Vanessa Perroncel memang luar biasa. Orang tua tunggal mantan pacar Wayne Bridge itu berhasil meluluhlantakkan komitmen dan kesetian John Terry terhadap istrinya, Toni Poole. Walaupun kita takkan pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi, apakah Terry atau Perroncel yang pertama kali memulai, tetapi yang pasti, perbuatan sang skipper itu harus mendapatkan hukuman dengan dicopotnya ban kapten timnas Inggris dari lengannya. Rio Ferdinand pun kejatuhan durian runtuh mendapatkan ban kapten tersebut.
Terry lahir di Barking, Inggris Timur, tanggal 7 Desember 1980. Penghargaan-penghargaan sebagai seorang pemain pernah dia terima, seperti Best UEFA Champions League Defender tahun 2005 dan 2008. Dia pun kapten Inggris sejak tahun 2005 sampai 2010. Pertama kali saya tahu tentang John Terry adalah saat saya bermain Football Manager 2005. Kala itu saya mengamati bahwa dia adalah seorang pemain Chelsea, namun juga penggemar Manchester United. Dalam game, saya berhasil memboyongnya ke Old Trafford gara-gara hal tersebut. Sayang, di kenyataan, mungkin butuh keajaiban dia mau pindah dari Stamford Bridge ke Old Trafford.
Terry, sama seperti banyak pemain Inggris lainnya, mendapatkan sorotan yang lebih besar daripada pemain sepakbola dari negara lain. Apalagi sebagai seorang kapten, sorotan terhadap dirinya lebih besar lagi. Dia adalah nahkoda yang membawa permainan tim dalam pertandingan. Seorang kapten tidak boleh bermain buruk atau melakukan kesalahan sedikit pun. Dari sebelas pemain di lapangan, yang 10 lainnya boleh saja bermain seperti pemain tarkam, tapi sebagai kapten, dia harus bermain layaknya dewa. Di luar lapangan pun dia tidak boleh melakukan kesalahan. Dia harus memiliki kehidupan yang "beres". Itulah mengapa Franz Beckenbauer bisa disebut Der Kaiser karena selain kepemimpinannya di lapangan yang luar biasa, kehidupan di luar lapangan pun bagus.
Itulah yang tidak dimiliki oleh John Terry. Kepemimpinannya di lapangan tidak diragukan lagi. Dia disegani kawan maupun lawan. Banyak yang bersimpati kepadanya ketika dia gagal mengeksekusi penalti pada final Liga Champions antara Chelsea melawan MU. Tetapi kali ini, tidak banyak yang bersimpati kepadanya. Publik Inggris seakan menghakiminya, menjadikan perselingkuhannya dengan Perroncel sebagai berita utama sekaligus aib nasional karena sang kapten yang harusnya sebagai dewa, ternyata juga manusia. Tentu publik sepakbola Inggris patut kecewa dengan kelakuan sang kapten. Sebagai seorang panutan (dan seharusnya Terry tahu itu), dia tidak seharusnya melakukan hal-hal di luar norma-norma yang berlaku.
Salahkah Terry? Secara moral, mungkin dia salah. Namun jangan lupa, kadang kita memberikan standar tertentu terhadap kehidupan ini, terhadap orang lain. Jika orang lain melakukan kesalahan besar, kita akan berusaha untuk menghancurkannya. Kita akan menyalahkannya seakan-akan dia sampah. Apalagi jika dia adalah orang yang berada di atas, orang penting, atau seorang pemimpin.
Seorang pemimpin tidak boleh sama sekali melakukan kesalahan. Seorang pemimpin harus selalu melakukan hal-hal yang benar. Seorang pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi banyak orang yang dipimpinnya, harus mampu memimpin dalam kondisi apapun, kalau perlu dia harus mau berkorban, bersedia menanggung dan dihukum karena kesalahan anak buahnya. Begitulah nasib seorang pemimpin, karena untuk itulah dia disebut pemimpin.
Namun kita seakan-akan lupa bahwa kita juga adalah orang-orang dengan segala kesalahan. Bukan tidak mungkin kita juga melakukan kesalahan-kesalahan yang jauh lebih besar daripada yang John Terry lakukan.
Kita juga lupa, bahwa kita hampir selalu menarik kesimpulan tanpa melihat ke dalam diri kita sendiri. Seperti kata pepatah: Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak. Kita selalu bisa melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi melupakan realita bahwa kita juga bisa saja melakukan kesalahan yang sama, sebab mungkin kita tidak lebih baik daripadanya. Kita bisa saja berada dalam posisi John Terry sekarang, bisa saja dipersalahkan sama seperti dirinya.
Kita juga sering melupakan keberhasilan orang lain, prestasinya, atau pencapaiannya. Kita selalu membanggakan milik kita, tapi mencemooh atau mencari-cari kesalahan orang lain jika pencapaian mereka lebih daripada kita. Saat yang lalu mungkin John Terry berada di atas, dan musuh-musuhnya selalu mencari kesalahan-kesalahannya. Kini, musuh-musuhnya (termasuk pers dan media massa) melihat celah itu, dan menggunakannya sebagai jalan untuk menghancurkan Terry. Dan bisa jadi, besok ketika mungkin Inggris menjadi juara Piala Dunia 2010, orang-orang inilah yang akan pertama kali mendekatinya, memberi selamat kepadanya, seakan-akan merekalah yang paling berjasa karena kesuksesan Inggris.
Saya tidak membela John Terry, pun juga tidak membenarkan apa yang dia lakukan. Saya hanya berkata, hal yang sama mungkin saja bisa terjadi kepada kita, hal yang sama bisa saja kita lakukan. Kesalahan yang Terry perbuat bisa saja kita lakukan, bisa saja kita jatuh pada lubang yang sama dengannya, dan masih pantaskah kita menghakimi seseorang John Terry jika kita mungkin sama busuknya dengan dia?
Atau jangan-jangan, kita ini memang makhluk yang munafik...
No comments:
Post a Comment