Tuesday, June 21, 2016

Cerita-cerita Mengenai Orang-Orang

Keseharian saya adalah bersama dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Mereka sungguh tidak pernah terbayangkan akan berada dalam kehidupan saya. Ini menarik, sebab saya datang dari sebuah rona kehidupan yang berbeda dari yang sudah saya lakukan sekarang.

Saya datang dari sebuah kota new metropolitan yang semakin terkenal karena media sosial dan sebuah film mengenai gagal move on-nya dua orang insan yang telah 14 tahun (atau 9 tahun?) tidak bertemu. Kehidupan sangat jauh berbeda dengan di sini. Tetapi yang paling penting adalah satu hal yang sama sekali berbeda adalah ketika saya berada di kota kelahiran saya, saya bahkan tidak ingat pernah berurusan dengan hati dan pemikiran orang kebanyakan.

Berbeda ketika saya menginjakkan kaki di Jakarta. Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa saya akan bergulat dengan keseharian dari orang-orang yang mungkin akan terlupakan dalam peta zaman. Mereka yang menyambung hidup dengan sebagian besar dari mereka tak pernah menginjakkan kaki maupun merasakan dinginnya terpaan AC kantor, meja yang penuh dengan berkas, laptop mentereng yang bisa mengkalkulasikan rumus Excel tanpa hang, tak pernah merasakan sepiring udon yang dimakan bersama dengan sashimi di sebuah restoran mahal yang biasanya penuh dengan eksekutif muda atau karyawan bulanan ketika tiba hari gajian. Mereka orang yang bertahan hidup dengan caranya dan juga kisahnya sendiri.

Kisah-kisah mereka begitu kompleksnya, sampai heran bahwa saya (yang kata salah satu teman mendefinisikan tentang saya, Introvert) bisa menjalin hubungan dengan banyak orang.

All I can do is just listen. Ketika kamu mendengarkan, kamu akan mengerti banyak hal.
Di balik gedung-gedung mentereng Jakarta, di sanalah terdapat, bukan sekedar angka-angka dalam data Badan Pusat Statistik, kehidupan yang mungkin jauh dari kegemilangan bagi orang-orang yang mendambakan kehidupan tanpa cela dan karir mentereng. Terdapat banyak faktor, masalah, dan kondisi sosial yang kompleks, yang anehnya hanya dihitung sebagai angka ketika jatuh Pemilu. Karakter-karakter manusia-manusia yang berbeda dan kadang membuat miris. Kisah-kisah mereka sungguh, apabila engkau mau mendengarkan dengan seksama, bukan tidak mungkin bisa tercipta ratusan novel yang bisa disejajarkan dengan tulisan Edgar Alan Poe, Allan De Botton, atau paling tidak NH Dini.

The real world is out there if you want to listen.

Seorang kakek tua yang bekerja dengan tubuh rentanya, siang malam, demi menyekolahkan anaknya di sebuah universitas di pusat kota. Sang anak yang harus menempuh empat kali berganti bus kota hanya untuk sampai tujuan.

Seorang ibu-ibu setengah baya yang berangkat dari salah satu kota di Jawa Tengah, yang selalu bersikukuh dia memiliki suami ketika semua orang bergosip dia adalah seorang janda.

Seorang wanita yang harus tidur di dalam bilik sempit warung hanya demi menghidupi seorang putrinya di kampung.

Seorang wanita yang begitu menyesal telah membuat penderitaan bagi suaminya karena kenakalannya, di saat sang suami begitu tabah mendampinginya dikala kemudian dunianya runtuh saat sang suami didiagnosa mengalami penyakit yang susah disembuhkan.

Sepasang suami istri yang demi mendapatkan penghasilan untuk pulang kampung menengok anaknya yang masih kecil, tetap bekerja walaupun banjir merendam separuh tokonya.

Seorang wanita yang sangat tangguh dan bertekad untuk menghidupi anak-anaknya tanpa pernah mengucapkan kata cerai di saat dia tahu bahwa suaminya dulu menggunakan ilmu hitam untuk membuat dirinya mau dinikahi, di saat pacarnya ketika masa mudanya dulu ingin meminangnya dan ditolaknya.

Sepasang suami istri yang setelah bertahun-tahun belum juga memiliki anak. Setiap kali ada anak kecil datang ke warung mereka, mereka begitu gembira di saat sebenarnya mereka bersedih karena melihat kebahagiaan kecil itu bukanlah milik mereka.

Seorang wanita tangguh yang memutuskan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan usaha ayahnya, yang membawa anaknya meninggalkan suaminya di negeri di seberang lautan sana. Dia memutuskan untuk tidak pernah menceritakan apapun mengenai masalah yang telah dia alami di sana kepada siapapun, termasuk orang tuanya, dan bagaimana orang tuanya masih tetap menerima buah hatinya itu dengan lapang dada.

Sepasang suami istri yang membangun usahanya hingga berhasil, namun sebuah musibah kebakaran merenggut semuanya. Dengan keteguhan mereka tidak menyerah, dan memutuskan untuk membangun semuanya lagi mulai dari nol.

Seorang mahasiswa yang demi uang kuliahnya, terpaksa menjadi simpanan seorang istri pejabat. Ia tidak bisa melarikan diri dari hidupnya tersebut, karena ketika dia mencoba, dia selalu ditemukan.

Seorang ibu yang dengan gigihnya, demi biaya membangun rumahnya di kampung dan demi sekolah anaknya, rela untuk bekerja tanpa kenal waktu sampai tidak mampu menyediakan waktu untuk sekedar meluangkan waktu demi kesenangannya.

Seorang bapak yang karena keadaannya, rela tinggal di dekat tempat pembuangan sampah, hanya demi menghidupi keluarganya.

Seorang ibu yang harus tinggal di perkampungan kumuh, dan selalu mengeluh ketika orang “mengutang” barang dagangannya, kemudian kabur tanpa jelas rimbanya, tetapi dia tidak punya banyak pilihan untuk menghadapinya.

Sebuah keluarga yang tidak mampu membayar uang kontrakan, terpaksa harus angkat kaki untuk pindah ke kontrakan di sebuah pemukiman kumuh yang jauh lebih murah sewanya di saat sang anak yang masih sekolah dasar merengek meminta uang sekolah.

Seorang bapak yang tergiur dengan bisnis batu akik yang sedang booming, menggadaikan sepeda motornya untuk modal usaha, dan mendapati dia kesulitan untuk membayar kontrakan ketika bisnis tersebut ternyata hanya sekejap saja hadir.

Beberapa keluarga yang cemas menanti kabar mengenai penggusuran yang akan dilakukan oleh pemerintah, dan yang tidak tahu mau kemana mereka setelah ini.

Di luar sana, itulah keajaiban dan penderitaan kehidupan. Kehidupan yang kadang jika kita tahu, mungkin akan bergidik mendengarnya. Kehidupan yang mungkin Anda pikir mustahil untuk terjadi. Kehidupan yang mungkin bisa juga terjadi kepada Anda atau Anda bisa belajar daripadanya. Dibalik gorden lampu-lampu jalanan yang gemerlapan, dibalik sangkakala bunyi klakson kendaraan yang lalu-lalang, itulah mereka. Itulah kita. All you need is just listen.



NB: List ini masih panjang, dan mungkin tidak bisa saya jabarkan karena saking banyaknya. Namun ketika saya menyusun list ini, saya mengabaikan beberapa kisah, karena saya tahu, kisah-kisah itu lebih baik saya simpan sendiri tanpa perlu dituliskan.


Kedoya 21/6/2016

No comments: