namun kita tak pernah bisa melakukannya. Kepahitan hidup Shinji dan perasaan kehilangan serta kesendiriannya itulah yang membuat saya menyadari bahwa hal yang sama akan selalu berada dalam sanubari hidup manusia.

Shinji adalah cerminan diri kita, begitu pula dengan Asuka atau bahkan Rei. Ada mekanisme self defence dalam diri kita saat jiwa kita tersakiti, dan apabila sampai pada puncaknya, kita akan mengalami suatu kondisi kejiwaan parah yang bisa berujung kepada kegilaan. The world is not a playground. Life is not the same as we expected. Bahkan dari seorang paling sukses yang pernah kita dengar, dia pasti memiliki sejarah kelam yang tak akan pernah dia lupakan.

Jiwa kita itu sendiri sebenarnya merasa sendirian. Kita lahir di dunia ini sendirian, dan kita akan mati sendiri pula. Selama hidup mungkin kita memiliki banyak teman dan relasi, namun pada satu titik, kita akan pernah merasakan bagaimana sendiriannya kita. Ada wajah yang kita tampilkan di muka umum, namun ada juga wajah yang hanya kita bagi dengan diri kita sendiri. Jiwa kita mendambakan pemenuhan, namun sampai akhir hayat kita akan tetap ada kekosongan yang tak pernah terisi. Dalam Evangelion, ini dipersonifikasikan dengan keinginan jiwa-jiwa manusia untuk kembali bersatu dalam rahim Lilith, the Second Angel, sehingga pada gilirannya, kekosongan tersebut akan terisi.

Apakah personifikasi itu bisa dibenarkan? Dalam kehidupan kita, tak jadi soal apakah memang jiwa-jiwa manusia itu memiliki keinginan untuk kembali ke asalnya, namun kita benar-benar harus memahami bahwa jiwa kita takkan pernah terisi penuh. Dia akan menyisakan satu lembar yang takkan pernah diisi, dan memang takkan pernah sama sekali. Luka batin kita dalam menghadapi kehidupan ini takkan pernah sembuh, pun takkan pernah mendapatkan pemenuhan yang kita inginkan karena kenyataan hidup dan pahitnya jalan yang ditempuh dalam hidup kita semua ini memang takkan pernah bisa ditolerir oleh jiwa kita, sekuat apapun kita mencoba menghadapinya sebagai manusia.

Kita mencari tapi tak kita temukan. Kita inginkan, tapi tak diberikan. Berapa banyak dari kita yang mencari pemenuhan jiwa kita, dan kemudian tersadar bahwa itupun tidak cukup? Betapapun kita mencari dari semua gemerlap dunia, namun kita takkan pernah menemukan bagian jiwa kita yang hilang tersebut.

Apa sih yang ditawarkan oleh kehidupan untuk diri kita?

Kehidupan Adalah Waktu Untuk Menuju Saat Hukuman Mati

Saya pernah membaca ungkapan bahwa kehidupan ini adalah hukuman mati. Hidup ini adalah tempat terakhir sebelum kita dijagal. Betapa mengerikannya hidup ini. Kita hidup hanya untuk menyongsong kematian kita. Setelah kita mati, hidup takkan ada maknanya lagi. Kadang saya berpikir bahwa, kematian itu adalah pembebasan dari hukuman bernama kehidupan. Kehidupan adalah penjara bagi jiwa kita, waktu yang sempit untuk mengetahui bahwa hukuman mati sudah di depan mata. Apakah dengan kematian, jiwa kita yang kosong ini akan terisi? Saya toh tidak tahu, namun jiwa ini akan terbebas dari raga rapuh ini. Jiwa yang terpenjara seperti ini jelas mendambakan kebebasannya yang hakiki, dan mungkin itulah yang menjelaskan kekosongan dalam jiwa kita ini.

Toh, di akhir cerita, ketika hampir semua manusia mati dan jiwanya berkumpul dalam Lilith, Shinji dan Asuka memutuskan untuk kembali ke hidup mereka yang fana itu. Lilith mati dan meninggalkan dunia yang porak poranda. Namun mereka berdua memilih untuk tinggal, memilih untuk menjalani kehidupan yang kejam ini.

Itulah yang dinamakan pilihan. Betapapun kejam maupun hancurnya hidup kita, betapapun kosongnya jiwa kita, betapapun tidak enaknya hidup itu, kita selalu ada pilihan. Setidaknya, kita masih bisa berusaha untuk tersenyum di dalam neraka bernama kehidupan. Kita masih bisa tertawa walaupun batin menangis. Ataupun ketika hidup ini penuh penderitaan dan luka, jiwa kita tak perlu ikut bersedih.

Kisah Shinji, dan juga kisah-kisah kita, adalah satu bagian yang menjelaskan bahwa terkadang betapapun rapuhnya jiwa kita, masih ada alasan untuk menertawakan hidup ini ataupun mengolok-oloknya, seperti Asuka yang saat melihat Shinji menangis di dekatnya, masih sempat berkata, "Kau menjijikkan."


KEDOYA, 8 DESEMBER 2014