Sang Musisi yang Menyanyikan Perdamaian
Sebuah film luar biasa mengenai perjalanan hidup John Lennon
ketika dirinya melakukan tindakan-tindakan nonviolent bersama dengan istrinya, Yoko
Ono, untuk memprotes berlangsungnya Perang Vietnam yang dilakukan Amerika
Serikat dalam menghadapi komunisme di Vietnam, yang nyatanya malah
menyengsarakan banyak rakyat tidak berdosa di Vietnam. Sekitar 1,5 juta rakyat
Vietnam tewas dan sekitar 50.000 pasukan Amerika gugur yang belum termasuk
anak-anak yang kehilangan orang tuanya[1], serta korban
tentara dari negara-negara lain yang terlibat.
Dari keadaan yang sangat memilukan ini, terjadi
protes-protes yang dilancarkan oleh masyarakat Amerika Serikat terhadap
pemerintahnya. Mereka berpendapat bahwa Perang Vietnam sama sekali di luar
nalar, sebab tidak ada landasan patriotisme dalam serbuan tersebut (di salah
satu scene ada penggambaran mengenai perbedaan Perang Vietnam yang tanpa
dipicu apapun dan dibandingkan dengan peristiwa 9/11 yang menumbuhkan
patriotisme dalam diri setiap rakyat Amerika Serikat). Hal ini menimbulkan
tuntutan agar ada penarikan pasukan dari Vietnam. Lantas munculah John Lennon.
Awalnya memang banyak yang tidak suka dengan kehadiran dirinya, terutama dari
pemerintah Amerika Serikat sendiri, yang menyoroti bagaimana mungkin seorang
warga negara Inggris ikut campur melawan kebijakan dalam negeri Amerika
Serikat. Walaupun begitu, John Lennon tidak peduli. Yang paling penting bagi
dirinya adalah, dia membela apa yang dianggapnya benar, dan hal tersebut pantas
untuk diperjuangkan.
Yang menarik dari film tersebut adalah bagaimana pandangan
John Lennon terhadap masalah perdamaian, dan bagaimana konsep melawan penguasa
yang sewenang-wenang tanpa menggunakan cara-cara keras. Dalam film tersebut,
terdapat konsep bahwa kekerasan bukan cara untuk melawan penguasa, sebab
penguasa mengerti cara menghadapinya. Tetapi bila kemudian dilawan dengan
cara-cara damai, atau bahkan cara-cara yang diluar pemikiran atau ide biasa,
maka akan menimbulkan efek yang lain, dimana cara tersebut mungkin akan lebih
efektif. Ini juga mengingat bahwa John Lennon adalah seorang sosok terkenal dan
seniman yang pasti diperhatikan oleh media massa. Daripada menggunakan
kekerasan atau provokasi, dia menggunakan media sebagai alat untuk menyampaikan
gagasannya mengenai perdamaian, dan hal ini pasti akan diikuti oleh, minimal
para penggemar fanatiknya.
Ada banyak konsep mengenai perdamaian yang diusung oleh John
Lennon, namun terutama dia menggunakan cara protes dan persuasi untuk
menyampaikan pendapatnya mengenai perang. Beberapa diantaranya adalah dengan
mengundang segenap wartawan untuk meliput bulan madu antara dia dengan Yoko
Ono, tetapi hal itu malah digunakan John Lennon untuk mengiklankan perdamaian.
Atau bisa dilihat saat dia memasang spanduk “War is Over.. if you want it...”
dan menggubah lagu dengan judul yang sama dan kemudian menciptakan pula lagu
berjudul “Give Peace a Change”, semuanya mengingatkan terhadap metode-metode
nirkekerasan oleh Gene Sharp, seperti singing, banner poster and
displayed communication, dan lain sebagainya. Namun hal utama yang tentu
saja paling bisa dilakukan oleh dirinya adalah bernyanyi dan membuat lagu. Dia
menggubah lagu dengan keputusan dan keyakinan bahwa lagu merupakan suatu cara
berkomunikasi universal yang bisa dipahami siapapun di dunia ini melewati
batasan bahasa. Simponi perdamaian inilah yang digunakan Lennon untuk melawan
perang.
Dari sini bisa ditarik sebuah garis lurus bahwa kesenian
juga bisa menjadi alat untuk menekan atau sebagai media untuk apresiasi sikap
dan pemikiran diri. Hal ini bisa dilihat pula dari pementasan monolog-monolog
Butet Kertaredjasa pada zaman Orde Baru. Sadar bahwa tidak mungkin pada zaman
itu melakukan protes secara langsung terhadap pemerintah, maka Butet
menggunakan kemampuannya sebagai seorang seniman, menggelar monolog yang
menampilkan kritik sosial terhadap pemerintah dengan resiko kecil untuk
disalahkan karena hal tersebut dengan pandai disiratkan dalam karya-karyanya.
Atau bahkan seperti lagu-lagu perlawanan Iwan Fals, terutama lagu Bento yang
mengejek secara tidak langsung terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.
Kemudian yang pasti adalah bagaimana kemudian produk
kekerasan bisa dilawan dengan perdamaian. Hal ini mengingatkan terhadap pepatah
api dilawan dengan air, maka api itu akan padam, bukan dengan cara api dilawan
dengan api, yang terjadi adalah semuanya akan terbakar habis. Kekerasan hanya
akan menghasilkan kekerasan. John Lennon memanfaatkan ketenarannya untuk terus
melawan pemerintahan Amerika Serikat. Ini menjadikan sebuah transformasi dalam
masyarakat, kebebasan berekspresi dan kekuatan civil society mulai
digunakan untuk melawan pemerintah. Kekuatan masyarakat merupakan sebuah hal
yang sangat besar. Tentu saja negara harus mendengarkan aspirasi masyarakatnya,
karena dalam proses demokrasi, hal tersebut merupakan sebuah hal yang lumrah. People
rule seharusnya berjalan dalam kasus ini, namun sayangnya tidak efektif,
apalagi dengan kenyataan bahwa Perang Vietnam berakhir akibat Nixon
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
Sedikit kritik yang bisa dialamatkan kepada usaha John
Lennon tersebut adalah kurangnya keinginan Lennon untuk membuat sebuah
revolusi. Dengan kapasitas dia sebagai seorang sosialita, seharusnya dia bisa
mengajak rakyat untuk memboikot bahkan mengintervensi pemerintahnya sendiri.
Jika saja terjadi boikot massal dan hal-hal besar lainnya, mungkin Perang
Vietnam sudah bisa disudahi dengan lebih cepat. Jika dilihat dari konsep educating
the state on nonviolent, sebenarnya perlu ditanamkan bagaimana menghadapi
sebuah pemerintahan yang keras dengan aksi nirkekerasan yang lebih nyata, lebih
bisa dan lebih cepat untuk meredakan kekerasan yang dilakukan oleh negara,
namun memang intervensi semacam ini juga harus mempertimbangkan bagaimana
potensi keberhasilannya dan apakah lebih menguntungkan bila menggunakan
intervensi, terutama jika dalam konflik bargaining position lebih lemah
atau mengandung bahaya. Ini yang mungkin menjadi pertimbangan John Lennon untuk
tidak secara frontal melawan pemerintah Amerika Serikat, namun menggunakan
keahliannya meramu musik perdamaian, cara-cara yang memang mudah dilakukan oleh
seorang musisi. Dalam hal ini, cara yang dilakukan oleh John Lennon dengan cara
yang lebih moderat diharapkan sebagai babak pembuka untuk mencoba cara-cara
nirkekerasan yang lebih efektif di kemudian hari oleh orang-orang yang berusaha
mencari perdamaian.
Namun yang patut diberikan apresiasi adalah komitmen dari
John Lennon yang dia pertahankan sampai akhir hayatnya. Perdamaian tidak akan
datang dari peperangan, tetapi dari sikap untuk mencapai perdamaian itu
sendiri, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang damai pula. Bila segalanya
dihadapi dengan damai, maka bukanlah kekerasan yang didapat (karena kekerasan
hanya akan membidani kekerasan baru), tetapi hasilnya adalah perdamaian pula
Dan yang kita perlukan untuk mencapai penyelesaian sebuah konflik seperti kata
Lennon, adalah give peace a chance...
dibuat sebagai tugas Ujian AKhir
Semester Pengantar Studi Perdamaian HI UGM 2009
G.
DANISTYA KALOKA PUTRA
HUBUNGAN
INTERNASIONAL UGM
No comments:
Post a Comment