Keseharian
saya adalah bersama dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda.
Mereka sungguh tidak pernah terbayangkan akan berada dalam kehidupan saya. Ini
menarik, sebab saya datang dari sebuah rona kehidupan yang berbeda dari yang
sudah saya lakukan sekarang.
Saya datang
dari sebuah kota new metropolitan
yang semakin terkenal karena media sosial dan sebuah film mengenai gagal move
on-nya dua orang insan yang telah 14 tahun (atau 9 tahun?) tidak bertemu.
Kehidupan sangat jauh berbeda dengan di sini. Tetapi yang paling penting adalah
satu hal yang sama sekali berbeda adalah ketika saya berada di kota kelahiran
saya, saya bahkan tidak ingat pernah berurusan dengan hati dan pemikiran orang
kebanyakan.
Berbeda
ketika saya menginjakkan kaki di Jakarta. Tak pernah terbayangkan dalam hidup
saya bahwa saya akan bergulat dengan keseharian dari orang-orang yang mungkin
akan terlupakan dalam peta zaman. Mereka yang menyambung hidup dengan sebagian
besar dari mereka tak pernah menginjakkan kaki maupun merasakan dinginnya
terpaan AC kantor, meja yang penuh dengan berkas, laptop mentereng yang bisa
mengkalkulasikan rumus Excel tanpa hang, tak
pernah merasakan sepiring udon yang
dimakan bersama dengan sashimi di
sebuah restoran mahal yang biasanya penuh dengan eksekutif muda atau karyawan
bulanan ketika tiba hari gajian. Mereka orang yang bertahan hidup dengan
caranya dan juga kisahnya sendiri.
Kisah-kisah
mereka begitu kompleksnya, sampai heran bahwa saya (yang kata salah satu teman mendefinisikan tentang saya, Introvert) bisa menjalin hubungan
dengan banyak orang.
All I can
do is just listen. Ketika kamu mendengarkan, kamu akan mengerti banyak hal.
Di balik
gedung-gedung mentereng Jakarta, di sanalah terdapat, bukan sekedar angka-angka
dalam data Badan Pusat Statistik, kehidupan yang mungkin jauh dari kegemilangan
bagi orang-orang yang mendambakan kehidupan tanpa cela dan karir mentereng. Terdapat
banyak faktor, masalah, dan kondisi sosial yang kompleks, yang anehnya hanya
dihitung sebagai angka ketika jatuh Pemilu. Karakter-karakter manusia-manusia
yang berbeda dan kadang membuat miris. Kisah-kisah mereka sungguh, apabila
engkau mau mendengarkan dengan seksama, bukan tidak mungkin bisa tercipta
ratusan novel yang bisa disejajarkan dengan tulisan Edgar Alan Poe, Allan De
Botton, atau paling tidak NH Dini.
The real
world is out there if you want to listen.
Seorang
kakek tua yang bekerja dengan tubuh rentanya, siang malam, demi menyekolahkan
anaknya di sebuah universitas di pusat kota. Sang anak yang harus menempuh
empat kali berganti bus kota hanya untuk sampai tujuan.
Seorang
ibu-ibu setengah baya yang berangkat dari salah satu kota di Jawa Tengah, yang
selalu bersikukuh dia memiliki suami ketika semua orang bergosip dia adalah
seorang janda.
Seorang
wanita yang harus tidur di dalam bilik sempit warung hanya demi menghidupi
seorang putrinya di kampung.
Seorang
wanita yang begitu menyesal telah membuat penderitaan bagi suaminya karena
kenakalannya, di saat sang suami begitu tabah mendampinginya dikala kemudian
dunianya runtuh saat sang suami didiagnosa mengalami penyakit yang susah
disembuhkan.
Sepasang
suami istri yang demi mendapatkan penghasilan untuk pulang kampung menengok
anaknya yang masih kecil, tetap bekerja walaupun banjir merendam separuh tokonya.
Seorang
wanita yang sangat tangguh dan bertekad untuk menghidupi anak-anaknya tanpa
pernah mengucapkan kata cerai di saat dia tahu bahwa suaminya dulu menggunakan
ilmu hitam untuk membuat dirinya mau dinikahi, di saat pacarnya ketika masa
mudanya dulu ingin meminangnya dan ditolaknya.
Sepasang
suami istri yang setelah bertahun-tahun belum juga memiliki anak. Setiap kali
ada anak kecil datang ke warung mereka, mereka begitu gembira di saat
sebenarnya mereka bersedih karena melihat kebahagiaan kecil itu bukanlah milik
mereka.
Seorang
wanita tangguh yang memutuskan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan usaha ayahnya,
yang membawa anaknya meninggalkan suaminya di negeri di seberang lautan sana.
Dia memutuskan untuk tidak pernah menceritakan apapun mengenai masalah yang
telah dia alami di sana kepada siapapun, termasuk orang tuanya, dan bagaimana
orang tuanya masih tetap menerima buah hatinya itu dengan lapang dada.
Sepasang
suami istri yang membangun usahanya hingga berhasil, namun sebuah musibah
kebakaran merenggut semuanya. Dengan keteguhan mereka tidak menyerah, dan
memutuskan untuk membangun semuanya lagi mulai dari nol.
Seorang
mahasiswa yang demi uang kuliahnya, terpaksa menjadi simpanan seorang istri
pejabat. Ia tidak bisa melarikan diri dari hidupnya tersebut, karena ketika dia
mencoba, dia selalu ditemukan.
Seorang ibu
yang dengan gigihnya, demi biaya membangun rumahnya di kampung dan demi sekolah
anaknya, rela untuk bekerja tanpa kenal waktu sampai tidak mampu menyediakan
waktu untuk sekedar meluangkan waktu demi kesenangannya.
Seorang bapak
yang karena keadaannya, rela tinggal di dekat tempat pembuangan sampah, hanya
demi menghidupi keluarganya.
Seorang ibu
yang harus tinggal di perkampungan kumuh, dan selalu mengeluh ketika orang “mengutang”
barang dagangannya, kemudian kabur tanpa jelas rimbanya, tetapi dia tidak punya
banyak pilihan untuk menghadapinya.
Sebuah
keluarga yang tidak mampu membayar uang kontrakan, terpaksa harus angkat kaki
untuk pindah ke kontrakan di sebuah pemukiman kumuh yang jauh lebih murah sewanya
di saat sang anak yang masih sekolah dasar merengek meminta uang sekolah.
Seorang
bapak yang tergiur dengan bisnis batu akik yang sedang booming, menggadaikan sepeda motornya untuk modal usaha, dan
mendapati dia kesulitan untuk membayar kontrakan ketika bisnis tersebut
ternyata hanya sekejap saja hadir.
Beberapa
keluarga yang cemas menanti kabar mengenai penggusuran yang akan dilakukan oleh
pemerintah, dan yang tidak tahu mau kemana mereka setelah ini.
Di luar
sana, itulah keajaiban dan penderitaan kehidupan. Kehidupan yang kadang jika
kita tahu, mungkin akan bergidik mendengarnya. Kehidupan yang mungkin Anda pikir
mustahil untuk terjadi. Kehidupan yang mungkin bisa juga terjadi kepada Anda
atau Anda bisa belajar daripadanya. Dibalik gorden lampu-lampu jalanan yang
gemerlapan, dibalik sangkakala bunyi klakson kendaraan yang lalu-lalang, itulah
mereka. Itulah kita. All you need is just listen.
NB: List
ini masih panjang, dan mungkin tidak bisa saya jabarkan karena saking
banyaknya. Namun ketika saya menyusun list ini, saya mengabaikan beberapa
kisah, karena saya tahu, kisah-kisah itu lebih baik saya simpan sendiri tanpa
perlu dituliskan.
Kedoya 21/6/2016
No comments:
Post a Comment