Hei kamu,
yang kelak akan aku cintai seumur hidupku.
Mungkin
kamu akan bertanya-tanya mengapa Ayah menuliskan surat ini.
Kau belum
lahir ketika tangan ini menekan tuts keyboard laptop Ayah, yang bagimu di masa
depan hanya akan menjadi byte-byte usang termakan zaman.
Dan saat
ini pun Ayah belum memikirkan kapan tepatnya Ayah akan berasyik-masyuk dengan
Ibumu untuk berbagi keajaiban yang akan menjelma menjadi dirimu kelak.
Mungkin
wanita yang bersama Ayah kini pun bukan Ibumu kelak. Mungkin juga dialah Ibumu.
Tiada yang tahu apapun yang akan terjadi bahkan satu jam setelah Ayah
menyelesaikan tulisan ini. Mungkin wanita itu akan berkata “Ya” ketika dia aku
yakinkan untuk menikahiku. Atau bahkan “Tidak”, yang berarti dia belum tentu pula
akan menjadi Ibumu. Ayah sama sekali tidak akan tahu siapa Ibumu. Tetapi jika
kelak seorang wanita itu yang kemudian melahirkanmu ke dunia ini, bagi Ayah dia
adalah sebuah keniscayaan hidup. Sebuah paradox paling indah yang akan Ayah
temui di dunia ini selain dirimu.
Hei anakku,
jika kamu sudah mengerti kelak apa yang Ayah tulis ini, biarkanlah hatimu yang
menuntun pikiran dan rasamu. Mungkin bagimu kelak Ayah hanyalah seorang manusia
usang yang terlahir di akhir dekade 80-an, yang terjebak mendengarkan musik-musik
yang dimainkan oleh para hippies anti Perang Vietnam, musik-musik kuno dari
zaman yang bahkan Ayah pun tak akan pernah hirup kepekatan oksigennya, menonton
film-film aneh seperti Birdman, The Dark Knight, film mengenai gagal move
on nya Cinta dari Rangga, mengapa Ayah suka dengan novel-novelnya Michael
Chrichton, atau terkesima ketika membaca Orwell dan Alan Moore, bersumpah serapah ketika dibohongi oleh Hideaki Anno dengan Evangelion-nya, dan mungkin pula engkau
bertanya-tanya mengapa Ayah masih suka dengan komik lama mengenai seorang
reporter berjambul dan anjing putihnya dari Belgia yang berpetualang mengelilingi dunia (Hey,
paling tidak reporter Belgia itu sudah pernah menjejakkan kakinya di Indonesia,
walaupun Ayah ragu apakah nantinya engkau tahu dimanakah Bandara Kemayoran itu
berada). Bertanyalah, dan Ayah akan menjawabnya.
Ayah tahu,
zaman kita berbeda. Ayah hidup dalam banyak fase kehidupan. Mulai dari bermain benthik di lapangan, mandi di sungai, mengajari berenang anjing kesayangan Ayah, Bingo, di sungai
dekat bendungan, membantu bulikmu yang terjeblos ke dalam lumpur sawah bersama
dengan temannya yang cantik yang kemudian Ayah sempat pacari. Hahaha.
Pernah juga Ayah merasakan dimarahi Mbah buyutmu karena memperagakan gaya jari “metal” ketika pada zaman itu hanya pohon beringinlah yang patut disembah. Atau bahkan ketika dengan deg-degan di depan televisi melihat seorang mahasiswa merangkak di dalam parit menghindari terjangan peluru hanya untuk melihat Pak Harto mengumandangkan kata, “Saya berhenti.”
Pernah juga Ayah merasakan dimarahi Mbah buyutmu karena memperagakan gaya jari “metal” ketika pada zaman itu hanya pohon beringinlah yang patut disembah. Atau bahkan ketika dengan deg-degan di depan televisi melihat seorang mahasiswa merangkak di dalam parit menghindari terjangan peluru hanya untuk melihat Pak Harto mengumandangkan kata, “Saya berhenti.”
Ayah
membaca banyak hal. Tulisan-tulisan dan novel-novel bagus. Mungkin tidak
sebagus teman-teman Ayah yang bisa membedakan tulisan Derrida dan Hemmingway.
Kesukaan Ayah di waktu sore hari ketika banyak kartun disetel di televisi,
menikmati Mario Bros sampai Winning Eleven, atau bahkan ketika suatu saat tidak
sengaja memainkan Bioshock Infinite tanpa henti selama seminggu. Ah, pada masamu
kelak engkau akan tertawa memainkan itu semua.
Mungkin
pula engkau akan menganggap Ayah seorang yang sangat kuno bahkan dalam
modernnya zaman Ayah saat ini. Bayangkan, dikala semua anak muda dan
teman-teman Ayah menggunakan kartu kredit, Ayah bahkan sampai menolak puluhan
penawaran asyik untuk dapat diskon 20% di restorant A, atau diskon 10% untuk
membeli di online shop B. Dikala di zamanmu engkau pasti sudah memakai sesuatu
yang jauh lebih hebat dari sekedar kartu kredit, mungkin engkau akan berpikir
bahwa Ayah benar-benar aneh pada zamannya.
Yang ingin
Ayah sampaikan sebenarnya simple. Ayah ingin kamu menjadi dirimu sendiri.
Nikmatilah zamanmu. Zaman Ayah sudah akan berlalu ketika engkau nanti hidup, tetapi tidak serta-merta
menghilang dari hidupmu. Bentuknya mungkin bukan lagi serupa yang Ayah rasakan
dulu, tetapi dia akan menjelma dalam diri Ayahmu itu sendiri.
Ayah
mungkin akan sering mengguruimu. Bukan karena Ayah pintar, atau jauh lebih
berpengalaman dari dirimu. Tantanganmu pasti akan berbeda dengan tantangan di
zaman Ayah. Mungkin wejangan Ayah akan menjadi sangat usang di zamanmu. Kamu
tinggal pilihlah yang terbaik untuk dirimu. Walau begitu, kadang engkau
membutuhkan opsi dan pandangan yang berbeda. Janganlah engkau menutup diri dari
pendapat yang berbeda. Dengarkanlah, dan melangkahlah mantap dengan keputusanmu
sendiri.
Pilihan itu
adalah tanggung jawab hidupmu. Datanglah jika kamu memerlukan bantuan, tetapi
sebelum engkau malas untuk menyelesaikan permasalahanmu sendiri, berusahalah
terlebih dahulu. Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu dikala engkau
membutuhkanku.
Ayah ingin
selalu membuatmu bahagia. Sebagai orang tua, mana ada yang bisa tahan melihat
anaknya menderita. Engkau akan menjadi bagian dari hidupku, separuh hidupku,
sebuah cinta yang mungkin kelak akan engkau perbandingkan dengan ibumu. Tetapi
aku berkata kepadamu, kadang penderitaan dan kebahagiaan itu bagaikan sebuah
uang kertas, saling membelakangi bertolak belakang. Tidak ada yang abadi. Tetapi
bukankah dua sisi mata uang itulah yang bisa membeli benda yang engkau sukai,
atau membantu orang yang membutuhkan? Tanpa itu, dia hanya kertas saja. Tidak lebih.
Anakku,
kelak engkau akan mengerti pentingnya menjadi dirimu sendiri. Dikala semua
orang berkata “Ya” sedangkan hatimu berkata “Tidak”, ikutilah tidak hanya
hatimu saja, tetapi juga otakmu. Pakailah keduanya untuk menentukan langkahmu.
Pilihlah langkahmu dengan kesadaran tertinggi bahwa engkau tidak hanya dipandu
oleh logika, tetapi juga oleh rasa. Bangunlah kepercayaan dirimu darinya.
Engkau boleh idealis atau mengikuti arus asalkan kamu tidak merugikan orang
lain. Jangan pernah menyesali keputusan yang engkau buat setelah kamu
ucapkan.
Ah,
tampaknya Ayah sudah mulai mengguruimu. Maafkan Ayah ya Nak. :)
Anakku,
Ayah mencintaimu. Maafkan Ayah bila kelak kamu merasa Ayah menyakitimu, atau
pun membuatmu tidak bahagia. Menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup.
Semoga di sela waktumu yang padat itu kamu akan ingat kepada Ayah dan Ibumu,
berkunjung tiap waktu ketika kamu tidak terlalu sibuk, memeluk Ayah dan Ibumu
yang makin lama makin beruban, atau hanya dengan satu telepon di senja hari
yang sibuk.
Bahagia
Ayah itu sederhana. Semoga engkau tidak terlambat untuk menyadarinya.
Kedoya.
16/6/2016
No comments:
Post a Comment