Saturday, July 25, 2009

THE U.S vs JOHN LENNON: Resensi

Sang Musisi yang Menyanyikan Perdamaian

Sebuah film luar biasa mengenai perjalanan hidup John Lennon ketika dirinya melakukan tindakan-tindakan nonviolent bersama dengan istrinya, Yoko Ono, untuk memprotes berlangsungnya Perang Vietnam yang dilakukan Amerika Serikat dalam menghadapi komunisme di Vietnam, yang nyatanya malah menyengsarakan banyak rakyat tidak berdosa di Vietnam. Sekitar 1,5 juta rakyat Vietnam tewas dan sekitar 50.000 pasukan Amerika gugur yang belum termasuk anak-anak yang kehilangan orang tuanya[1], serta korban tentara dari negara-negara lain yang terlibat.
Dari keadaan yang sangat memilukan ini, terjadi protes-protes yang dilancarkan oleh masyarakat Amerika Serikat terhadap pemerintahnya. Mereka berpendapat bahwa Perang Vietnam sama sekali di luar nalar, sebab tidak ada landasan patriotisme dalam serbuan tersebut (di salah satu scene ada penggambaran mengenai perbedaan Perang Vietnam yang tanpa dipicu apapun dan dibandingkan dengan peristiwa 9/11 yang menumbuhkan patriotisme dalam diri setiap rakyat Amerika Serikat). Hal ini menimbulkan tuntutan agar ada penarikan pasukan dari Vietnam. Lantas munculah John Lennon. Awalnya memang banyak yang tidak suka dengan kehadiran dirinya, terutama dari pemerintah Amerika Serikat sendiri, yang menyoroti bagaimana mungkin seorang warga negara Inggris ikut campur melawan kebijakan dalam negeri Amerika Serikat. Walaupun begitu, John Lennon tidak peduli. Yang paling penting bagi dirinya adalah, dia membela apa yang dianggapnya benar, dan hal tersebut pantas untuk diperjuangkan.
Yang menarik dari film tersebut adalah bagaimana pandangan John Lennon terhadap masalah perdamaian, dan bagaimana konsep melawan penguasa yang sewenang-wenang tanpa menggunakan cara-cara keras. Dalam film tersebut, terdapat konsep bahwa kekerasan bukan cara untuk melawan penguasa, sebab penguasa mengerti cara menghadapinya. Tetapi bila kemudian dilawan dengan cara-cara damai, atau bahkan cara-cara yang diluar pemikiran atau ide biasa, maka akan menimbulkan efek yang lain, dimana cara tersebut mungkin akan lebih efektif. Ini juga mengingat bahwa John Lennon adalah seorang sosok terkenal dan seniman yang pasti diperhatikan oleh media massa. Daripada menggunakan kekerasan atau provokasi, dia menggunakan media sebagai alat untuk menyampaikan gagasannya mengenai perdamaian, dan hal ini pasti akan diikuti oleh, minimal para penggemar fanatiknya.
Ada banyak konsep mengenai perdamaian yang diusung oleh John Lennon, namun terutama dia menggunakan cara protes dan persuasi untuk menyampaikan pendapatnya mengenai perang. Beberapa diantaranya adalah dengan mengundang segenap wartawan untuk meliput bulan madu antara dia dengan Yoko Ono, tetapi hal itu malah digunakan John Lennon untuk mengiklankan perdamaian. Atau bisa dilihat saat dia memasang spanduk “War is Over.. if you want it...” dan menggubah lagu dengan judul yang sama dan kemudian menciptakan pula lagu berjudul “Give Peace a Change”, semuanya mengingatkan terhadap metode-metode nirkekerasan oleh Gene Sharp, seperti singing, banner poster and displayed communication, dan lain sebagainya. Namun hal utama yang tentu saja paling bisa dilakukan oleh dirinya adalah bernyanyi dan membuat lagu. Dia menggubah lagu dengan keputusan dan keyakinan bahwa lagu merupakan suatu cara berkomunikasi universal yang bisa dipahami siapapun di dunia ini melewati batasan bahasa. Simponi perdamaian inilah yang digunakan Lennon untuk melawan perang.
Dari sini bisa ditarik sebuah garis lurus bahwa kesenian juga bisa menjadi alat untuk menekan atau sebagai media untuk apresiasi sikap dan pemikiran diri. Hal ini bisa dilihat pula dari pementasan monolog-monolog Butet Kertaredjasa pada zaman Orde Baru. Sadar bahwa tidak mungkin pada zaman itu melakukan protes secara langsung terhadap pemerintah, maka Butet menggunakan kemampuannya sebagai seorang seniman, menggelar monolog yang menampilkan kritik sosial terhadap pemerintah dengan resiko kecil untuk disalahkan karena hal tersebut dengan pandai disiratkan dalam karya-karyanya. Atau bahkan seperti lagu-lagu perlawanan Iwan Fals, terutama lagu Bento yang mengejek secara tidak langsung terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.
Kemudian yang pasti adalah bagaimana kemudian produk kekerasan bisa dilawan dengan perdamaian. Hal ini mengingatkan terhadap pepatah api dilawan dengan air, maka api itu akan padam, bukan dengan cara api dilawan dengan api, yang terjadi adalah semuanya akan terbakar habis. Kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan. John Lennon memanfaatkan ketenarannya untuk terus melawan pemerintahan Amerika Serikat. Ini menjadikan sebuah transformasi dalam masyarakat, kebebasan berekspresi dan kekuatan civil society mulai digunakan untuk melawan pemerintah. Kekuatan masyarakat merupakan sebuah hal yang sangat besar. Tentu saja negara harus mendengarkan aspirasi masyarakatnya, karena dalam proses demokrasi, hal tersebut merupakan sebuah hal yang lumrah. People rule seharusnya berjalan dalam kasus ini, namun sayangnya tidak efektif, apalagi dengan kenyataan bahwa Perang Vietnam berakhir akibat Nixon mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
Sedikit kritik yang bisa dialamatkan kepada usaha John Lennon tersebut adalah kurangnya keinginan Lennon untuk membuat sebuah revolusi. Dengan kapasitas dia sebagai seorang sosialita, seharusnya dia bisa mengajak rakyat untuk memboikot bahkan mengintervensi pemerintahnya sendiri. Jika saja terjadi boikot massal dan hal-hal besar lainnya, mungkin Perang Vietnam sudah bisa disudahi dengan lebih cepat. Jika dilihat dari konsep educating the state on nonviolent, sebenarnya perlu ditanamkan bagaimana menghadapi sebuah pemerintahan yang keras dengan aksi nirkekerasan yang lebih nyata, lebih bisa dan lebih cepat untuk meredakan kekerasan yang dilakukan oleh negara, namun memang intervensi semacam ini juga harus mempertimbangkan bagaimana potensi keberhasilannya dan apakah lebih menguntungkan bila menggunakan intervensi, terutama jika dalam konflik bargaining position lebih lemah atau mengandung bahaya. Ini yang mungkin menjadi pertimbangan John Lennon untuk tidak secara frontal melawan pemerintah Amerika Serikat, namun menggunakan keahliannya meramu musik perdamaian, cara-cara yang memang mudah dilakukan oleh seorang musisi. Dalam hal ini, cara yang dilakukan oleh John Lennon dengan cara yang lebih moderat diharapkan sebagai babak pembuka untuk mencoba cara-cara nirkekerasan yang lebih efektif di kemudian hari oleh orang-orang yang berusaha mencari perdamaian.
Namun yang patut diberikan apresiasi adalah komitmen dari John Lennon yang dia pertahankan sampai akhir hayatnya. Perdamaian tidak akan datang dari peperangan, tetapi dari sikap untuk mencapai perdamaian itu sendiri, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang damai pula. Bila segalanya dihadapi dengan damai, maka bukanlah kekerasan yang didapat (karena kekerasan hanya akan membidani kekerasan baru), tetapi hasilnya adalah perdamaian pula Dan yang kita perlukan untuk mencapai penyelesaian sebuah konflik seperti kata Lennon, adalah give peace a chance...

dibuat sebagai tugas Ujian AKhir Semester Pengantar Studi Perdamaian HI UGM 2009
G. DANISTYA KALOKA PUTRA
HUBUNGAN INTERNASIONAL UGM

No comments: