Tuesday, March 25, 2008

Tentang Perbedaan...

GERALDUS DANISTYA KALOKA PUTRA
HUBUNGAN INTERNASIONAL UGM
MATA KULIAH: SISTEM SOSIAL POLITIK INDONESIA




Pengantar

Cerita di bawah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Sistem Sosial Politik Indonesia. Ada dua cerita yang akan diketengahkan dalam laporan ini, yang pertama adalah cerita mengenai kejadian buruk yang saya alami akibat dari diskriminasi atau akibat dari adanya perbedaan. Cerita kedua mengetengahkan tentang kejadian yang baik atau menggembirakan yang saya alami dalam menyikapi perbedaan. Walaupun begitu, semua cerita di bawah ini adalah FAKTA dan tidak mengada-ada.

*****



DIA MEMANGGILKU KAMBING


Masa-masa SMP merupakan masa-masa yang penuh gejolak, bukan saja karena masa SMP merupakan masa paling labil dalam kehidupan seseorang akibat proses perubahan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan (atau dengan kata lain sedang menjajaki masa-masa pubertas), tetapi juga karena banyak faktor yang mempengaruhi, yang terkadang juga merubah jalan pikiran seseorang, dan salah satu faktor yang paling dominan adalah rasa ketertarikan dengan lawan jenis. Hahaha...

Namun bukan masalah itu yang akan saya bahas di sini. Saya ingin menceritakan bagaimana suatu peristiwa yang miris dan penuh dengan kebencian pernah saya rasakan di masa-masa kehidupan saya saat masih bersekolah di SMP.

SMP tempat saya menuntut ilmu itu adalah salah satu SMP Negeri favorit di kota Yogyakarta. Sekilas memang SMP ini merupakan tempat yang menyenangkan, karena selain cukup besar, juga bangunannya cukup megah dan sejuk karena banyak tumbuh pohon-pohon besar yang rindang. Lagipula, anggapan dan respon masyarakat Yogyakarta terhadap sekolah itu sangat baik, terlebih karena sekolah ini selalu menjadi salah satu pilihan utama orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Pokoknya sekolah itu memang sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat belajar dan mengajar. Hanya saja ada masalah yang serius dengan sekolah ini, terutama dalam masalah pembauran antar siswanya.

Entah mengapa kebijakan sekolah ini melakukan semacam pemisahan antar siswanya, terutama menyangkut pembagian kelas-kelasnya yang disusun berdasarkan atas pembagian dengan kriteria tertentu. Maksudnya begini, dalam satu angkatan, terdapat sekitar 400 siswa. 400 siswa tersebut dibagi ke dalam 10 kelas yang artinya, satu kelas dihuni oleh 40 orang anak (benar-benar tidak kondusif untuk belajar, sebab kelas yang terlalu besar malah terkadang menyulitkan proses belajar mengajar tersebut). Namun itu saja belum cukup. Masih ada lagi pembagian berdasarkan atas agama para murid dengan dalih untuk memudahkan pengaturan jadwal Pelajaran Agama, yaitu kelas Kecil, Tengah, dan Besar. Kelas Kecil adalah kumpulan dari kelas nomor 1 sampai kelas nomor 4. Siswa-siswa kelas Kecil adalah campuran dari siswa-siswa beragama Islam dan Katolik. Kelas Tengah adalah kumpulan dari kelas nomor 5 dan 6 yang dihuni oleh siswa-siswa beragama Islam dan Kristen. Sedangkan kelas Besar adalah kumpulan dari kelas nomor 7 sampai nomor 10. Kalau dalam kelas Besar, dari kelas nomor 7 sampai 9 semuanya beragama Islam, namun kelas nomor 10 berisikan campuran antara siswa Muslim dan Hindu. Semua ini terjadi di seluruh angkatan, mulai dari kelas I sampai kelas III. Oh ya, waktu kelas II siswa diacak kelasnya, namun tetap saja berada pada range yang sama, yaitu kelas Kecil, Tengah, dan Besar.

Nah, pada waktu kelas satu, saya ditempatkan di kelas 1 urutan ke-4, sebuah kelas yang cukup strategis karena berada didekat tangga yang menghubungkan antara kelas-kelas yang lain. Karena cukup strategis itulah di depan kelas ini sering dipakai untuk lewat anak-anak dari kelas lain, sehingga kesempatan untuk berkenalan dengan anak dari kelas lain cukup terbuka lebar. Kerugiannya adalah terkadang anak-anak yang lalu lalang itu mengakibatkan suasana yang cukup ramai.

Nah, di depan kelas itu, ada sebuah bangku panjang yang sering dipakai oleh anak-anak untuk nongkrong, melihat-lihat anak-anak yang lewat, atau sekedar duduk-duduk sambil belajar. Suatu kali, ketika saya dan teman-teman lainnya sedang duduk-duduk di situ, ketika keadaan sedang bercanda, seorang teman saya yang bernama Walijo (bukan nama sebenarnya), mengejek saya sambil berkata, “Woo, dasar Geraldus Geraldus, dus dus, wedhus mambu (kambing bau)!”

Saya hanya terdiam. Walaupun tidak marah, tahu kalau dia hanya bercanda, dan saya rasa dia juga tidak mengerti (kebetulan dia adalah seorang Muslim), saya kemudian menjelaskan bahwa Geraldus itu adalah nama seorang santo atau orang suci yang dihormati dalam ajaran Katolik, dan orang Katolik mempunyai nama santo (bagi laki-laki) atau santa (bagi perempuan) sebagai pelindungnya. Karena santo atau santa adalah orang suci dalam kepercayaan Katolik, tidak pantas rasanya jika dia mengejek saya dengan menggunakan nama itu.

Sebenarnya memang hal itu bukan hal yang besar, dan bagi saya itu tidak masalah, namun tetap saja saya tidak ingin ada nada-nada sentimen dalam hal ini, dan saya ingin memberikan pengertian kepadanya agar tidak mengulanginya lagi. Saya takut dia akan terlibat masalah jika melakukannya lagi, apalagi bila orang yang dia ejek tidak sesabar saya.

Namun dia kemudian balas menjawab, “Opo opo? Ra trimo po piye? Ha? (Apa apa? Tidak terima begitu? Ha?)”. Apa yang dia katakan itu membuat saya tidak habis pikir kepadanya. Ini anak sudah diberi tahu salah, malah menantang.

Saya tidak ingin lama-lama ribut dengannya, dan kemudian saya jawab, “Sak karepmu lah. Tapi kowe wis ngece-ngece aku nganggo sentimen agama. Piye nek saiki dhewe ketemu Guru BP ben kowe iso tak laporke tentang penghinaan agama? (Sesukamulah. Tapi kamu sudah mengejek aku dengan menggunakan sentimen agama. Bagaimana kalau sekarang kita bertemu dengan Guru BP supaya kamu saya laporkan tentang penghinaan agama?)”.

Dia kemudian terdiam. Saya kemudian meninggalkan dia di situ. Seringkali sesudah kejadian itu, dia memang diam saja kepada saya, namun saya tahu di belakang saya dia masih memendam kebencian kepada saya, dan dalam beberapa kesempatan dia masih mengejek-ejek saya, walaupun saya terus diamkan saja, karena saya tahu mengurusi orang macam dia tak ada manfaatnya sama sekali.


****



AGAMA=UNIVERSAL

Masa SMA katanya merupakan masa yang paling indah dalam hidup. Masa-masa dimana seorang remaja sudah mulai beranjak dewasa, sudah mengenal yang namanya pacaran, pensi musik, sudah boleh memakai motor, dan bahkan sudah boleh memiliki SIM dan KTP yang menandakan secara hukum seorang remaja sudah dianggap dewasa, atau dengan kata lain merupakan gerbang masuk menuju dunia orang dewasa. Namun tidak seperti kebanyakan anak-anak SMA lainnya yang menganggap bahwa masa SMA adalah masa mengeksiskan diri, cari pacar banyak-banyak, tebar pesona kepada lawan jenis dan sebagainya, kisah saya sungguh berbeda. Apalagi kalau bukan penyebabnya karena saya bersekolah di SMA khusus lelaki, alias SMA Kolese DeBritto.

Bersekolah di sekolah yang siswanya laki-laki semua memang ada suka dukanya. Dukanya memang sulit untuk mendapatkan kenalan cewek, itu pasti. Namun boleh dibilang malah, sukanya lebih banyak dari dukanya, sebab di sekolah ini saya menjadi pribadi yang lain. Terlebih karena suasana kekeluargaan yang kental sekali walaupun semua siswanya cowok. Bukan apa-apa, mungkin gara-gara semua siswanya cowok itulah maka kami semua lebih terbuka dan lebih akrab satu sama lain tanpa harus merasa jaim (jaga image), tidak pamer, dan tebar pesona yang sering terjadi saat ada lawan jenis di dekat kita. Keadaan seperti itulah yang menjadikan saya sangat menyenangi sekolah di sana, walaupun rasa kesepian terhadap ketidak adanya lawan jenis beberapa kali muncul juga.

Yang menarik di SMA ini adalah bahwa pembauran antar siswanya disebut sangat berhasil. Siswa-siswanya memang berasal dari berbagai golongan, suku, dan agama. Suku yang paling banyak adalah suku Jawa, Cina, dan Batak. Agama yang dianut memang mayoritas Katolik, namun ada juga banyak dari Kristen dan Islam. Jadi, memang cukup beragam, apalagi tidak ada sekat yang menjadi pembeda atau pemisah. Semua orang bebas bergaul dan berpendapat.

Lantas bagaimana dengan pengaturan dalam hal-hal yang sensitif, seperti misalnya Pendidikan Agama? Walaupun SMA ini menganut nilai-nilai ajaran Katolik dalam pendidikannya, namun menarik di sini adalah dihapusnya sistem Pendidikan Agama menjadi Pendidikan Religiositas. Artinya, tidak ada satu pun agama yang dominan. Siswa yang menganut baik agama Katolik, Kristen, maupun Islam, semuanya diberikan pelajaran yang sama, yang menekankan bukan kepada agamanya, namun kepada religinya. Seringkali pula diadakan semacam diskusi antar agama (walaupun hanya dalam lingkup kelas) dan kita semua masing-masing mendiskusikan nilai-nilai agama tertentu, dan satu pemahaman di sini adalah semua agama itu universal, ajarannya baik dan relevan untuk siapa saja. Satu lagi yang menarik adalah setiap kali mulai pelajaran Pendidikan Religiositas, selalu harus ada siswa yang maju (sesuai urutan presensi) untuk menyampaikan sebuah renungan yang dia bawa dari rumah, dan kemudian melakukan doa sesuai dengan keyakinan siswa yang maju tersebut. Bila siswa yang maju adalah siswa yang beragama Katolik/ Kristen, maka yang Katolik/ Kristen berdoa sesuai dengan agamanya itu, sedangkan yang Muslim berdoa dengan caranya sendiri. Nah, bila kemudian giliran yang Muslim yang harus maju menyampaikan renungan dan berdoa sesuai dengan ajarannya, maka mayoritas yang lain berdoa sesuai dengan keyakinannya.

Contohnya adalah ketika seorang teman Muslim saya, Leo, mendapatkan giliran menyampaikan renungannya, dan kemudian berdoa sesuai dengan cara Islam, maka kami semua yang Katolik dan Kristen berdoa pula dan menghormati cara doa teman saya tersebut. Nah biasanya setelah selesai berdoa itulah, terdengar tepukan keras atau aplaus dari seluruh kelas, dan biasanya ketika giliran si Leo ini, kami semua bertepuk tangan paling keras. Bukan apa-apa, namun karena itulah tanda penghormatan kami kepada keyakinannya, sebab kami semua merasa bahwa semua agama adalah sama, universal dan mengajarkan tentang kebaikan.

Itulah yang sangat saya sukai. Pengalaman mengenai penghargaan terhadap umat beragama lain sungguh sangat kental, tiada satu orang pun yang mencoba untuk menghina atau menghancurkan orang yang memiliki agama lain, karena sejatinya, jika kita menilik kepada setiap ajaran agama, semuanya mengajarkan kepada jalan Tuhan, dan walaupun ajarannya berbeda, tetapi yang diajarkan sama: kebaikan dan cinta kasih.

Saturday, March 22, 2008

Minority Problems

Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata minoritas berarti golongan sosial yang jumlah warganya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan golongan lain dalam suatu masyarakat dan karena itu didiskriminasikan oleh golongan lain.

Menurut Theodorson & Theodorson ( 1979: 258-259), kelompok minoritas [minority groups] adalah kelompok-kelompok yang diakui berdasarkan perbedaan ras, agama, atau sukubangsa, yang mengalami kerugian sebagai akibat prasangka [prejudice] atau diskriminasi istilah ini pada umumnya dipergunakan bukanlah sebuah istilah teknis, dan malahan, ia sering dipergunakan untuk menunjukan pada kategori perorangan, dari pada kelompok-kelompok.

Seringkali juga kepada kelompak mayoritas dari kelompok minoritas. Sebagai contoh, meskipun kaum wanita bukan tergolong suatu kelompok (lebih tepat kategori masyarakat), atau pun suatu minoritas yang oleh beberapa penulis sering digolongkan sebagai kelompok minoritas karena biasanya dalam masyarakat, yang berorientasi pada pria/male chauvinism, sejak zaman Nabi Adam telah didiskriminasikan sebaliknya, sekelompok orang, yang termasuk telah memperoleh hak-hak istimewa [privileged] atau tidak didiskriminasikan, tetapi tergolong minoritas secara kuantitatif, tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok minoritas. Oleh karenanya istilah minoritas tidak termasuk semua kelompok, yang berjumlah kecil, namun dominan dalam politik. Akibatnya istilah kelompok minoritas hanya ditujukan kepada mereka, yang oleh sebagian besar penduduk masyarakat dapat dijadikan obyek prasangka atau diskriminasi.


Latar Belakang
Minority problems berangkat dari kecenderungan pihak mayoritas yang menginginkan terpenuhinya segala hak-haknya, dan kecenderungan untuk ingin mempertahankan kekuasaan status quonya terhadap kaum minoritas, sehingga terkadang mereka melegalkan segala cara untuk selalu melakukan tindakan-tindakan penekanan terhadap kaum minoritas tersebut.

Tindakan-tindakan semacam ini kemudian berakibat terhadap munculnya keadaan saling curiga dan saling memusuhi, walaupun kemudian hal itu jarang dilakukan secara terang-terangan. Ada kecenderungan bahwa masalah minoritas seperti ini seperti dihindari. Orang cenderung tidak pernah ingin membahas masalah minoritas-mayoritas secara terang-terangan, dan menganggap bahwa keadaan di sekitarnya itu baik-baik saja, namun sebenarnya kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya keadaan seperti itu merupakan keadaan yang salah sama sekali.
Minoritas merupakan sebuah hal yang lumrah terjadi dalam sebuah komunitas atau negara, bahkan di Amerika Serikat yang mengklaim sebagai negara bebas pun, masalah kaum minoritas masih menjadi keprihatinan.

Hukum alam pun sudah mengatur bahwa selalu akan ada pihak-pihak yang akan menduduki posisi Omega atau akhir dalam sebuah komunitas, seperti yang terjadi dalam hierarki kelompok singa pemburu. Karena itulah minoritas seringkali merupakan sebuah kelompok atau entitas yang sangat rentan terpinggirkan dan termarjinalisasi oleh pihak mayoritas, baik secara agama, etnis, suku, ras, jenis kelamin, maupun ekonomi. Dalam demokrasi pun, kaum minoritas cenderung terpinggirkan pula sebab mereka selalu kalah dengan pihak mayoritas yang memiliki pendukung massa yang lebih banyak.

Contoh Kasus
1. Diskriminasi terhadap kaum Tionghoa yang terjadi di Indonesia pada rezim Orde Baru.
2. Diskriminasi terhadap orang kulit hitam atau negro di Amerika Serikat.
3. Diskriminasi terhadap suku Kurdi di Irak pada masa pemerintahan Saddam Husein.
4. Diskriminasi terhadap kaum perempuan di banyak bangsa yang menganut paham, terutama male chauvinism, bahwa pria lebih tinggi kedudukannya terhadap wanita.


Sumber:

1. http://72.14.235.104/search?q=cache:5J6HogkAsnsJ:www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/Diskriminasi%2520terhadap%2520minoritas%2520-%2520james%2520danandjaja.pdf+contoh+diskriminasi+minoritas&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id, page 3.


2. http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2006_09_01_archive.html


3. Kompas, Senin 10 Februari 2003. Minoritas, Keterasingan yang Menggigit