Monday, December 30, 2024

Mengenang Cinta...

Tidak ada sesuatu yang pas untuk mendefinisikan apa itu cinta. Banyak definisi, tetapi menurut saya, tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskannya. Mungkin cinta bisa saya didefinisikan secara sederhana sebagai perasaan yang muncul karena reaksi kimiawi tubuh menyebabkan perbedaan hormonal yang berujung kepada perasaan yang semakin lama semakin menguat yang membuat perilaku seseorang menjadi berbeda dari biasanya. kondisi paling parah adalah ketika orang itu mengalami kondisi kegilaan yang didahului dengan obsesi, dan membuat orang tersebut melakukan tindakan yang tidak rasional.

Hebatnya lagi, keajaiban cinta dirayakan secara khusus. Sejak tahun 496 Masehi, ketika Paus Gelasius I menetapkan bahwa tanggal 14 Februari adalah pesta Santo Valentine, sejak saat itulah muncul tradisi untuk saling bertukar bingkisan, bunga, atau kartu ucapan untuk menunjukkan ekspresi cinta antar kekasih, atau antara anak dan orang tuanya, dan sebagainya. Hanya saja, dalam perkembangannya, momen yang sebenarnya digunakan untuk merayakan cinta kasih ini, tidak mendapatkan dukungan dari segala pihak. Di India misalnya, kelompok Hindu fundamentalis Shiv Sena akan melakukan sweeping terhadap pasangan yang kedapatan berduaan atau sekedar bergandengan tangan, dan kemudian menikahkan mereka di tempat. Di Arab Saudi, dengan anggapan bahwa hal itu adalah perayaan Kristiani, pemerintah Saudi melarang penjualan benda-benda yang melambangkan perayaan Valentine. Di Pakistan juga sama, dengan anggapan Valentine adalah "a shameful day. The people in the West are just fulfilling and satisfying their sex thirst". (en.wikipedia.org/wiki/Valentine's_Day) Valentine's Day pun dikotori oleh peristiwa pembantaian oleh anggota geng Al Capone terhadap 5 orang anggota geng Bugs Moran dan 2 non-anggota di 2122 North Clark Street, Lincoln Park, Chicago (en.wikipedia.org/wiki/Saint_Valentine's_Day_massacre). Peristiwa yang lebih dikenal sebagai Black Valentine itu merupakan peristiwa berdarah paling diingat sepanjang masa, karena bukan saja kekejaman yang terjadi di dalamnya, namun juga karena kejadiannya bertepatan dengan hari Valentine tersebut.

Cinta memang menjadi sebuah hal yang aneh untuk dibicarakan, bahkan dinyanyikan. Kebanyakan lagu-lagu yang beredar di masyarakat, baik itu lagu Indonesia maupun lagu-lagu mancanegara, semuanya berbicara mengenai cinta. Banyak juga novel-novel, karya sastra, puisi, dan sebagainya berbicara mengenai cinta. Begitu berartinya cinta dalam hidup manusia?

Mungkin saja. Mungkin tidak ada hal sekuat cinta yang bisa dialami oleh manusia. Cinta mungkin mengatasi kejahatan dan kebatilan. Lord Voldemort takluk karena cinta ibu Harry Potter melindunginya dari Kutukan Maut. Sailor Moon pun selalu berteriak lantang sebelum menghadapi lawan-lawannya,"Demi cinta dan keadilan, Sailor Moon!" Bahkan Ti Pat Kai pun selalu mengulang kata-kata yang sama,"Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir." menunjukkan bagaimana berartinya (atau dalam kasus Pat Kai, "beratnya") cinta itu jika dirasakan oleh manusia.

Kisah-kisah cinta klasik pun sebenarnya menunjukkan bahwa cinta bisa merubah jalur hidup seseorang. Taruhlah seperti yang dilakukan oleh Romeo dan Juliet. Demi cintanya, mereka rela untuk melakukan apa saja untuk bersatu. Sayang, tragedi memisahkan mereka. Jika saja Romeo tidak menenggak racun yang membuat Juliet mengakhiri hidupnya dengan menusuk dadanya dengan pisau, bisa jadi persatuan cinta keduanya akan membuat perseteruan antara Montague dan Capulet berakhir. Cinta yang terburu-buru, tidak rasional, dan penuh emosi malah akan berbalik dan menyengsarakan orang yang mengalaminya.

Banyak kejadian yang sama dengan Romeo dan Juliet. Karena perbedaan-perbedaan tertentu, cinta yang seharusnya bisa menjadi persatuan antara dua orang, malah menjadi masalah. Entah itu perbedaan kelompok, atau perbedaan agama, atau suku, atau apapun itu. Dan terkadang penyelesaiannya tidak rasional. Saya jadi teringat kisah nyata yang saya baca di Majalah Femina bertahun-tahun lalu mengenai dua orang pasangan yang menenggak racun karena tidak direstui orang tuanya. Tentu kita tidak pernah menginginkan hal yang sama terjadi, tetapi tidak ada yang pernah tahu, karena sekali lagi, cinta itu ajaib. Dia mampu memaksa manusia bertindak tidak rasional, karena manusia yang sedang dimabuk asmara, bahkan hal yang tidak rasional sekalipun mereka anggap rasional. For love, we'll do anything...

Masih banyak yang bisa dilakukan untuk mengenang cinta, termasuk dengan merayakan hari Valentine. Namun jangan lupa juga, dibalik kegembiraan cinta, mengintai dari sudut gelap, kesakitan dan ketakutan, kegalauan dan kegundahan. Seperti kata pepatah: Cinta adalah perangkap, ketika ia datang kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya....

Selamat Valentine bagi Anda yang merayakannya.

Tuesday, June 21, 2016

Cerita-cerita Mengenai Orang-Orang

Keseharian saya adalah bersama dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Mereka sungguh tidak pernah terbayangkan akan berada dalam kehidupan saya. Ini menarik, sebab saya datang dari sebuah rona kehidupan yang berbeda dari yang sudah saya lakukan sekarang.

Saya datang dari sebuah kota new metropolitan yang semakin terkenal karena media sosial dan sebuah film mengenai gagal move on-nya dua orang insan yang telah 14 tahun (atau 9 tahun?) tidak bertemu. Kehidupan sangat jauh berbeda dengan di sini. Tetapi yang paling penting adalah satu hal yang sama sekali berbeda adalah ketika saya berada di kota kelahiran saya, saya bahkan tidak ingat pernah berurusan dengan hati dan pemikiran orang kebanyakan.

Berbeda ketika saya menginjakkan kaki di Jakarta. Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa saya akan bergulat dengan keseharian dari orang-orang yang mungkin akan terlupakan dalam peta zaman. Mereka yang menyambung hidup dengan sebagian besar dari mereka tak pernah menginjakkan kaki maupun merasakan dinginnya terpaan AC kantor, meja yang penuh dengan berkas, laptop mentereng yang bisa mengkalkulasikan rumus Excel tanpa hang, tak pernah merasakan sepiring udon yang dimakan bersama dengan sashimi di sebuah restoran mahal yang biasanya penuh dengan eksekutif muda atau karyawan bulanan ketika tiba hari gajian. Mereka orang yang bertahan hidup dengan caranya dan juga kisahnya sendiri.

Kisah-kisah mereka begitu kompleksnya, sampai heran bahwa saya (yang kata salah satu teman mendefinisikan tentang saya, Introvert) bisa menjalin hubungan dengan banyak orang.

All I can do is just listen. Ketika kamu mendengarkan, kamu akan mengerti banyak hal.
Di balik gedung-gedung mentereng Jakarta, di sanalah terdapat, bukan sekedar angka-angka dalam data Badan Pusat Statistik, kehidupan yang mungkin jauh dari kegemilangan bagi orang-orang yang mendambakan kehidupan tanpa cela dan karir mentereng. Terdapat banyak faktor, masalah, dan kondisi sosial yang kompleks, yang anehnya hanya dihitung sebagai angka ketika jatuh Pemilu. Karakter-karakter manusia-manusia yang berbeda dan kadang membuat miris. Kisah-kisah mereka sungguh, apabila engkau mau mendengarkan dengan seksama, bukan tidak mungkin bisa tercipta ratusan novel yang bisa disejajarkan dengan tulisan Edgar Alan Poe, Allan De Botton, atau paling tidak NH Dini.

The real world is out there if you want to listen.

Seorang kakek tua yang bekerja dengan tubuh rentanya, siang malam, demi menyekolahkan anaknya di sebuah universitas di pusat kota. Sang anak yang harus menempuh empat kali berganti bus kota hanya untuk sampai tujuan.

Seorang ibu-ibu setengah baya yang berangkat dari salah satu kota di Jawa Tengah, yang selalu bersikukuh dia memiliki suami ketika semua orang bergosip dia adalah seorang janda.

Seorang wanita yang harus tidur di dalam bilik sempit warung hanya demi menghidupi seorang putrinya di kampung.

Seorang wanita yang begitu menyesal telah membuat penderitaan bagi suaminya karena kenakalannya, di saat sang suami begitu tabah mendampinginya dikala kemudian dunianya runtuh saat sang suami didiagnosa mengalami penyakit yang susah disembuhkan.

Sepasang suami istri yang demi mendapatkan penghasilan untuk pulang kampung menengok anaknya yang masih kecil, tetap bekerja walaupun banjir merendam separuh tokonya.

Seorang wanita yang sangat tangguh dan bertekad untuk menghidupi anak-anaknya tanpa pernah mengucapkan kata cerai di saat dia tahu bahwa suaminya dulu menggunakan ilmu hitam untuk membuat dirinya mau dinikahi, di saat pacarnya ketika masa mudanya dulu ingin meminangnya dan ditolaknya.

Sepasang suami istri yang setelah bertahun-tahun belum juga memiliki anak. Setiap kali ada anak kecil datang ke warung mereka, mereka begitu gembira di saat sebenarnya mereka bersedih karena melihat kebahagiaan kecil itu bukanlah milik mereka.

Seorang wanita tangguh yang memutuskan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan usaha ayahnya, yang membawa anaknya meninggalkan suaminya di negeri di seberang lautan sana. Dia memutuskan untuk tidak pernah menceritakan apapun mengenai masalah yang telah dia alami di sana kepada siapapun, termasuk orang tuanya, dan bagaimana orang tuanya masih tetap menerima buah hatinya itu dengan lapang dada.

Sepasang suami istri yang membangun usahanya hingga berhasil, namun sebuah musibah kebakaran merenggut semuanya. Dengan keteguhan mereka tidak menyerah, dan memutuskan untuk membangun semuanya lagi mulai dari nol.

Seorang mahasiswa yang demi uang kuliahnya, terpaksa menjadi simpanan seorang istri pejabat. Ia tidak bisa melarikan diri dari hidupnya tersebut, karena ketika dia mencoba, dia selalu ditemukan.

Seorang ibu yang dengan gigihnya, demi biaya membangun rumahnya di kampung dan demi sekolah anaknya, rela untuk bekerja tanpa kenal waktu sampai tidak mampu menyediakan waktu untuk sekedar meluangkan waktu demi kesenangannya.

Seorang bapak yang karena keadaannya, rela tinggal di dekat tempat pembuangan sampah, hanya demi menghidupi keluarganya.

Seorang ibu yang harus tinggal di perkampungan kumuh, dan selalu mengeluh ketika orang “mengutang” barang dagangannya, kemudian kabur tanpa jelas rimbanya, tetapi dia tidak punya banyak pilihan untuk menghadapinya.

Sebuah keluarga yang tidak mampu membayar uang kontrakan, terpaksa harus angkat kaki untuk pindah ke kontrakan di sebuah pemukiman kumuh yang jauh lebih murah sewanya di saat sang anak yang masih sekolah dasar merengek meminta uang sekolah.

Seorang bapak yang tergiur dengan bisnis batu akik yang sedang booming, menggadaikan sepeda motornya untuk modal usaha, dan mendapati dia kesulitan untuk membayar kontrakan ketika bisnis tersebut ternyata hanya sekejap saja hadir.

Beberapa keluarga yang cemas menanti kabar mengenai penggusuran yang akan dilakukan oleh pemerintah, dan yang tidak tahu mau kemana mereka setelah ini.

Di luar sana, itulah keajaiban dan penderitaan kehidupan. Kehidupan yang kadang jika kita tahu, mungkin akan bergidik mendengarnya. Kehidupan yang mungkin Anda pikir mustahil untuk terjadi. Kehidupan yang mungkin bisa juga terjadi kepada Anda atau Anda bisa belajar daripadanya. Dibalik gorden lampu-lampu jalanan yang gemerlapan, dibalik sangkakala bunyi klakson kendaraan yang lalu-lalang, itulah mereka. Itulah kita. All you need is just listen.



NB: List ini masih panjang, dan mungkin tidak bisa saya jabarkan karena saking banyaknya. Namun ketika saya menyusun list ini, saya mengabaikan beberapa kisah, karena saya tahu, kisah-kisah itu lebih baik saya simpan sendiri tanpa perlu dituliskan.


Kedoya 21/6/2016

Friday, June 17, 2016

Surat Untuk Anakku

Hei kamu, yang kelak akan aku cintai seumur hidupku.

Mungkin kamu akan bertanya-tanya mengapa Ayah menuliskan surat ini.

Kau belum lahir ketika tangan ini menekan tuts keyboard laptop Ayah, yang bagimu di masa depan hanya akan menjadi byte-byte usang termakan zaman.

Dan saat ini pun Ayah belum memikirkan kapan tepatnya Ayah akan berasyik-masyuk dengan Ibumu untuk berbagi keajaiban yang akan menjelma menjadi dirimu kelak.

Mungkin wanita yang bersama Ayah kini pun bukan Ibumu kelak. Mungkin juga dialah Ibumu. Tiada yang tahu apapun yang akan terjadi bahkan satu jam setelah Ayah menyelesaikan tulisan ini. Mungkin wanita itu akan berkata “Ya” ketika dia aku yakinkan untuk menikahiku. Atau bahkan “Tidak”, yang berarti dia belum tentu pula akan menjadi Ibumu. Ayah sama sekali tidak akan tahu siapa Ibumu. Tetapi jika kelak seorang wanita itu yang kemudian melahirkanmu ke dunia ini, bagi Ayah dia adalah sebuah keniscayaan hidup. Sebuah paradox paling indah yang akan Ayah temui di dunia ini selain dirimu.

Hei anakku, jika kamu sudah mengerti kelak apa yang Ayah tulis ini, biarkanlah hatimu yang menuntun pikiran dan rasamu. Mungkin bagimu kelak Ayah hanyalah seorang manusia usang yang terlahir di akhir dekade 80-an, yang terjebak mendengarkan musik-musik yang dimainkan oleh para hippies anti Perang Vietnam, musik-musik kuno dari zaman yang bahkan Ayah pun tak akan pernah hirup kepekatan oksigennya, menonton film-film aneh seperti Birdman, The Dark Knight, film mengenai gagal move on nya Cinta dari Rangga, mengapa Ayah suka dengan novel-novelnya Michael Chrichton, atau terkesima ketika membaca Orwell dan Alan Moore, bersumpah serapah ketika dibohongi oleh Hideaki Anno dengan Evangelion-nya, dan mungkin pula engkau bertanya-tanya mengapa Ayah masih suka dengan komik lama mengenai seorang reporter berjambul dan anjing putihnya dari Belgia yang berpetualang mengelilingi dunia (Hey, paling tidak reporter Belgia itu sudah pernah menjejakkan kakinya di Indonesia, walaupun Ayah ragu apakah nantinya engkau tahu dimanakah Bandara Kemayoran itu berada). Bertanyalah, dan Ayah akan menjawabnya.

Ayah tahu, zaman kita berbeda. Ayah hidup dalam banyak fase kehidupan. Mulai dari bermain benthik di lapangan, mandi di sungai, mengajari berenang anjing kesayangan Ayah, Bingo, di sungai dekat bendungan, membantu bulikmu yang terjeblos ke dalam lumpur sawah bersama dengan temannya yang cantik yang kemudian Ayah sempat pacari. Hahaha.

Pernah juga Ayah merasakan dimarahi Mbah buyutmu karena memperagakan gaya jari “metal” ketika pada zaman itu hanya pohon beringinlah yang patut disembah. Atau bahkan ketika dengan deg-degan di depan televisi melihat seorang mahasiswa merangkak di dalam parit menghindari terjangan peluru hanya untuk melihat Pak Harto mengumandangkan kata, “Saya berhenti.”

Ayah membaca banyak hal. Tulisan-tulisan dan novel-novel bagus. Mungkin tidak sebagus teman-teman Ayah yang bisa membedakan tulisan Derrida dan Hemmingway. Kesukaan Ayah di waktu sore hari ketika banyak kartun disetel di televisi, menikmati Mario Bros sampai Winning Eleven, atau bahkan ketika suatu saat tidak sengaja memainkan Bioshock Infinite tanpa henti selama seminggu. Ah, pada masamu kelak engkau akan tertawa memainkan itu semua.

Mungkin pula engkau akan menganggap Ayah seorang yang sangat kuno bahkan dalam modernnya zaman Ayah saat ini. Bayangkan, dikala semua anak muda dan teman-teman Ayah menggunakan kartu kredit, Ayah bahkan sampai menolak puluhan penawaran asyik untuk dapat diskon 20% di restorant A, atau diskon 10% untuk membeli di online shop B. Dikala di zamanmu engkau pasti sudah memakai sesuatu yang jauh lebih hebat dari sekedar kartu kredit, mungkin engkau akan berpikir bahwa Ayah benar-benar aneh pada zamannya.

Yang ingin Ayah sampaikan sebenarnya simple. Ayah ingin kamu menjadi dirimu sendiri. Nikmatilah zamanmu. Zaman Ayah sudah akan berlalu ketika engkau nanti hidup, tetapi tidak serta-merta menghilang dari hidupmu. Bentuknya mungkin bukan lagi serupa yang Ayah rasakan dulu, tetapi dia akan menjelma dalam diri Ayahmu itu sendiri.

Ayah mungkin akan sering mengguruimu. Bukan karena Ayah pintar, atau jauh lebih berpengalaman dari dirimu. Tantanganmu pasti akan berbeda dengan tantangan di zaman Ayah. Mungkin wejangan Ayah akan menjadi sangat usang di zamanmu. Kamu tinggal pilihlah yang terbaik untuk dirimu. Walau begitu, kadang engkau membutuhkan opsi dan pandangan yang berbeda. Janganlah engkau menutup diri dari pendapat yang berbeda. Dengarkanlah, dan melangkahlah mantap dengan keputusanmu sendiri.

Pilihan itu adalah tanggung jawab hidupmu. Datanglah jika kamu memerlukan bantuan, tetapi sebelum engkau malas untuk menyelesaikan permasalahanmu sendiri, berusahalah terlebih dahulu. Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu dikala engkau membutuhkanku.

Ayah ingin selalu membuatmu bahagia. Sebagai orang tua, mana ada yang bisa tahan melihat anaknya menderita. Engkau akan menjadi bagian dari hidupku, separuh hidupku, sebuah cinta yang mungkin kelak akan engkau perbandingkan dengan ibumu. Tetapi aku berkata kepadamu, kadang penderitaan dan kebahagiaan itu bagaikan sebuah uang kertas, saling membelakangi bertolak belakang. Tidak ada yang abadi. Tetapi bukankah dua sisi mata uang itulah yang bisa membeli benda yang engkau sukai, atau membantu orang yang membutuhkan? Tanpa itu, dia hanya kertas saja. Tidak lebih.

Anakku, kelak engkau akan mengerti pentingnya menjadi dirimu sendiri. Dikala semua orang berkata “Ya” sedangkan hatimu berkata “Tidak”, ikutilah tidak hanya hatimu saja, tetapi juga otakmu. Pakailah keduanya untuk menentukan langkahmu. Pilihlah langkahmu dengan kesadaran tertinggi bahwa engkau tidak hanya dipandu oleh logika, tetapi juga oleh rasa. Bangunlah kepercayaan dirimu darinya. Engkau boleh idealis atau mengikuti arus asalkan kamu tidak merugikan orang lain. Jangan pernah menyesali keputusan yang engkau buat setelah kamu ucapkan.

Ah, tampaknya Ayah sudah mulai mengguruimu. Maafkan Ayah ya Nak. :)

Anakku, Ayah mencintaimu. Maafkan Ayah bila kelak kamu merasa Ayah menyakitimu, atau pun membuatmu tidak bahagia. Menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup. Semoga di sela waktumu yang padat itu kamu akan ingat kepada Ayah dan Ibumu, berkunjung tiap waktu ketika kamu tidak terlalu sibuk, memeluk Ayah dan Ibumu yang makin lama makin beruban, atau hanya dengan satu telepon di senja hari yang sibuk.

Bahagia Ayah itu sederhana. Semoga engkau tidak terlambat untuk menyadarinya.





Kedoya. 16/6/2016