Sunday, November 23, 2014

Sebuah Pembicaraan Kehidupan

Suatu ketika saya bertemu dengan orang ini. Dia masih muda, sangat jenius, dan telah memikul tanggung jawab besar dalam sebuah perusahaan multinasional terbesar di Indonesia. Walaupun selalu terlihat serius, tetapi dia masih suka becanda, bahkan dia selalu menggunakan saya sebagai obyek candaannya. Mulai dari jodoh, pacar, patah hati, hingga pernikahan. Ini mungkin karena topik tersebut adalah yang paling mudah distempelkan ke saya, karena toh waktu itu saya belum memiliki pasangan dan belum menikah (walaupun sekarang juga belum).

Topik tersebut adalah topik paling panas yang saya hadapi. Bukannya membalas dengan argumen-argumen, saya kadang tak mampu menemukan celah untuk membalasnya. Ya sudah, pasrah saja. Lagipula saya juga belum berkeinginan untuk berkeluarga dalam waktu itu.

Nah, suatu ketika saya berbincang-bincang dengan beliau. Hal yang kami bahas saat itu adalah masa depan dan harapan di kemudian hari bagi saya. Jujur itu adalah salah satu momen ketika saya tidak kuasa untuk curhat tentang kehidupan saya kepadanya, dan hasilnya adalah kami sama-sama terdiam dalam obrolan kami. Tak perlu lah saya mengungkapkan detail keseluruhan obrolan kami. Mungkin hanya kami berdua dan Tuhan yang tahu akan hal itu.

Tetapi dalam suatu obrolan, dia masih saja mengangkat isu mengenai pernikahan (astaga, apakah saya setua itu dan sedesperate over 99999999 ya?). Tapi apa yang saya dengar darinya mungkin bisa disejajarkan dengan nasihat seorang yang telah tua dan memiliki segudang pengalaman hidup seperti kedua orang tua saya. Dia berkata, "Jika kamu ingin mencari seorang wanita untuk kamu nikahi, carilah wanita yang minimal bisa nyetir (bukan nyinyir).

Saya bingung, jujur apa hubungannya? Dia kemudian menjelaskannya dengan satu kata lagi, "Karena wanita yang bisa nyetir mobil sendiri adalah wanita yang mandiri."

Saya mulai paham dengan hal ini. Ya, wanita mandiri adalah orang yang tidak pernah akan merepotkan suaminya. Jika dia mau kemana-mana, baik dalam mengurusi anak maupun hal-hal lainnya, wanita seperti itu tidak membutuhkan banyak bantuan dari suaminya, sehingga suaminya bisa membangun karirnya tanpa diributkan dengan urusan-urusan kecil seperti menemani istrinya nyalon.

Dia mengatakan bahwa itu hanya salah satu faktor saja, dan mengatakan bahwa salah satu faktor itu bisa dilihat dari kesuksesan seorang pria yang menjadi manager di suatu perusahaan. "Oke, mungkin tidak semua istri seorang manager itu bisa menyetir, tapi mereka pasti adalah wanita-wanita mandiri yang bisa mendukung karir suaminya. Lihat saja karir seorang lelaki yang istrinya sangat bergantung kepada suaminya, bisa dibilang sebagian mungkin akan mandek, dan sebagian lagi yang berhasil pasti akan mengalami stres karena dia harus membagi antara kantor dan rumah. Stres seorang laki-laki jauh lebih berbahaya karena akan menimbulkan bara dalam sekam perkawinan, yang akan berakibat buruk dalam rumah tangga."

Dia juga menyoroti bagaimana seorang wanita yang mandiri dan bisa menjaga perasaan suaminya tanpa mengumbar moodnya akan mampu menjaga keutuhan keharmonisan keluarganya. "Kuncinya di wanitanya, tak baik sama sekali jika seorang wanita merecoki terus suaminya, walaupun sang istri bekerja sekalipun, dia harus tahu bahwa apapun yang terjadi, apapun masalahnya, dia harus bisa mencoba untuk mengatasinya sendiri. Setelah pernikahan, walaupun hidup bersama, kamu masih punya hidupmu sendiri, begitu juga dengan istrimu." Saat dia mengatakan hal terakhir ini, mungkin dia lupa bahwa saya belum beristri hahaha...

Tapi perenungan ini menjadi lebih besar lagi. Seorang istri yang bisa menyimpan air matanya untuk dirinya sendiri mungkin sudah saat jarang ditemukan dalam masa sekarang. Sedikit-sedikit bila ingin mengeluh, upload saja di FB, Twitter, atau Path. Atau curahkan keluhan itu pada waktu yang tidak tepat kepada suaminya. Jarang sekali, bahkan ketika saya melihat teman-teman saya yang masih berpacaran, konteks kegalauan hidup seorang wanita yang diam tak bersuara ketika dia sedang dalam permasalahan dimunculkan. Nah, yang pasangan minoritas anti galau ini yang kemudian langgeng dan kebanyakan berujung kepada pernikahan, bukan yang sering mengumbar kegalauan dan ketidakpuasan hubungannya kepada khalayak.

Permasalahannya, mencari wanita mandiri itu ibarat pusingnya setengah mati. Ada tipe wanita yang memang sifatnya mandiri dan ada juga yang terpaksa mandiri. Yang memang sifatnya mandiri inilah yang agak jarang ditemukan, karena kebanyakan dalam observasi saya, mereka dipaksa mandiri. Beberapa orang teman wanita saya yang sudah menikah maupun yang sudah ngebet untuk menikah masuk di kategori ini. Mereka pikir dengan pernikahan, beban hidup mereka tercabut. Aku kan perempuan, harus ngikut suami, begitu kata mereka. Inilah yang saya sebut wanita yang dipaksa mandiri, karena pada akhirnya pula, secara tidak sadar walaupun mereka merasa mandjri dengan hidupnya, mereka sebenarnya sangat bergantung kepada suaminya.

Kata ibu saya dulu, wanita itu walaupun lebih tua dari laki-lakinya, ingin selalu dimanja, namun proporsinya harus jelas, mereka harus mampu menakar kemanjaannya itu agar tidak memberatkan pasangannya. Itulah mengapa banyak sekali pria dewasa ini yang lebih tertarik dengan wanita usia matang daripada wanita usia nanggung untuk dinikahi karena wanita-wanita inilah yang bisa mandiri dalam pernikahannya.

Di akhir sesi diskusi dan curhat kami, dia juga menitipkan pesan kepada saya, "Berhati-hatilah dalam memilih pasangan hidup. Tak perlu buru-buru dan dalamilah segala kemungkinan sampai pada saat yang tepat, orang itu datang dalam hidup kamu."

Saya mengangguk setuju dengannya, walaupun pada satu sudut dalam otak saya ini, kebingungan melanda saya. "Buset, kalau gini caranya, bakalan lama lagi aku nikahnya."

Tapi ya sudahlah, tulisan seperti ini tidak lagi menjadi penting jika takdir Tuhan yang memutuskan. Ah, apalah arti sebuah takdir...

KEDOYA, 23 November 2014

No comments: